
Malam harinya mereka malam dengan membuat barbeqeuan di belakang vila dekat kolam renang, Hanan memainkan gitar dan mereka bernyanyi bersama.
" Pak, liburan nanti kita sewa vilanya dipinggir pantai saja ya, kali kali", Ujar Haya dengan nada merengek pada bapaknya.
" Iya, doain bapak ada rejeki", Jawab Hanan.
" Yeee.... iya pak, Haya doain bapak banyak rejeki saja tidak usah banyak istri, memalukan!", Ketusnya diakhir kalimat.
Hanan cuma tersenyum dan mengacak rambut Haya.
" Iya bapak tidak akan lagi menikah kok, cukup bunda dan mama Dewi, nanti kita bisa bareng bareng liburan sama mereka ya", Ujar Hanan pada Haya dengan suara rendah agar tidak terdengar yang lain dan merusak suasana.
Haya langsung menoleh pada bapaknya dengan cepat, matanya melotot marah bibirnya mencebik.
" Ogah, bapak saja sama dia, ga usah ngajak ngajak kita, Haya benci sama orang itu", Jawabnya ketus.
" Husttt.... tidak boleh begitu, mama Dewi juga mama kamu jadi harus dihormati", Hanan berbicara lirih seraya mengusap kepala Haya.
" Ga mau ah, ibu aku cuma bunda ga ada lagi yang lain!", Bocah itu tambah ketus.
Hanan cuma bisa menarik nafas dalam, tidak mau memaksa lagi, mau seperti apapun saat ini belum tepat, Hanan berharap akan ada waktunya mereka menerima kehadiran Dewi.
Malam harinya setelah acara bakar bakaran selesai dan malam semakin larut, mereka kembali masuk kamar untuk tidur, Hasan dengan Husain satu kamar dan Haya sama Yasmin karena anak itu takut tidur ditempat baru, jadilah Hanan tidur sendiri di depan televisi.
Waktu sendiri itu ia gunakan untuk mengirimkan pesan pada Dewi, sebetulnya tadi sudah sempat berkiriman pesan hanya saja hanya sebentar karena tidak enak dilihatin anak anaknya terus.
" Sudah tidur ma?", Pesan pertama yang Hanan kirim untuk Dewi.
" Baru mau, ada apa? Bagaimana liburannya menyenangkan?", Balan Dewi.
" Kok belum tidur, habis dari mana ini sudah larut lho!", Balas Hanan.
" Habis dari tempat pengiriman barang, paketan sore sudah selesai dibungkus udah saja langsung dikirim", Kawab Dewi.
__ADS_1
" Ramai hari ini?", Tanya Hanan.
" Alhamdulillah, ada lah", Jawab Dewi.
" Udah tidur gih, sudah malam, besok bapak pulang".
" Ya",
Tak ada lagi pesan yang dikirim, Hanan masih sesekali melihat jika ponsel Dewi masih made online, mau marah tapi tidak enak, sudah malam, perasaan Hanan sedikit tidak enak.
Sejam, dilihat lagi masih online, Hanan jadi husar karenanya. Akhirnya satu pesan dia kiri. lagi.
" Tidur, jangan online terus", Tulisnya dengan cepat ia kirim pada Dewi.
Tanda belum dibaca hingga satu jam kemudian dan waktu sudah lewat tengah malam, Hanan gelisah dilihatnya ponsel Dewi masih online juga.
Akhirnya Hanan menelpon Dewi, ternyata yang didapat adalah mode sibuk.
" Telpon yang anda hubungi sedang dalam panggilan lain...... bla bla...", Jawaban dari operator membuat Hanan makin gusar.
Karena merasa istri mudanya tidak menuruti kata katanya dan malah asyik begadang dan berteleponan, Hananpun kembali mengirimkan pesan untuk Dewi.
" Sibuk telpon aja, bukannya tidur, dengan siapa malam malam sibuk telponan, hah!😡".
Begitu pesan yang Hanan kirim untuk istri mudanya.
Kemudian Hanan mematikan ponselnya dan hendak tidur, rasa marahnya menguasai dadanya, namun tidak mungkin ia lampiaskan malam ini juga, hingga akhirnya Hanan memilih untuk menarik nafas dalam beberapa kali untuk meredakan amarahnya dan bermaksud tidur.
