
" Nah minggu ini kak Husain... Aya persiapan ya... seminggu lagi giliranmu dik, ujian kenaikan kelas, terus kita liburan", Yasmin masih setia mendampingi putra putrinya untuk belajar.
" Nah itu, mau pulang kampung itu yang membuat kita semangat bunda", Jawab Hasan sumringah.
Selesai mendampingi anak anaknya belajar Yasmin mencoba mengirim pesan pada Hanan, mengingatkan kewajibannya dan juga janji mengganti uangnya yang dua juta yang telah terpakai untuk anak anaknya beli buku dan sebagainya. Hanan sudah janji akan menggantinya.
" Bun, nanti srbelum Aya ujian kenaikan kelas bapak suruh kesini ya, Aya mau tidur ditemani bapak", Ujar Aya pelan, dengan menatap pada bundamya sedikit sungkan.
" Boleh, iya bunda kabari sekalian sama bapak", Jawab Yasmin dengan tersenyum.
Wajar jika Aya sangat manja pada bapaknya, dia anak perempuan pasti akan merasa dekat dengan bapak sudah gitu dia paling kecil di rumah ini, perpisahan orang tuanya dia bisa terima tetapi bagi Aya tetap harus merasakan pelukan bapaknya jika rindu.
" Boleh bun Aya sekarang telpon bapak?", Tanya Aya.
" Boleh nih, diluar sana biar ga ganggu kakak Husain yang sedang belajar", Yasmin memberikan ponselnya pada Aya.
Dengan senang hati Ayapun menghubungi bapaknya, rindu pasti, ingin bercerita juga serta ingin bertemu.
Aya mengutarakan keinginannya untuk bisa di kelonin ketika bobok sama bapaknya, dan bundamya bolehin, tentu yang senang bukan hanya Aya, Hananpun tak kalah bahagia.
Meskipun pasti tidak akan bisa melihat lagi wajah mantan istrinya secara keseluruhan tetapi melihat sorot mata Yasmin sudah merupakan anugerah.
Hanan sadar jika sorot mata itu kini bagai bintang hanya bisa dilihat namun tak bisa diraih.
Sampai pada hari dimana Aya dan Hanan janjian akan bertemu dirumah.
Dari siang Aya sudah mengharap bapaknya datang bahkan sudah beberapa kali telpon dan kirim pesan agsr bapaknya tak melupakan janjinya dan Hanan sepertinya dengan senang hati menyanggupi.
Begitupun dengan Yasmin dia sudah lapor pada pak RT dan beberapa tetangga terdekatnya jika Aya rundu bapaknya dan Hanan akan nginep di rumah ini.
__ADS_1
Jam lima, maghrib, isyak hingga jam sembilan Aya tak putus asamenelpon tetapiHanan seperti ditelan bumi, jawaban terakhir tadi jam empat katanya sebentar lagi akan berangkat nyatanya nihil, Hanan tak datang.
Hancur sudah harapan Aya, anak itu terisak dikamarnya, bahkan sampai tak makan malam. Yasmin tak henti hentinya membujuk penuh kasih, bahkan diapun beberapa kali mencoba menghubungi Hanan tapi tidak aktif.
Hasan yang melihat keadaan itu hanya mengeratkan gigi dan mengepalkan tangannya, sementara Husainpun ikut menangis sembunyi sembunya agar tidak ketahuan penghuni rumah yang lain, hatinya tak rela melihat adiknya menangis, dan lebih parahnya yang membuat menangis seperti itu adalah bapaknya, orang yang paling dia hormati.
" Sudah ya dik.... Terkadang orang tua itu bukan melupakanjanjinya tetapi ada sebuah alasan yang lebih kuat sehingga mengingkari janjinya... Adik harus maklum, bapak itu punya keluarga yang lain yang mesti harus dijaga, mereka juga membutuhkan bapak seperti Aya juga membutuhkannya, mungkin hari ini bapak tidak datang karena ada sesuatu, kita diakan bapak tidak apa apa, jadi tidak bisa hari ini mungkin bisa lain hari", Yasmin mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
Jika iya, disaat ini Yasminlah yang menjerit, yang paling, paling kecewa, tetapi tidak mungkin juga Yasmin mengamuk atau marah, dia akan menanyakan pada Hanan nanti pada waktunya, anak anaknya berhak atas perhatian Hanan juga hingga tiada batas waktu tanpa alasan.
