JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Kesurupan


__ADS_3

" Anak anak, maafkan bunda, bunda harus mengambil langkah ini, kita harus pindah, Alhamdulillah keluarga pak Taslim sangat baik dan perhatian, kita dibetikan tempat tinggal, sepertinya sama seperti disini, disebuah perumahan, untuk Husain dan Aya sekolah disatu lingkungan tempat bunda mengajar, kemungkinan nanti akan bertemu bunda dikelas, namun untuk kakak Hasan, bunda punya harapan yang besar terutama kak Hasan, bunda masukkan kakak ke SMU yang disana ada tahfihz Qur'annya kak.... semoga kakak bisa menjadi contoh untuk kedua adikmu ini kelak mereka pun juga mau menjafi tahfidz", Yasmin menjelaskan pada ketiga anaknya.


Kini ketiga anak Yadmin itu sudah mulai tahu keadaan orang tuanya, oleh karenanya mereka selalu menurut pada bundanya, nama Hanan sebagai bapaknya sudah tidak mereka harapkan lagi untuk bisa bermanja atau meminta bekal sekolah, mereka sudah tidak berharap lagi.


" Benar kata bunda kita harus belajar ikhlas hidup tanpa bapak, bapak sudah punya keluarga lain, kakak mantap pindah dari rumah ini, karena disini kakak akan terus mengharap bapak pulang disuaru sore, dan itu sudah tak mungkin lagi", Ujar Hasan pada bunda dan adik adiknya.


" Iya, Husain bahkan tidak mau ketemu bapak untuk selama lamanya, kalau bapak bisa lupa sama kita, ya kitapun bisa lah ngelupain bapak", Ujar Husain sambil berkaca kaca.


" Aya benci bapak, sangat.... jika nanti bapak telpon Aya, mau aku matiin ponselnya ga akan pernah aku jawab", Berbeda dengan kedua kakaknya Aya sudah tidak menangis lagi, wajahnya nambak ada kemarahan yang dalam.


" Sudah, kalian tidak boleh dendam doakan bapak setiap kalian selesai sholat, biar bapak sehat meskipun tidak bertemu, kalian mau pamit pada bapak tidak?!", Tanya Yasmin.


" Tidaaakkk!!!", Ketiga serempak menjawab.


" Ya sudah, kita titip pesan saja sama bu Nunik ya, terus nanti begitu kita sampai disana kita ganti nomer", Yasmin kali ini mendukung tindakan anak anaknya yang memboikot bapaknya.


" Biarkan... ini pelajaran pertama dari kami mas... dan jika kamu kesini jejak kami sudah tidak bisa kamu temukan", Batin Yasmin.


Yasmin sudah mengemas semua miliknya bahkan baju Hananpun sudah dikemas, dikasih lebel tulisan "Barang milik Bapak" Yasmin pasang diluar koper, tidak ingin ada barang tercecer sedikitpun, karena rumah mau dikontrakkan, dan jikasudah ada yang mau ngontrak harus menghubungi bu Nunik namun uangnya langsung ditransfer ke Yasmin.


Rumah sudah kosong dan bersih, tansman yang biasa Yasmin urus sudah pundah tangan, yakni sekarang diurus bu Nunik, baju Hanan yang sudah dikemas teronggok di ruang tamu, sofa, kasur dan perabot yang lain Yadmin kirim ke kampung karena menurut pak Taslim Yadmin sudah mendapat inventaris rumah beserta perabot lengkap.


Pak Taslim dan bu Ida memang berbeda memperlakukan Yasmin, selain karena Yasmin pintar sehingga pak Taslim punya harapan dengan adanya Yadmin sekolahnya bisa lebih maju, juga karena Yasmin orangnya amanah, itu yang membuat pak Taslim dan bu Ida tidak pernah perhitungan membantu Yasmin.


" Bun, bapak sama ibu berharap disana nanti bunda dapat jodoh yang menyayangi anak anak dan sayang juga pada bunda", Ujar pak Taslim tulus saat merayu Yasmin agar mau pindah kota.


