
Pulang dari makan di luar mereka sholat maghrib berjamaah dengan Hasan yang bertindak sebagai imam.
Hati Yasmin meleleh terharu bacaan surat surat putranya begitu tartil dan sangat merdu didengar, Yasmin merasa segala yang upayakannya tidak sia sia, pontang panting cari uang demi bisa menyekolahkan Hasan di boarding school dengan ekstra Hafidz, terasa hilang sudah lelah, merasa semangat empat lima kembali mencari uang yang banyak agar agak adik adik Hasanpun kelak membanggakannya.
Selesai sholat Hasan juga pandai memimpin dzikir, doa doa serta tadharus.Hingga adzan isyak berkumandang dan lanjut sholat isyak.
Kring
Kring
Kring
Ponsel Yasmin yang sengaja diberi nada dering seperti telephon jadulpun berdering.
" Assalamualaikum pak, bu", Sapa Yasmin senang orang tuanya melakukan vc dengannya.
" Waalaikum salam, kalian sedang apa?",Tanya bu Hasanah.
" Baru selesai sholat", Yasmin mengedarkan kamera ponselnya dan tampak Hasan dan Husain masih mengenakan baju kokonya.
" MashaAlloh.... cucu cucu kakek ganteng ganteng sudah tambah besar, kapan dong pulang ke rumah kakek, kita panen ikan jika kalian pulang", Pak Yasman tersenyum bahagia begitupun bu Hasanah.
Hasan, Husain dan Haya pun kemudian menyapa nenek kakek mereka, dan bercerita ataupun menjawab jika ditanya sesuatu oleh kakek maupun nenek.
" Hemmm.... udah dulu ya kita ngobrolnya, nanti kalau libur sekolah kalian harus dirumah kakek ya... kita panen ikan... telponnya tolong kasihkan pada bunda kalian, kakek sama nenek mau bicara", Ucap pak Yasman lembut dan ponselpun berpindah tangan pada Yasmin.
Yasmin sedikit gugup ketika bapaknya sudah mau bicara pada pokoknya, kenapa beliau menelpon tidak lain dan tidak bukan ya karena menunggu jawaban setelah satu minggu.
" Gimana nduk? Yes or no! Bapak sama ibu deg degan nih... hemmm.... kamu ini huuhhh.... bikin bapak ibu resah tidak bisa tidur seminggu ini!!", Ucap pak Yasman dengan terkekeh lebar, hatinya dag dig dug menanti jawaban Yasmin.
" Iya nduk, kamu yang dilamar kok malah ibu sik gemeteran!", Timpal bu Hasanah.
Yasmin tersenyum dari sebrang layar, kemudian menunduk.
" Bismillah.... Jujur pak Yasmin masih bimbang... bagaimana jika Yasmin namut bapak saja, apapun jawaban bapak dan ibu Yasmin terima.... Jika bapak ibu Yakin Yasmin juga Yakin", Jawab Yasmin malah mengembalikan pada bapaknya.
" Jujur nduk, bapak dan ibu selama satu minggu ini berdoa dan puasa, selain itu bapak juga bertanya pada mas mu ternyata mas mu mengenal nak Yusuf dengan baik, dan bapak juga bertanya pada kerabat orang tua nak Yusuf yang kebetulan bapak kenal, dan merekapun setuju.... jika bapak bilang terima,dan setuju apakah kamu akan bisa menerimanya?", Jawab pak Yasman hati hati.
Yasmin memejamkan mata sedikit lama, dan membuka dengan mata yang sudah berair.
" Beruntungnya aku yang masih punya kalian bapak dan ibu... tolong jaga mereka untuk saya ya Alloh", Ucap Yasmin.
" Bismillah... Saya manut bapak, silahkan jika bapak mau menikahkan saya dengan dokter Yusuf saya bersedia", Jawab Yasmin berurai air mata. Lega! itu yang dirasakan oleh Yasmin, karena selama seminggu ini diapun resah melawan kata hatinya.
" Kalau begitu bapak yang akan menghubungi pak dokter, kamu tenangkan dirimu saja, berpasrah semoga semua dilancarkan, bapak yang urus semuanya, kamu tetap fokus sekolah dan mengurus anak anak seperti biasa, nanti bapak yang akan mengabari kapan waktunya", Ujar pak Yasman jelas.
