JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Derita awal Hananto


__ADS_3

Karena tak tahan rasa lapar yang semakin mendera perutnya akhirnya tidak sampai menunggu sore Hanan pulang ke rumah Yasmin.


Hampir jam 2 siang Hanan memasuki pagar rumahnya. Nampak sepi rumah seperti tak berpenghuni.


" Assalamualaikum", Hanan mencoba menarik gagang pintu namun tak bisa terbuka, rupanya terkunci rapat.


" Assalamualaikum.... Bunda", Panggil Hanan sekali lagi, namun tetap tak ada jawaban.


" Anak anak sepertinya les pak, dan ibu juga pergi dari jam sembilan tadi, kunci dih tadi di titip disaya tapi seperti fibawa oleh Husain", Bu Nunik tetangga baik pak Hanan memberikan penjelasan.


" Oh, ya bu terima kasih,kalau begitu saya tunggu saja di teras", Jawab Hanan.


" Mau minum kesini saja pak, suami saya ada kok", Bu Nunik mencoba menawarkan.


" Terima kasih bu", Jawab Hanan.


Bu Nunikpun bergegas masuk kembali kedalam rumahnya .


Sementara pak Hanan hanya bisa mendesah kecewa mendapati rumahnya yang kosong, rasa laparnya tak tertahan.


Menunggu lebih dari sepuluh menit tak ada yang masuk ke rumahnya hingga pak Hanan terpaksa membeli jajanan yang lewat depan rumahnya, biasanya dia bawa kunci rumah namun kali ini ternyata tak membawa membuatnya harus terdampar fi teras rumah sendiri dalam kelaparan.


" Mang tunggu ya, saya pakai mangkuk mangnya, pintunya terkunci mang, kunci dibawa anak dan saya masih nunggu", Ujar pak Hanan pada penjual bakso yang tengah dia beli.


" Iya pak", Jawab mang penjual bakso.


Selesai menikmati semangkuk bakso ternyata istri dan anak anak pak Hanan belum juga ada yang pulang, diapun mencoba menelpon bu Yasmin pada akhirnya.


" Assalamualaikum bun, ada dimana? Bapak sudah satu jam menunggu di teras kok rumah kosong, pintu terkunci?", Ujar Hanan tanpa basa basi langsung mencecar Yasmin.


" Sebentar juga Hasan pulang, kunci memang dibawa Husain, dia tengah les bareng Haya", Jawab Bu Yasmin tanpa menjawab pertanyaan jika dirinya sedang berada dimana.


" Bunda masih lama?", Tanya Hanan.


" Hemmm", Jawab bu Yasmin singkat.


" Ya sudah pak, bunda tutup telponnya ya, mungkin bunda pulang sore, Assalamualaikum", Yasmin segera menutup telponya sepihak, meski dia ingat jika yang menelpon duluan Hanan tapi Yasmin belum ingin bicara lama lama dengan Hanan.


Hanan pasrah atas sikap Yasmin, dia tahu jika Yasmin menghindari dirinya karena ditinggal menikah lagi, Hanan tahu itu berat untuk Yasmin tapi tetap Harapan Hanan seiring waktu Yasmin akan terbiasa.

__ADS_1


Hampir dia jam Hasan baru datang dan itulima menit lagi adzan ashar.


" Ada bapak, sudah lama pak?", Tanya Hasan menyalami tangan bapaknya.


" Hampir dua jam", Jawab datar Hanan.


" Kirain bapak tidak akan pulang, Hasan kira bapak keenakan di nena nene mahmud jadi tidak akan pulang secepat ini", Hasan betkara dengan nada mengejek sang bapak.


" Husttt.... Kamu ini", Sembur Hanan meski tidak keras.


" Bunda kamu kemana?", Tanya Hanan.


" Ga tahu, Hasan kan baru pulang yah, tadi pagi bunda di rumah seperti biasa saat Hasan berangkat", Jawab Hasan santai.


Hasan berjalan menuju mejaakan disana sudah tersaji masakan sang bunda tadi pagi dan ada secarik kertas.


" Bunda ke rumah teman kak, nanti jagain adik adik ya, mungkin bunda pulang sore".


Hasan membaca pesan dari bundanya, namun segera membuang kertas itu ketempat sampah tidak mau ayahnya ikut tahu.


