
Sesuai kesepakatan Hanan hari ini berada di rumah Yasmin, apalagi hari ini ada kerja bakti dilingkungan RT nya, seperti biasa Hanan juga selalu berdedikasi dengan lingkungan tempat tinggalnya tentu tak mau ketinggalan momen itu, selain sebagai ajang silaturahmi antar tetangga, gotong royong juga kesempatan untuk bisa ngobrol lebih akrab dan juga trnu kangen warga yang jarang kumpul dikarenakan kesibukan masing masing.
Drett
Drett
Drettt
Ponsel Hanan berdering, tertera Nama " Mama", Disana, Hananpun sedikit menjauh dari kerumunan warga yang membersihkan selokan, taman dan juga jalan.
" Hallo", Sapa Hanan lirih, meski sudah ahak jauh dari orang orang Hanan tetap berbicara pelan.
" Hik hik huaaaa..... Pak, cepat kesini, ada rumah mama mau disita hij pak.... huaaaa", Terdenfar jeritan Dewi yang panik dan merasa diujing telpon sana.
" Hah!!! Apa??? Rumah apa, yang mana???", Tanya Hanan terkejut.
" Ya rumah mama pak! Memang mana lagi, ya rumah yang kita tempati hijs hiks bapak cepetan kesini...", Dewi menjerit gusar.
" Ya udah ya udah bapak kesitu sekarang!", kemudian hanan menitup telpon dari Dewi dengan perasaan penuh tanda tanya.
Hananpun tanpa pamit terhadap warga dia beringsut meninggalkan taman dan pulang kerumah untuk ganti baju dan pergi ke rumah Dewi.
Sepanjang jalan hatinya bertanya tanya, kok bisa, kok sampai disita, memang Dewi bermain sama hutang piutang, gadai menggadaikan, jamin menjaminkan surat rumah, waduuhh.... berani sekali nyalinya, dalam benak Hanan.
Istri mudanya ini memang luar biasa, dalam hidup Hanan belum pernah mengalami meminjam ke bank, apa lagi orang tuanya dulu, meski hidup pas pasan tetapi tidak sembarang untuk berhutang, sedang dirinya selalu wanti wanti dengan Yasmin jangan pernah hutang meskipun sama tetangga, begitu selalu titahnya, kok kecolongan dengan Dewi, ya meskipun rumah itu bukan rumahnya, tapi kan repot jika begini, gumam Hanan sepanjang jalan, pikirannya kacau.
Sesampainya Hsnan di rumah Dewi, Dewi dan kedua anaknya tengah menangis dan sofa yang di ruang tamu pun dikeluarkan oleh dua orang lelaki yang bertampang sangar.
" Ada apa ini?", Tanya Hanan pada dua tampang sangar itu.
__ADS_1
" Ibu itu sudah menggadaikan sertifikat rumah ini di Bank ***** , seharusnya cicilannya tidak boleh telat tetapi sudah tiga bulan ini ibu itu tidak membayar cicilannya", Jelas dari salah satu orang tersebut.
" Mohon waktunya pak, dua hari ya, kami akan cari kontrakan dulu, kasihan pak anak anak kami, masih kecil jika tidak ada tempat untuk berteduh", Ujar Hanan memelas.
" Oh, tidak bisa! Ini sudah peringatan terakhir, ibu ini terus berkelit", Jawab orang yang satu lagi sengit
" Mohon pengertiannya pak, pakk.... kasihan anak anak ini, biarkan kami cari kontrakan dulu untuk pindah", Hanan benar benar memohon, untuk pertama dalam hidupnya mengemis belas kasih orang, ini pengalaman pertama di hidup Hanan menghadapi depkolektor.
" Apa jaminannya?", Tanya orang yang satunya dengan wajah galak.
" Terus terang ini sangat mengagetkan untuk saya pak, saya tidak tahu menahu jika istri saya telah menggadaikan sertifikat rumah ini, saya tidak bisa memberikajaminan apapun tetapi saya menjamin jika ucapan saya bisa dipercaya, tetapi saya ingin tahu berapa hutang istri saya?", Tanya Hanan penasaran.