Yasmin hanya tersenyum saat itu, jujur masih jauh dari angan, kegagalan kemarin masih belum dimengerti oleh Yasmin letak kesalahannya, namun Yasmin tidak mau menutup hati, bagi Yasmin pasrah saja jika masih diberi takdir ketemu jodoh ya oke, begitu saja.

__ADS_1


Hidup itu mengalir, tidak semua yang menjadi impian akan betjalan mulus sesuai keinginan, terkadang jauh dari impian, tapi hal yang demikian itu adalah menjadi pelajaran, karena manusia harus belajar dari banyak sisi, ada dari pengalaman pahit ada dari sekolah, ada dari sahabat juga ada dari kegagalan.


Yasmin mencoba bahagia dengan anak anak, nanti jika sudah srek ditempat baru, dia pasti akan khusus meminta itu pada Robbnya, jodoh.




Meninggalkan Yasmin yang masih lipat lipat baju, kita lihat mama Dewi yang sudah hampir tiga minggu tak bisa tertawa, malu! belum ada uang untuk ke bengkel gigi, hiks kasihan.



" Mama.... kok manyun aja, lagi sariawan ya?", Goda Hanan yang mrlihar Dewi tak pernah senyum lagi, padahal luka sobek dibibirnya sudah sembuh dan meninggalkan bekas luka seperti sumbing yang tidak parah.




Hanan kasihan sih, melihat Dewi yang sekarang , banyak bekas luka disekujur tubuhnya, bahkan yang benar benar akan menjadi ciri baru bagi Dewi yakni kepalanya yang pitak lumayan lebar dan itu posisi didepan sedikit kesamping, soalnya Dewi tidak memaki helm saat kecelakaan, rumah dia dan orang tuanya yang tidak berjarak jauh membuatnya menganaikan pelengkap keselamatan saat berkendara motor itu, yakni helm.



Karena malu jika menjadi perhatian orang Dewi sekarang rajin mengenakan hijab meskipun dirumah. Meskipun kadang hanya kupluk penutup kepala saja.



Belum lagi giginya yang ompong, mana dua didepan, mungkin bagi yang punya uang tidak masalah, sekarang urusan gigi tidak sesulit jaman dulu banyak dokter bagus peralatan canggih, ada juga bengkel bengkel dental dipinggir jalan berjajar, tetapi itu kan tidak gratis.

__ADS_1



Belum lagi setiap seminggu sekali harus kontrol kaki Zea, untuk terapi jalan, juga obat obatnya yang terus harus ditebus setiap kali habis kontrol.



Hanan pusing, ingat terus pada Aya tetapi kondisi yang belum memungkinkan pikirnya. Menggunjungi anak juga harus membawakan sesuatu tetapi Hanan berpikir jika Dewi dan Zea harus didahulukan, jika Aya dan dua H kan sehat sehat saja, nanti sajalah jika sudah bisa sedikit bernafas baru akan menjenguk dan meminta maaf pada Aya.



Tak ada sedikitpun usaha Hanan untuk menjelaskan melalui telpon agar Aya tak sakit hati, karena sejatinya seorang anak itu akan selalu mengerti akan kesibukan orang tuanya jika diberi pengertian dan juga perhatian, tetapi Hanan lupa dia tidak memberikan penjelasan, meminta maaf dan perhatian itu pada ketiga anaknya.



Akhirnya liburan ini Hanan mengambil alih jualan on line, dari pada pusing, duit ga ada, liburan pun tak bisa, hutang dimana mana, penatlah hati dan pikirannya, mau in the hoy juga istrinya cidera, lengkaplah liburan tahun ini Hanan jadi upik abu.



Saat kecelakaan kemarin ponsel Dewi hilang, entah jatuh entah diambil orang yang jelas tak ada satupun kawannya menengok mungkin karena tak ada kabar berita di status media sosial Dewi sehingga tak ada kawannya yang mendengar kabar jika dirinya kecelakaan, pikir Dewi.



Saat sedang melamun, tiba tiba Dewi kayak orang yang kesurupan, matanya membalik keatas jadi terlihat putih, tangannya kejang kejang, Hanan langsung berlari memanggil ustadz karena ditepuk tepuk Dewi tidak merespon.



Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2