Hasan memandangi di bawah tudung saji, ada kacang panjang dan tempe, Hasan kemudian membuka kulkas,benar saja ibunya disana sudah menyiapkan bergedel yang tinggal digoreng, ada ayam ungkep juga.


" Bapak tadi lapar tidak ketahan jadi beli bakso yang lewat", Jawab Hanan jujur.


" Oke, hasan siapin untuk Hasan sama adik adik saja sebentar lagi mereka pulang", Jawab Hasan.


" Bunda kemana sih, tadi di telpon masih bisa kok sekarang ponselnya sudah tidak aktif", Gumam Hananto.


" Bunda pasti pulang pak, biarkan bunda menghibur diri lah, bunda juga berhak bahagia bukan hanya bapak toh, sekali kali keluar rumah agar tidak kuper dan juga tahu dunia luar rumah", Ujar Hasan ketus.


" Iya tapi kemana kok tidak pamit", Jawab Hanan gusar.


" Pamit kok, tadi pagi Hasan dengar bunda telpon bapak dan yang angkat istri muda mu pak, dia bilang bapak tengah didapur", Jawab Hasan, Hanan mengkerutkan kening.


" Iya gitu?", Tanya Hanan tak percaya.


Hanan buru buru membuka ponselnya dan mencari riwayat panggilan.


Iya disana ada riwayat panggilan pukul 06:10, " Benar, kok Dewi tidak bilang ya, apa lupa?", Monolog Hananto dalam hati.

__ADS_1


" Ada pak?", Tanya Hasan seraya berjalan mendekat kearah bapaknya dengan tangan memegang piring berisi nasi dan lauk yang siap disantap Hasan.


" Ada", jawab Hananto.


" Kok bapak tidak tahu, apa tidak disampaikan oleh istri baru bapak?", Tanya Hasan penuh penekanan.


" Hemm", Jawab Hananto singkat.


" Baru semalam jadi istri bapak, sudah pelupa, nama amanat lagi, hati hati pak sama orang yang tidak bisa membawa amanat", Sinis Hasan.


" Husttt.... Kamu itu, mungkin dia lupa".


" Iya, lupa kalau baru satu malam jadi istri bapak, sehingga seenaknya melupakan pesan penting coba setahun jadi istri bapak lupa tuh kalau sudah punya suami lagi", Ketus Hasan.


Hananto melotot dengan bibir manyun tanda marah langsung menguasai dirinya mendengar ujaran sang putra sulung.


" Masf pak, Hasan cuma mengingatkan, bukan jelekin istri baru bapak, jangan marah marah entar cepet tua lho", Goda Hasan dengan terkekeh.


Akhirnya Hananto bisa tertawa juga, meski dongkol tetapi ada rasa suka karena putranya berani mengolok dirinya padahal sebelum hari ini Hasan sangat hormat padanya tidak pernah sekalipun mengajak bercanda.


" Sekarang kamu berani ya sama bapak?", Ujar Hananto.


" Hasan hanya merasa bapak itu lucu saja sekarang, berbeda dengan bapak yang kemarin lusa, kemarin lusa Hasan segan dan menghormati bapak", Jawab Hasan.


" Lha memang sekarang bapak berubah menjadi badut?".


" Iya, badut cinta.... hingga lupa jika ada bunda yang begitu setia", Jawab Hasan lirih, tak mau bapaknya mendengar sebab dia berujar dengan menekan sesak didadanya, rasanya tidak rela bundanya diduakan oleh bapaknya tapi bundanya bilang harus tetap hormat pada bapak, jika tidak sudah kebatalkan pernikahannya kemarin.


" Maafkan bapak Hasan, bapak tidak tega melihat bocah yang belum genab berusia sepuluh tahun itu kehilangan sosok bapak dalam pertumbuhannya", Ujar Hananto lesu.


" Semoga itu alasan yang tepat pak, karena yang Hasan rasa bukan seperti itu".


" Maksud kamu apa?".


" Entahlah karena yang terlihat dimata Hasan hanya ada ***** yang tersirat, jika bapak punya niatan baik tentu yang bapak nikahi bu Titin tetangga kita yang pojok itu, beliau hampir seusia dengan bapak, hidup sebatang kara, rematiknya sering kumat, kasihan kan?", Hasan mencibir bapaknya.


Hananto melongo mendengar ujaran sang putra.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2