" Sebetulnya istri bapak hutang ditempat kamitidak besar hanya sekitar 25 juta, dan sudah dicicil selama 7 kali, seharusnya istri bapak mencicil setiap bulannya 3,3 juta dan seharusnya jika mulus dua bulan lagi sudah lunas, karena menunggak tiga bulan maka jika mau dilanjutkan cicilannya maka yang harus dibayarkan adalah sepuluh juta sembilan ratus ribu atau sekitar sebelas juta beserta bunga", Jawab seorang penagih itu.
Hanan manggut manggut, " Beri saya waktu dua hari dan kembali kesini, untuk ambil cicilannya", Jawab Hanan yakin.
Hanan dan Dewi mengangguk anggukan kepala tak ada jawaban lagi selain isyarat anggukan itu, dan kedua depkolektor itupun pergi meninggalkan rumahyang berada didalam gang yang sudah dipenuhi para tetangga untuk melihat lebih dekat kejadian itu.
Malu, tentu Hanan sangat malu, ditagih hutang, hal yang tabu dalam hidupnya, meskipunbukan orang mampu tetapi bagi Hanan tidak ada tradisi hutang, lebih baik makan seadanya asal tidak terjerat hutang, begitupun Yasmin.
" Uang itu kamu buat apa?", Tanya Hanandingin syarat akan emosi pada Dewi.
" Untuk memulai usaha sebelum kita nikah pak, awalnya lancar kok, tapi kemarin aku ada arisan dan juga buat beli motor hingga akhirnya tidak bisa lagi mencicil", Jawab Dewi tertunduk takut sang suami tambah murka, pasalnya arisan itu sudah dapat dan uangnya dia pake untuk senang senang dengan teman temannya.
" Motor?", Tanya Hanan.
" Ia, jadi aku hutang 25 juta, sepuluh jutanya untuk uang motor, sepuluh jutanya untuk usaha dan lima jutanya untuk pegangan, tapi tiga bulan ini jualannya sepi". Jelas Dewi.
Hanan manggut manggut mengerti, mau marah percuma dia berusaha untuk mengatur keuangannya bersama Dewi untuk kedepannya.
__ADS_1
" Sekarang kita harus mencari uang yang sebelas juta itu jika rumah ini tetap menjadi milik mu", Ketus Hanan.
Dewi manggut dan memainkan jemarinya, takut Hanan marah dan juga bingung harus cari uang kemana dalam dua hari ini.
" Mau cari uang kemana pak?", Desah Dewi binggung.
" Apa yang bisa dijual cepat kiranya di rumah ini?", Tanya Hanan.
" Pak usahain dong, masak barang barang aku yang mau dijual!!!", Sewot Dewi.
" Heh!!! Kalau bapak ada uang tentu pakai uang bapak, dipikir dulu makanya jika mau berhutang, jangan asal dapat uang banyak lantas lalai bayarnya!", Ketus Hanan.
" Sudah sini, ada perhiasan, atau barang berharga lainnya yang bisa jadi uang biar bapak jual sini", Hanan berdiri menarik tangan Dewi agar berdiri juga dan mencarikan perhiasan atau apapun yang bisa jadi uang.
" Bapak ihh..... ini barang belinya penuh perjuangan dan sebagian ada kenangan dari papanya anak anak", Dewi bersungut memberikan sebuah grlang seberat 10 gram, anting, cincin.
" Makanya dipikir jika mau hutang!", Ketus Hanan lagi.
" Berapa gram semuanya ini?", Tanya Hanan menimbang nimbang perhiasan yang sudah berada ditangannya.
" Mungkin ada 25 atau 30 gram", Jawab Dewi sedih memandangi harta berharganya.
" Duh, masih kurang dong untuk dapat 11 juta, apa lagi dong!", Hanan berfikir.
" Bantu lah pak, jangan semua dari mama, terus apa gunanya punya suami jika masih aku yang bayar hutang sendiri", Gerutu Dewi.
" Lah, kamu yang hutang kok bapak yang suruh bayar, lagian hutangnya sebelum kita nikah kan?", Hanan tanpa dosa berkata tanpa beban membuat Dewi memberengut.
Bersambung.......
__ADS_1