JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Kepergian bu Ainun


__ADS_3

Hanan berlinang air mata dadanya sesak rasa malu masih menghinggapi perasaannya tetapi akan lebih malu lagi jika ia tidak bisa mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada dokter Yusuf.


" Seharusnya saya yang berterima kasih Mas", ucap dokter Yusuf seraya terkekeh untuk mencairkan suasana.


" kok gitu!".


" Lha Iya lah, Karena Mas Hanan telah melepaskan Yasmin dan memberikan aku tiga orang anak yang manis-manis dua jagoanku hebat Mas dan 1 putriku ini tidak kalah hebat dia juga luar biasa dia pandai mengasuh adiknya karena saya bawa 1 orang anak gadis Mas sebelumnya istri saya meninggal dan Bunda telah menjadi pengganti terbaik yang dikirim Allah untuk saya, Terima kasih karena mas telah menyampakkan Yasmin dan saya yang menemukannya, semuanya takdir mas tidak perlu ditangisi, bagi saya ketiga putramu adalah amanah untukku Aku bahagia karena mereka hadir dalam hidupku pun mereka jadi bagian dalam keseharian ku, aku begitu bangga kepada siapapun, kedua jagoanmu itu selalu Saya bangga bangga kan karena mereka memang pantas dan sangat luar biasa", kecap dokter Yusuf.


Hanan semakin tergugu mendengar kata per kata yang dokter Yusuf ucapkan, sangat malu anaknya dibesarkan dan menjadi kebanggaan Bapak lain di hidupnya.


Harusnya dia lah yang merasa seperti itu, ketika pulang kampung tetangga sanak saudara mereka tidak pernah bertanya berapa rumahmu berapa kendaraanmu tapi mereka selalu bertanya sudah berapa anakmu? dan saat nanti Hanan pulang tak satupun anak ia bawa, miris bukan?


" jika tahu akan seperti ini aku dulu tidak akan pernah poligami dok, bahagianya sebentar menderitanya sangat panjang, tolong jangan perlakukan Yasmin seperti saya memperlakukannya karena yang tersisa hanya penyesalan yang begitu dalam dok! nangis darah sekalipun semuanya tidak akan pernah sama lagi, semuanya hilang tak berbekas, tolong dokter ingat kata-kata saya ini", ucapan dari seraya terbata-bata bahkan kadang nafasnya terdengar tersengal-sengal dalamnya penyesalan yang dia rasakan.


" Pasti mas! dan saya bukan laki-laki yang mudah untuk berkhianat, jangankan sampai poligami untuk kenal lebih dekat dengan seseorang wanita pun saya tidak pernah ada niat, bagi saya menemukan Bunda adalah hadiah dari Allah yang dikirim dari surga dalam hidup saya di dunia ini jadi saya tidak perlu berpikir untuk urusan dunia saja mas, mas bisa lihat ada 6 amanah di sini yang butuh kasih sayang, mereka semua butuh kami berdua Mas tolong bantu saya juga karena yang tiga ini meskipun sampai ke ujung dunia sekalipun dia tetap tanggung jawab Mas", dokter Yusuf mencoba mengingatkan Hanan tentang kewajibannya kepada ketiga anaknya ini meskipun dokter Yusuf juga akan memberikan yang terbaik untuk mereka tetapi peran Bapak tidak akan pernah hilang meskipun berjauhan.


" Iya pasti tolong nanti jika saya berkunjung kembali beri saya waktu untuk bisa menikmati indahnya kota ini berempat saja".


" Oh silahkan, silakan mas kapan saja mau datang ke tempat ini untuk bertemu mereka bertiga sangat terbuka Mas, kapanpun itu, jangan sungkan mereka tetaplah tanggung jawab Mas, pasti mereka juga butuh waktu untuk melepas rindu bersama Mas"


" Iya terima kasih, Hari ini saya akan pamit pulang kondisi saya sudah baik nanti jika ada waktu saya akan ke sini bertemu dengan anak-anak kembali", ucap Hanan.