Ada binar kelegaan juga dikedua netra kedua orang tua itu. Bahkan bu Hasanah terlihat tersenyum.
__ADS_1
" Calon kamu itu sudah star sebelum mendapat kepastian, jadi jangan kaget jika semuanya bisa kilat", Jawab bu Hasanah terkekeh.
Yasmin hanya mengkerutkan kening tak mengerti.
" Maksudnya bu?", Yasmin tidak paham, sungguh! dengan ucapan ibunya.
" Sudah tunggu kabar dari bapak saja, semoga dalam waktu dekat kalian sudah resmi", Ucap pak Yasman.
" Pak, ga ada pesta! Yasmin malu, yang penting sah saja!", Yasmin langsung mewanti wanti bapaknya.
" Iya", Jawab pak Yasman.
" Ya udah salam buat cucu cucu bapak, kita tutup telponnya, terima kasih bapak sudah plong, Assalamualaikum".
" Waalaikum salam bapak ibu, sehat selalu", Yasmin menutup telponnya.
Semenjak kejadian itu Hanan dan Dewi perang dingin, Hanan lebih sering pulang ketempat kosnya.
Tempat kost dengan satu kamar berukuran 4x3 dan kamar mandi didalam , Kecil memang hanya untuk tidur saja, bahkan disana hanya ada kasur lipat dan bantal serta lemari plastik kotak, dengan empat rak.
Ditempat itu jika hendak tidur Hanan bebas berkirim pesan dengan bu Rosa dengan private number yang diberikan waktu itu tentu.
Sekedar berhiha hiihiii dan cerita ngalor ngidul ga jelas Hanan nikmati bersama bu Rosa.
Hingga saat inipun Hanan tak berfikir untuk bertemu anak anaknya, atau sekedar mencari tahupun tidak.
Padahal dulu katanya mau minta kabar ke bu Nunik nyatanya tidak sama sekali.
Apalagi sekarang sedang punya mainan baru, boro boro ingat anak yang ada uang habis buat beli pulsa.
__ADS_1
Sementara Dewi yang kessl karena suaminya makin tidak jelas, dia mencoba memulai usaha, tanpa ijin dari Hanan diapun mengadaikan kembali rumahnya, karena memang rumah itu milih dia jadi tidak perlu ijin pikir Dewi.
Dengan uang hasil pinjaman dari bank itu Dewi membeli lagi motor baru dan memulai usaha.
Kali ini usahanya ia niatkan bener bener, dengan menyewa kios dia membuka kios dipinggir jalan, berharap bisa meraup untung lebih karena jika dipinggir jalan akan ramai.
Usaha yang di tintis oleh Dewi adalah laundry kiloan, awalnya lancar, namun seiring berjalannya waktu, banyak saingan juga sehingga harus kerja keras untuk bisa membayar cicilan hutang dan tentu kontrakan.
Hanan yang tahu jika Dewi kini punya usaha, makin melambung, makin tidak begitu perhatian yang penting memberi uang tiga juta perbulan untuk makan, bahkan tidak bertanya dari mana Dewi dapat modal.
Barulah hari ini ada yang datang ke rumah menagih hutang saat Hanan sedang berada dirumah. Hal itu membuat Hanan bertambah marah dengan Dewi.
Apalagi saat Dewi dengan cueknya menjawab jika tidak ada yang salah, uang belanja kurang, sementara dirinya asyik selingkuh dengan putri duyung, apa salah Dewi jika menggadaikan rumah, rumah juga rumah dia sendiri.
Disitulah Hanan tersinggung, bukannya menyadari kesalahannya malah hatinya panas dengan kata kata Dewi.
" Bapak tidak pernah selingkuh, bapak hanya berteman karena mau joinan usaha, jangan suka menuduh tanpa bukti!", Hanan mencengkeran rahan Dewi kuat.
Zidan yang melihat kejadian itu langsung menarik tangan Hanan sekuat tenaga.
" Jika bapak menikahi mama ku hanya untuk menyakiti lebih baik bapak pergi", Ucap Zidan sengit, matanya memancarkan kekecewaan.
Bersambung. ....
__ADS_1