JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Karena gengsi


__ADS_3

" Bagaimana sekarang? sudah lebih baik?", Tanya dokter yang memeriksa Aya.


" Sudah dok, tapi masih pusing", Jawab Aya jujur.


" Dok, Aya ini pasien yang pintar lho, disini sendiri soalnya bundanya harus bolak balik kesekolah, bundanya Aya ini guru di yayasan PERSADA dok", Suster memuji Aya.


" Oh ya?!, Wah... putri dokter juga sekolah disana lho, kelas dua", Kata Dokter.


" Aya kelas tiga dok, Aya baru pindah jadi belum hafal dengan kelas lain", Jawab Aya.


" Oh ya? Baru pindah dari kota mana sebelumnya?", Tanya Dokter.


" Dari kota B dok", Jawab Aya, entah kenapa dokter itu begitu menyukai Aya, terlihat Aya ini menyenangkan sekali anaknya.


" Oh, semoga betah ya, jangan sedih biar tidak sakit, nanti juga bakalan banyak teman kok disini", Ujar dokter mengacak rambut Aya gemas.


" Iya dok", Jawab Aya dengan tersenyum malu malu.


" Anak pintar, siapa nama mamanya yang menjadi guru Di PERSADA?", Tanya dokter.


" Oh, bunda aku dok? Bunda aku namanya Yasmin Sera", Jawab Aya dengan tersenyum.


Dokter itu langsung mengkerutkan keningnya tajam dan kemudian tersenyum lebar.


" Oh ya?, Kalau Ayah Aya siapa namanya?", Tanya dokter lagi.


" Hemmm..... Hananto", Aya menunduk sedih saat menyebutkan nama bapaknya.


Hingga dokter tak menyadari jika Aya kini tak seceria tadi, dokter itupun tersenyum makin lebar.


" Lho kok sedih, memang Ayah Aya kenapa?", Suster yang menyadari ada kesedihan di wajah Ayapun penasaran.


Aya menggeleng tapi air matanya menggenang di pelupuk mata. Dokter itupun kemudian mengatupkan bibirnya dan memperhatikan raut wajah Aya.


" Bapak aku sudah ga sayang lagi, bapak memilih hidup sama keluarga barunya", Dokter yang mendengarkan ucapan Aya seperti tidak percaya.


" Oh, jadi Aya pindah karena bapak punya keluarga baru?", Ucap dokter pelan.


Aya mengangguk sedih.


" Jangan sedih, besok dokter kenalkan sama putri dokter ya, dia juga sudah tak punya ibu, tetapi dia bisa happy terus, mau kalau dokter kenalkan pada putri dokter?", Ujar dokter lembut.


" Iya ", Aya mengangguk cepat, " mau", kemudian tersenyum.


" Iihh.... cantik banget kalau tersenyum ya, Aya ini dok", Ucap suster memuji kecantikan yang dimiliki bocah delapan tahun itu.


" Iya dong, bundanya juga cantik banget", Jawab dokter seraya tertawa.

__ADS_1


" Ih, kapan dokter ketemu dengan bundanya Aya, perasaan setiap visit ke Aya dokter lihat anak itu sendiri terus lho, kalau suster memang sudah ketemu tiga hari ini berturut turut jadi memang iya, mamanya cantik dan kalem serta sopan banget dok kesiapa saja, asli dok, baru lihat saja saya tahu soalnya kemarin saat mbak Ira ngepel masih basah terus bunda Aya lewat terus kepeleset dia tidak marah, malah minta maaf pada mbak Ira karena sedang ngepel malah dia lewat, sampai mata mbak ira berkaca kaca terharu saking sopannya dok", Suster menceritakan Yasmin dan mbak Ira OB yang bertugas di kamar Aya.


Dokter itu cuma tersenyum mendengar cerita suster.


" Kok senyum dok?", Tanya suster.


" Luar biasa ya dijaman sekarang masih ada orang yang bisa berperilaku sopan kayak gitu", Ujar dokter akhirnya menanggapi cerita suster.


" Nah itu mbak Ira saja sampai berkaca kaca, terharu", ucap suster.


" Aya, dokter sama suster permisi dulu, anak pinter istirahat biar lekas sembuh, besok dokter datang lagi bawa putri dokter ya", Dokter itu mengusap lembut kepala Aya.


" Terima kasih dokter ", Aya tersenyum senang.




