JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Telpon dari Bapak


__ADS_3

Hari semakin sore tapi Hanan tak melihat Yasmin pulang, sementara Dewi sudsh tetus tetusan menghubunginya, menyuruhnya segera pulang.


Makin kesini Hanan makin ribet sama Dewi, jika dulu Yasmin hanya mengirim pesan jika telat pulang, itupun dengan bahasa yang halus dan lembut, berbeda dengan Dewi istri barunya itu akan terus terusanmenelpin drngan nada marah, sewot dan terkadang mengancam.


Seperti barusan sudah tiga kali menelpon tapi Hanan belum pulang juga hingga Dewi mengancam tak akan memberikan jatah seminggu membuat Hanan menarik nafas berat.


" Bapak pulang ya", Pamitnya pada ketiga anaknya, tak ada jawaban dari merdka hanya mrmandang Hanan dengan tatapan yang berbeda.


" Hubungi bapak jika ada sesuatu, atau ingin bertemu dengan bapak, jaga bunda kalian, belajar yang rajin dan jangan menyusahkan bunda", Ucap Hanan mengusap rambut anaknya satu persatu.


Haya menatap bapaknya dengan kesedihan, air matanya kembali membanjiri pipinya tapi tak sehisteris tadi, sekarang sudah lebih tenang.


Hasan, dia hanya dia dengan tatapan tajam dan dingin tanpa suara tetapi masih setia hingga bapaknya keluar rumah dan mulai memakai helm.


Husain, wajahnyaq terlihat marah dan kecewa, tak ada suara tetapi mereka bertiga kompakan mengantar bapaknya sampai pergi.


Lega sudah hati Hanan satu persatu urusannya kelar, sekarang tinggal fokus dengan krluarga barunya.


Meski harus sedih dan merasa hampa saat kehilangan Yasmin, nyatanya tidak dipungkiri hatinya cukup lega sekarang.


Pulang kerumah disambut wajah Dewi yang cureng, memberengut. Sudah mah wajah cantik Dewi itu tidak dikasih bonus ceria, ditambah cureng, gelap sudah rasanya pandangan Hanan.


" Assalamualaikum", Sapa Hanan maduk rumah.


" walaikum salam", Ketus Dewi hampir tak terdengar.


" Betah banget di rumah bunda, kayak ada lemnya disana? Lengket banget sampai lupa pulang", Gerutu Dewi.


" Bukannya waktu itu bapak sudak talak dia, kenapa bapak masih saja ke rumah itu coba", Imbuh Dewi dengan nada kesal.


Hanan hanya diam, mau jawab takut istrinya tambah meledakkan bom, mending diam dulu, pikirnya.


" Kopi ma", Ujar Hanan minta dibuatkan kopi oleh Dewi.


Dengan senyum penuh arti Dewi pun beranjak kedapur untuk menyedih kopi plus, Deei mengira jika Hanan brlum bercerai.


" Ini", Deei mrnaruh kopi dihadapan Hanan dengan senyum.


" Nah gitu dong! Suami pulang dibuatkan kopi sambil senyum kan hati bapak jadi gimana gitu...", Rayu Hanan pada Dewi.


" Iya, tapi besok hari senin seperti biasa pak mama minta duit tujuh ratus ribu untuk arisan dan untuk karaoke bersama teman teman", Ujar Dewi.


" Ma, harusnya acara begituan pakai duit mama sendiri lah, kan itu acara mama!", Jawab Hanan.


" Ck.... bapak ma giliran sama mama pelitnya, giliran bunda saja, pasti dikasih banyak ya,?!", Kesal Dewi penuh tuduhan.


" Jatah anak anak disana tidak pernah bertambah ma, dari dulu ya cuma tiga juta".Hanan kembali menjelaskan pada Dewi.

__ADS_1


" Ga mau tahu ah, pokoknya hari senin harus ada duit segitu", Dewi ngotot dengan keinginannya.


" Pakai duit dagangan dulu, bapak benar benar ga ada uang, yang les tak sebanyak kemarin ma, mama tahu sendiri yang namanya les renang 4-5 pertemuan juga sudah cukup bisa, karena renang yang penting tahu tehniknya dan berani mencoba, lha anak anak mana ada takutnya kita ajarin dari nol baru sampai enam mereka sudah langsung bisa sepuluh itu artinya begitu tahu tehniknya mereka langung praktek dan ya begitulah .. lebih pintar dari bapak", Ujar hanan pasrah.



