JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Air racun


__ADS_3

" Maa.... Maaa... Mamaaa.....istighfar ma.....nyebut maa.... mamaaa, Zidan panggilin pak Bukhori ya, suruh kesini cepat", Titah Hanan dengan gusar, pasalnya Dewi sudah gelosorang kayak ada yang mencekek lehernya hingga matanya berbalik begitu.


Zidan dengan sigap langsung lari memanggil guru ngajinya itu di mushola, pasti selepas maghrib begini beliau masih di sana untuk menunggu waktu isyak.


Sementara Zea menangis histeris melihat ibunya seperti itu, siara tangisan Zea mengundang perhatian tetangga yangembuatnya pada berlarian mendatangi rumah Dewi.


" Astaghfirulloh..... bu Dewi", Para tetangga pun hanya bisa beristighfar melihat kondisi Dewi yang begitu.


Tak lama kemudian pak ustadz datang dengan tergopoh, " Astaghfirulloh.... ", Ucapnya langsung para tetangga minggir memberikan jalan untuk ustadz Bukhori mendekat.


" Ambilkan air putih dan garam pak", Titahnya pada Hanan, dengan sigap Hanan menyiapkan.


Pak ustadz dengan khusyuk berdoa, dan membasahi tangannya dengan air itu kemudian mengusap wajah dan leher Dewi hingga beberapa kali.


Setelah beberapa kali usaha akhirnya mata Dewi terpejam dengan normal dan tidak bergerak seperti tadi.


" Mohon maaf, tolong yang berkumpul bubar ya, ini bukan tontonan, kasihan bu Dewi, mungkin tadi beliau bengong sehingga ada makhluk yang mencoba menggodanya untuk masuk, tolong bubar, biarkan saya memulangkan yang masih disini supaya tidak nyasar ketubuh kalian", Ustadz Bukhori sengaja mengusir tetangga agar tidak meninton dan besoknya menyebarkan fitnah.


Para tetanggapun bubar semua, tinggallah di ruangan itu keluarga Hanan dan pak ustadz.


" Pak, sebaiknya anak anak suruh ke kamar dulu untuk mengerjakan pe er, mama mereka tidak apa apa kok, tenang saja kalian", Ustadz Bukhori rupanya ingin bicara berdua dengan Hanan.


Setelah Zidan tenang melihat ibunya tidak gelosoran seperti tadi, Zea juga sudah menangis mereka pun menuruti ucapan pak ustadz untuk masuk kamar.


" Pak, saya melihat bahwa ibu ini melakukan sebuah ritual, yang biasa dilakukan setiap seminggu sekali nah rupanya ibu sudah ingkar janji, sudah tujuh minggu ini setiap malam selasa ibu tidak setor jadinya jin nya barusaha nagih, kira kira begitulah, boleh percaya boleh tidak, tetapi sebaiknya ibu dibawa keorang yang mengerti agar bisa di ruqiah dengan benar", Saran pak Ustadz.


" Hah!!!, ritual??? Astaghfirulloh.... ritual apa itu pak ustadz, saya tidak tahu", Hanan tidak percaya jika istrinya ternyata berbuat sejauh itu.

__ADS_1


Hanan benar benar tidak percaya dengan yang diucapkan ustadz Bukhori, memang istrinya suka pamit untuk keluar dihari senin sore, tetapi untuk arisan, bukan ritual.


Hanan menyanggah, tetapi kenyataan Dewi suka keluar di senin sore itu nyata adanya, jadi sekarang hati dan logika Hanan tidak singkron antara percaya dan menyangkalnya.


" Begini saya pak, saya coba obatin dulu ibu sebisa saya, tapi kemungkinan kambuh seperti ini atau lebih parah itu bisa saja terjadi jika bu Dewi tidak segera dibersihkan dan tobat setelahnya", Ujar Ustadz Bukhori.


" Pak ustadz, silahkan diobati saja, saya berharap berita yang bapak sampaikan tidak benar, jika iya betapa besar dosa saya pak, sampai kecolongan begini", Keluh Hanan frustasi.


" Bu, bu Dewi bisa dengar suara saya?", Ujar pak ustadz menepuk bahu Dewi.


Mata Dewi terbuka sempurna, tapi pandangannya kosong.