Yasmin dan anak anaknya sudah siap untuk olah raga pagi ini.
" Bun, kita jalan jalan sambil cari sarapan ya", Rengek Haya.
" Iya, makanya cepetan siap siap". Jawab Yasmin.
__ADS_1
" Pak, ikut juga kan?", Tanya Haya.
" Iya, duluan gih entar bapak nyusul", jawab Hanan.
" Ga ah, mendong kita bareng bareng, memang bapak tahu kita mau jalan kemana? Entar malah bapak bukannya olah raga tapi melipir", Ujar Haya.
" Hust kamu itu", Cedak Yasmin.
" Ga boleh bicara kayak sama bapak nak!", Ujar Yasmin lembut, Haya cuma memanyunkan bibirnya
" Ya sudah ayo", Hanan pun ikut bersiap dengan celana training merah senada dengan warna training yang dipakai Yasmin.
" Wihhh.... samaan ", Celetuk Husain.
" Kan yang nyiapin baju bapak bunda", Jawab Hanan dengan senyum sumringah.
Merekapun berjalan mrnyusuri jalanan desa, udara dingin dipagi hari terasa sejuk menusuk kulit.
" Dingin enggak bun?", Hanan mensejajarkan jalannya dengan Yasmin dan meraih tangan Yasmin untuk digenggam.
Ada rasa bergelenyar dalam hati Yasmin, sudah lama suaminya tak semesra ini, tapi demi apapun hati Yasmin tak bisa menerima seperti dulu lagi, jika dulu Yasmin pasti akan langsung bergelanyut manja dilengan Hanan, sekarang hal itu sulit ia lakukan, meski senang Hanan mau menggandeng jemarinya tapi Yasmi hanya diam tak ingin membalas apapun selain hanya sedikit pasrah atas perlakuan Hanan.
" Bun, tak bisakah bunda seperti dulu lagi sama bapak bun, bapak tak bisa mundur, semua telah terjadi, tolonglah bun, berusahalah untuk bisa berdamai dengan keadaan kita yang sekarang", Ujar Hanan berusaha merayu Yasmin.
" Kalau bapak menggandeng jemari bunda hanya untuk rayuan maut bapak, tolong lepasin, maaf atas keegoisan bunda, berat pak untuk menerima. keadaan ini, ketika bapak tidak memberi bunda pilihan harusnya bunda berdamai dengan keadaan, bunda sudah berusaha bunda juga berdoa, untuk menerima semuanya pak, tapi bagi bunda ini sangat berat, berat pak, jika ada pilihan bunda saja yang mengalah pak, bunda yang mundur", Suara Yasmin terdengar sangat tegar, Yasmin tak mau menangisi Hanan bagi Yasmin cukuplah diam dari pada menangisi suami yang hatinya sudah terbelah.
" Bun, itu tidak mungkin diantara kita ada tiga anak, merrka butuh kita", Jawab Hanan.
" Kalau begitu biarkan bunda tetap begini, bapak tak perlu peduliin bunda, atau sekedar bersandiwara agar kita terlihat baik baik saja didepan anak anak".
" Bunda, bapak tidak sedang bersandiwara, bapak melakukan semua ini karena bapak masih cinta sama bunda, kasih sayang bapak terhadap bunda tak berkurang, malah rasanya bapak makin sayang dengan bunda, jika tidak hampir selama bapak menikah lagi bunda tak mau disentuh bapak, bapak tidak pernah marah atau menuntut kan, itu karena apa? Karena bapak makin sayang sama bunda, bapak menghargai pengorbanan bunda yang telah merelakan bapak menikah lagi", Ucap Hanan penuh penekanan.
" Ya sudah kalau begitu, ridhoi bunda untuk tetap begini, kita tetap ada untuk anak anak tapi cukup sampai disitu saja, maaf bunda belum bisa seperti dulu lagi, masih sulit", Jawab Yasmin dingin, sungguh Yasmin tahu ini dosa tapi egonya, Astaghfirullohh....
__ADS_1
" Oke, bapak ridho bunda belum mau disentuh oleh bapak, maaf .... tapi, ingat bunda, itu bukan untuk selamanya, teruslah berusaha untuk memaafkan bapak dan menerima bapak yang sekarang", Hanan pun melepaskan genggaman tangan yang sedari tadi sudah ditarik oleh Yasmin.
Bersambung.....