Senin, Dewi seperti biasa Dewi kali ini lebih awal sudah bersiap dengan celana jeans baju thank top dilapis luar dengan hem terbuka serta kerudung pasmina.



Harum dan wangi serta terlihat berseri, hingga Hanan cuma bisa menatap nyalang kepada istrinya yang bertubuh tinggi, montok dan nampak menonjol atas bawah.



" Mau arisan atau mau nyari mangsa?", Ujar Hanan sarkas dengan wajah melongo.



" Aisshhh.... Enak saja sekate kate, cek aja mama kemana jangan suka nuduh sembarangan", Ujar Dewi dengan wajah tidak suka.



" Wajarlah bapak curiga, itu baju sudah baru lagi?", Tanya Hanan yang merasa belum pernah melihat stelan yang Dewi pakai.




" Ah, bapak tahu aja", Ujarnya dengan tersipu malu.



" Kenapa mesti beli stelan yang kayak begitu, kenapa ga gamis aja biar lebih sopan, mama bukan ABG lagi lho!", Ujar Hanan.



" Pak, gamis itu ga cocok dengan Mama, mama itu bergerak kesana kemari, naik motor, ribet pak", Wajah Dewi kembali judes.



" Udah ah, mama berangkat, kali ini mungkin agak sedikit malam, ga usah ditunggu", pamit Dewi.



" Jam sembilan harrus sudah di rumah!", Ketus Hanan, sebetulnya Hanan tidak suka istrinya suka kelayapan begitu, tetapi jika dilarang Dewi malah lebih berani, jadi Hanan harus lebih sabar menghadapi istrinya kali ini.


__ADS_1


" Ihhh.... Dibilang pulang malam kok, gimana nanti saja lah, ribet!", Dewi tak menghiraukan ucapan Hanan.



Hanan tak bisa berkata kata lagi dan membiarkan istrinya berangkat, matanya hanya bisa memandangi kepergian istrinya tanpa bisa melarang.



Hanan merasa hari ini rasanya matanya berkedut terus entah akan ada apa, tapi yang jelas hatinya tidak enak, gelusah terus dan merasa tidak enak hati.


Drettt


Drettt


Drettt


" Assalamualaikum".


" Waalaikum salam, bapak!? Ada apa pak?!", Hanan terkejut bapaknya menghubungi karena semenjak dia telpon waktu itu bapaknya tidak pernah mau bicara dengannya.


" Pulanglah.... Bawa Yasmin dan cucu cucu bapak, tapi jangan bawa istri muda kamu jika mau mau lihat ibun mu", Hardik bapak Hanan.


" Ada apa pak?", Tanya Hanan gugup.


" Ibu mu sakit, setelah mendengar kabar kamu kawin lagi", Jawab bapak lesu.


Hanan tertegun, lemas sudah badannya terlerai ke lantai, duduk bersandarkan tembok.


" Pulanglah, jika ingin bertemu ibumu, tapi ingat jangan bawa istri mudamu...", Kembsli bapaknya membeti peringatan.


" Iya pak", Jawab Hanan lemas, selama ini Hanan sangat dekat dengan ibunya jadi mendengar ibunya sakit, hati Hananpun langsung berduka.


Telpon pun ditutup oleh bapaknya, Hanan masih lemas dengan mata merah.


" Zidan, Zea... kalian dirumah ya, bapak akan pulang, ibunya bapak sakit, nanti bilang ke mama ya jika bapak tengah menjenguk orang tua bapak", Hanan kemudian siap siap untuk pulang.


" Iya pak".


" Ini uang, kalian bisa kan beli makan sendiri, sepertinya tadi mama masak nasi jadi kalian beli sate aja diujung gang sana ya".


" Iya pak, bapak mau lama di rumah kakek?", Tanya Zea.


" Kurang tahu, jaga diri kalian ya, hati hati dirumah".


" Iya pak". Hanan pun berangkat dengan mrnaiki motor berniat parkir distadiun saja.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2