Semenjak Aya nelpon dan sedikit diabaikan, Hanan merasa menyesal tetapi semenjak itu telpon Yasmin dan anak anaknya tak bisa lagi dihubungi.



Akhirnya Hanan menelpon bapaknya di kampung untuk menanyakan kabar ibunya dan juga menanyakan kabar anak anaknya.




" Soalnya menurut keterangan dari srkolah Aya pak, Aya itu pindah ke SD Sido Maju , SD dikampung kita", Jawab Hanan.



" Ga ada, kok rasanya Yasmin tidak mungkin begitu tidak memberitahukanmu walaupun kalian sudah pisah, apa yang telah kamu lakukan sehingga Yasmin kucing kucingan seperti ini, Yasmin itu selalu memberi tahu segala hal, kamu pikirkan, yang tahu hanya kamu, bapak makin kecewa!!!", Bentak pak Harun.



" Apa pak? Hanan sudah ceraiin Yasmin??!!!", Ibu yang baru masuk rumah langsung berteriak dengan kagetnya.



" Ibuui", Teriak bapak dan Hanan bersamaan di telpon, Hananpun juga mendengar teriakan Bu Ainun, Pak Harun langsung menarih ponsrlnya begitu saja dan berlari mendekati istrinya.



" Ibu, ibu.... Sadar bu, nyebut bu, nyebut bu.... Astaghfirullohaladzim....", Pak Harun membimbing istrinya yang tetiba lemas dan linglung.


__ADS_1


" Astaghfirulloh.... Bapak!!! kenapa Hanan seperti bapak?!, Ya Alloh.... ", Desah bu Ainun dengan kesedihan dan kekecewaan yang luar biasa.



" Sabar bu, sabar!, Bapak juga marah bu, malu sama besan, anak kita sudah melemparkan kotoran diwajah kita ibu...", Pak Haruspun mendesah pilu.



" Sejak kapan pak? Sejak kapan? Apakah setelah Yasmin pulang dari sini?", Lirih bu Ainun.



" Sejak, sebelum ibu masuk rumah sakit", Lirih pak Harun.



" Gusti, ya Robb.... Ampuni hamba gustiii", Desah bu Ainun.



" Ya ampun.... padahal waktu liburan kemarin Yasmin bekalin ibu amplop pak, berarti dia saat itu sudah bukan mantu kita... Gustiii... Hanan Hanan.... seperti apa istri baru mu hingga Yasmin kamu buang ... Bapak sama ibu memilihkan yang terbaik, malah di buang begitu saja.... Sadar Nan Hanan", Isak bu Ainun, mereka berdua duduk dilantai dengan berselonjo kaki, bu Ainun bersandar didada pak Harus, Sementara pak Harun bersandar ditembok, dua orang tua itu meratapi kesedihan kehilangan menantu pilihan.



Hanan yang masih tersambung disanapun mendengar semua obrolan kedua orang tuanya itu, disana diapun ikut menangis, iya Hanan menyesali semuanya tetapi sudah tak bisa lagi diulang, semua sudah berlalu, sehingga meskipun Yasmin telah pindah ke kampungpun saat ini Hanan tak berniat mencari, malu.



Hanan terhenyak dengan rintihan ibunya, betapa orang yang dia hormati dan sayangi itu selalu mendoakan keutuhan rumah tangganya, tapi nyatanya dia gagal karena emosi sesaat.



" Ibu .... Biarlah aku seperti ini, aku malu pada Yasmin sangat malu, untuk mencari keberadaannya pun aku gengsi bu, maafkan aku ibu... ", Hanan mengusap dadanya yang terasa sesak.



Hanan tidak sadar jika kelalaiannya terletak pada gengsi, tidak berfikir ulang, kebiasaan yang terlalu tergesa mengambul keputusan, malu untuk bilang kata maaf, tidak pernah mendengar kata hatinya dan malas berjuang untuk mendapatkan kata maaf, dan itu akan menjadi hal yang dia akan sesali sangat kelak.



Bersambung.....



\#**Maaf hari ini wifiku sedikit lemot ya... lap lep begitu...


__ADS_1


Karena menulis juga butuh berfikir ya Readers... bukan foto copy, terima kasih buat yang sudah sabar dan berbaik hati.... 🤗🤗🤗😘😘🙏🙏🙏**


__ADS_2