Dan sore itupun setelah salat ashar Hanan benar-benar pulang menuju kota A, ketiga anaknya pun melepas dengan perasaan yang sedikit lega paling tidak bapak nya sudah mencarinya walaupun kini kondisi mereka sudah berbeda.


kehidupan pun terus berjalan, Hanan yang kembali ke kota A merasakan hampa dalam hidupnya hubungannya dengan Dewi pun kian hari terasa hambar dan dingin tak ada kemajuan.


Beberapa bulan kemudian Hanan mendapat kabar bahwa sang ibu sakit keras dan dia pun ingin pulang membawa Dewi. namun rupanya Dewi pun menolak, " untuk apa pulang Orang kita seperti ini kondisinya Mas, dibilang suami istri kita hanya seperti teman saja enggak ada lebihnya, sudah Mas pulang sendiri aja bilang saja jika aku sedang ada kerjaan", ucap Dewi.


" kerjaan apa? kamu kan Ibu rumah tangga, mencuci itu kerjaan kamu kan soalnya buka laundry", cibir Hanan kesal.


" Nah itu tahu!", jawab Dewi tak kalah kesal.


" Ibu sedang sakit masa kamu nggak ada keinginan untuk menjenguknya?", tanya Hanan jengah.


" Ya udah deh aku ikut tapi sebentar ya Mas di sana jangan lama-lama takut nggak betah akunya", ucap Dewi.


" Hsstttt..... belum juga pulang sudah bilang begitu", ucapan dan kesal.

__ADS_1


" Ya makanya aku nggak usah ikut, gampang toh".


" iya terus kamu mau janjian sama dukun cabul mu itu", Sungut Hanan.


" Mas..... jangan nuduh terus dong, aku udah nggak kayak gitu kali", jawab Dewi bertambah kesal.


" Makanya besok harus ikut pulang, siapa tahu setelah pulang dari kampung rumah tangga kita bisa lebih baik lagi", Hanan sebenarnya pesimis untuk perbaikan dengan Dewi.


" Yah aku ikut pulang", akhirnya keputusan Dewi ikut pulang kampung bersama HANAN.




Sementara itu di rumah dokter Yusuf anak-anaknya tengah berkumpul mereka tengah merayakan kebahagiaan kepulangan Husain dari Kairo dan telah memenangkan sebuah perlombaan.



Sedari tadi dokter Yusuf mengusap kepala Husain penuh kasih sayang, dirinya bangga atas prestasi putra tirinya itu, bagi Dokter Yusuf keberhasilan Husein itu semua atas kerja keras dan usaha Husein serta doa dari bundanya.




Tiba-tiba dering telepon menggema di ruang keluarga itu dengan sikap Yasmin mengambil ponselnya dan mengangkat telepon tersebut.



" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun", ucap Yasmin dengan terkejut dan menahan tangis.



Ruangan yang tadinya riuh penuh penuh canda tawa seketika hening saat Yasmin mengucapkan kata itu. Semua memandang ke arah Yasmin yang masih berbicara melalui sambungan telepon.


Barulah setelah selesai Yasmin menutup telepon mereka semua menunggu penjelasan dari Yasmin.


__ADS_1


" Kak, nenek Ainun", ucap Yasmin langsung berderai air mata dan terhenti tidak melanjutkan kata-katanya lagi.



" Innalillahi wainaillaihi rojiun ", ucap semuanya penuh keterkejutan dengan nada sedih.



Untuk sasahan suasana menjadi hening sementara Yasmin masih terisak begitupun ketika anaknya mereka hanya diam tertunduk.



" oke! kalian siap-siap sekarang, malam ini juga kita pulang", ucap dokter Yusuf kemudian.



Hasan Husein Haya langsung menghambur memeluk bundanya, " nenek kenapa Bunda?", tanya Haya.



" Nenek sakit Sudah beberapa waktu ternyata", ucap Yasmin menguatkan ketiga anaknya.



" Oke kita pulang ya, Kakak Hasan dan Husein kalian harus bisa mengantarkan nenek dengan baik", ucap Yasmin mengusap rambut kepala putranya itu.



" Baik Bunda", jawab Hasan.



" Kita siap-siap sekarang mumpung belum terlalu malam", ucap Yasmin kemudian.



Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2