" Minum dulu bu", Kata pak Ustadz.


Dewi minum dengan perlahan kemudian menyemburkannya dengan cepat, tetapi sebagian sudah ditelannya.


" Itu bukan racun, itu air putih biasa, tuh yang ngambil juga suami mu", Ucap pak ustadz santai tetapi tangannya memegang erat Dewi supaya tidak brontak dan mengamuk.


" Jangan ganggu urusanku, aku mau menyakiti orang ini, dia biasanya menyetor ke bos aku tetapi dia pura pura lupa, dan melupakan kewajibannya", Dewi ngoceh yang tak dimengerti Hanan maksudnya.


" Bodo! Keluar dari tubuh ibu ini, atau tak buat kamu sakit", Kata pak ustadz tidak mau basa basi sama jin yang menempel ditubuh Dewi.


Pak ustadz komat kamit membaca doa kemudian melakukan sesuatu yang membuat Dewi kembali terpejam, namun kemudian membuka mata kembali.


" Aku kenapa? Eh, kok ada pak ustadz", Ucap Dewi terkejut mendapati pak ustadz didepannya.


" Ibu! Jangan suka bengong bu ya, perbanyak berdoa bu ya, kita itu hidup punya tanggung jawab kelak jika usia kita sudah waktunya kembali, iya kan bu, hee .. masih bingung ya", Ujar pak ustadz.

__ADS_1


" Memangnya saya kenapa pak ustadz?", Dewi masih bingung.


" Mama tadi kesurupan, mama suka mengkaji apa jika keluar rumah?", Ujar Hanan menjelaskan sekaligus bertanya.


" Mengkaji apa, mama kalau keluar rumah palingan arisan, ah bapak ma suka gitu, sudah jelas mama arisan pakai tanya lagi!", Dewi tidak terima merasa disudutkan oleh suaminya didepan pak ustadz.


" Bu, ibu saya lihat ada yang mengganggu, sebaiknya ibu nanti ikut suami ibu di bawa ke ustadz Derajat, disana biar ibu di rukiyah, ibu mau ga sembuh? Jika kayak tadi dijalan serem lho bu", Ustadz Bukhori membujuk Dewi agar mau berobat dan segera tobat.


" Saya ini tidak sakit kok, pak ustadz jangan ngarang lah, mana ada jaman sekarang ada setan ganggu manusia?!", Ketus Dewi tidak mau dianggap kesurupan.


" Ma.... Bicara yang sopan!!, nyatanya tadi mama memang kesurupan, bahkan tangan mama itu mencekek leher mama sendiri, mata mama berbalik, di tepuk tepuk mama makin menjadi, jujur saja apa yang mama lakukan jika keluar rumah?!!", Hanan menahan emosi hingga suara terdengar bahwa Hanan sambil mengeratkan giginya.


" Ga ada, cuma arisan ", Jawab Dewi tetap bersikeras mengelak.


" Sudah pak, bu diminum dulu ini", Pak ustadz memberikan sir yang tadi diminum Dewi, karena sedang emosi Dewi tidak sadar meminumnya kembali.


" Pak, pak ustadz meracuni saya?", ketus Dewi yang perutnya tiba ziba mual hebat dan segera lari kekamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


" Bapak sabar dulu, setiap hari saya akan memberikan air yang sudahdi beri doa, silamgkan bapak datang kemasjid untuk sholat jamaah baru kemudian bapak bisa bawa pulang air itu, di minum oleh bapak dan juga bu Dewi ya, tidak apa jika belum mau ke ustadz Derajat, ini usaha dulu seperti ini, asal bapak rutin datang untuk sholat dan juga minum air inshaAlloh sedikit sedikit akan sembuh", Ustadz memberikan saran itu agar Hanan rajin ke masjid, soal air putih itu hanya sebagai perantara saja karena memang orang yang kena sihir itu harus ditangkal dengan kekuatan iman bukan dengan sembur menyembur jika akan sembuh dan bisa tobat.


" Baik pak".


" Saya pulang ya, sudah malam", Pak Ustadz.


" Terima kasih pak, atas bantuannya", Hanan.


" Itu air terus di minumkan istrimu, biarkan jika muntah itu bagus", Ustadz kemudian pamit pulang, Hanan mengangguk dan mengantar ustadz sampai pagar.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2