Kenapa Hanan tidak menepati janjinya? Sedang mereka berpisah bukan karena bertengkar hebat, tetapi karena Hanan yang tetiba menjatuhkan talak, Yasmin tidak menginginkan perpisahan tetapi jika sudah dicerai apa iya akan mengemis cinta Hanan, pantang bagi Yasmin.
" Sabar ya..., Aya anak baik, anak sholeh, udahan yuk nangisnya, tidak mau kan Aya besok pagi bangun matanya seperti habis disengat lebah?", Goda Yasmin dengan mengepalkan tangannya dan menempelkan pada mata Aya.
" Ga bunda, besok Aya mau tidur lagi habis subuh....", Aya kemudian bangun dan menuju kamar mandi untuk cuci muka.
" Besok kan hari minggu kalian istirahat dan bantu Aya belajar ya", Ujar Yasmin pada kedua putranya yang terduduk di depan tivi.
Keduanya pun mengangguk setuju.
__ADS_1
Sementara ditempat lain
Hanan yang hendak berangkat ke rumah Yasmin untuk menginab disana, tetapi saat sedang berhenti di sebuah warung hendak membeli oleh oleh untuk Aya, dia bertemu temannya dan ngobrol hingga hampir satu jam.
Saat hendak melanjutkan jalan, tiba tiba dia melihat Dewi melintas dengan motornya. Hananpun diam diam mengikuti.
Hingga Dewi masuk kesebuah perkampungan masih terus dan tibalah di sebuah perkampungan yang diatas bukit sedikit jauh dari pemukiman yang lain.
Hanan bertanya mau kemana Dewi, perasaan tidak ada saudara atau sanak Dewi yang tinggal didesa itu.
Sedikit jauh dari rumah mereka, perjalanan naik motor dimalam hari begini hampir empat puluh menit.
Hanan melihat Dewi memasuki sebuah rumah namun tak berapa lama Hanan merasa ngantuk berat saat baru saja memarkirkan motornya dan melihat Dewi masuk rumah itu. Tertidurlah Hanan di dekar motor itu hingga hampir satu jam dan dia terbangun seperti linglung kemudian menuntun motornya pergi menjauh dari rumah itu, lupa maksud dan tujuannya datang ketempat itu, bahkan dia lupa jika tadi sedang menguntit Dewi.
Setelah berjalan sekitar empat ratus meter barulah Hanan naik motor dengan menghidupkan mesinnya.
Namun anehnya dia kembali pulang ke rumah Dewi dan tak ingat janjinya dengan Aya, bahkan suara telpon yang sedari tadi berdering pun Hanan seperti tuli, tak didengarnya, hingga akhirnya baterai ponselnya low.
Sampai rumah Hananpun tidur meringkuk dan dua jam kemudian Dewipun pulang.
Hanan tahu, tetapi lupa kejadian barusan hingga dia tak menegurnya pada Dewi yang pulang malam.
Dewipun cuek, dipikir Dewi, Hanan tidak jadi nginep di rumah istri tuanya . Diapun tersenyum senang, Dewi tidak tahu jika Hanan mengikutinya tadi.
" Pak ga jadi ngineb di rumah bunda?", Tanya Dewi sedikut mengguncang tubuh Hanan yang meringkuk.
" Hemm...", Hanan pun hanya bengong saja, pandangannya kosong, seperti orang bangun tidur yang terkejut.
" Ya sudah tidur lagi", Dewi mengira suaminya terkejut karena dia bangunkan, makanya menyuruh tidur kembali.
" Untung untung bapak sudah tidur, dasar si sableng dibilang jangan menaruh tanda kok ini malah sebanyak ini coba... bisa gawat jika bapak tahu... awas kau sableng!!!", Dewi menggerutu dengan kesal, entah dengan siapa yang dia maksud.
Dewi mengoleskan salep dibeberapa bekas gataknya yang kemerahan, kemudian ridur menyusul Hanan.
Bersambung.....
__ADS_1
Sabar.... sabar... kita tunggu si Dewi menjelaskan siapa si sableng yang ia maksud...