JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Istri Sholehah


__ADS_3

Hanan Akhirnya masuk kamar kembali menyusul Yasmin yang sudah pulas.


Mendekap dan menyelimuti Yasmin dan menyusul Yasmin dialam mimpi.


Malam hari Yasmin bangun seperti biasa dia akan mengadukan sedihnya kepada sang kekasih yang abadi, bersujud dan mohon ampunan-Nya, kemudia dilanjut kedapur untuk meneguk air putih hangat dari termos saja tidak perlu merebus dituangnya kegelas dan membuka tempat nasi diambilnya sedikit saja ada begedel sisa kemarin sore dan ada juga telor dadar, cukup itu saja untuk mengisi perut Yasmin hingga mahrib nanti.


Selesai menyantap makan sahurnya Yasmin meminum air hangatnya kemudian menuju kamar mandi untuk bersih bersih bersiap untuk menyambut subuh.


Begitulah cara Yasmin mengadukan kesedihannya, tidak pernah melawan perkataan Hanan, tetapi Dia punya tempat paling dia percaya bisa menjaga segala aduannya, bukan hanya itu bahkan memberinya jalan keluar setiap permasahan hidupnya, hanya butuh tekun dan sabar.


" Pak bangun subuh dulu", Ucap Yasmin pelan memangunkan Hanan.


Dihati Yasmin membatin kok tumben suaminya harus dibangunin, sepanjang menjadi suaminya biasanya Hanan rajin berangkat ke masjid jika subuh.


" Hah sudah siang bun?", Tanya Hanan terkejut.


" Sudah adzan, apa bapak tidak dengar?", Tanya Yasmin pelas meski dalam benaknya ada rasa heran Yasmin tetap bisa menhaga intonasi bicaranya.


" Oh, tidak bun", Hanan langsung bergegas menuju kamar mandi.


Sementara Yasmin keluar untuk membuka gembok pagar agar suaminya bisa langsung kemasjid tidak membuang waktu lagi untuk membuka kunci gembok.


Hanan berjalan dengan tergesa karena sudah terdengar iqomah beberapa saat lalu.


" Hati hati pak, tidak usah lari lari, nanti sholatnya malah tidak khusyuk", Ujar Yasmin mengingatkan Hananto.


Mendengar ucapan Yasmin Hananpun melambatkan jalannya, seperti diingatkan bahwa sholat tidak boleh buru seandainya tertinggal bisa menjadi makmum masbuk.


Dalam hati Hanan seraya melangkah dia tersenyum kecil, istrinya itu seperti menjadi pengingat tentang hal kecil yang jarang dia amalkan.

__ADS_1


Yasmin masuk kembali kedalam rumahnya dan membangunkan anak anaknya, harusnya Hasan dan Husain ke masjid namun dua anak remajanya itu masih sulit untuk dibangunkan harus lebih telaten lagi Yasmin mengingatkan.


Begitulah tugas orang tua, dan saat ini dia harus lebih keras lagi untuk membimbing anak anaknya karena pasti Hanan akan lebih jarang lagi membantu mengawasi ketiga putra putrinya itu.


" Kakak bangun", Yasmin membuka pintu kamar kedua putranya dan menyalakan lampu agar anaknya lekas bangun.


" Iya bun", Jawab Husain.


Yasmin bergegas menuju kamar Haya dan membangunkan putrinya itu, hal yang sama ia lakukan menyalakan. lampu agar teras dan putrinya segera bangun.


" Iya bun", Jawab Haya malasa malasan.


Yasmin kemudian menunaikan sholat dikamar, sambil mengaji walaupun itu hanya satu 'ain Yasmin tetap menyempatkan waktunya membaca kalimat kalimat suci itu.


Hanan sudah kembali dari masjid Yasminpun menuju dapur untuk membuatkan kopi suaminya serta sarapan untuk anak anaknya.


" Mau sarapan dulu atau sekalian sarapan s*** di rumah maduku itu", Jawab Yasmin pada akhirnya, denfan suara sedikit berbisik takut anak anaknya mendenfar, namun jawaban Yasmin itu membuat Hanan seperti di siram air panas, " Kaget dan langsung membara", Bagaimana tidak istrinya itu jarang bicara yang sekira tidak faedah.


" Kok gitu bicaranya?", Hanan benar benar tak menyangka istrinya bicara begitu.


Lagi Yasmin diam, tangannya sibuk menyiangi sayuran kemudian mengupas bawang, meracik bumbu untuk sayur buat pagi hari dan sore, untuk bekal ketiga anaknya Yasmin membuat sosis mie gulung telor saja, sedang untuk sarapan mereka Yasmin membuat nasi goreng dan ayam ungkep untuk anak anaknya pulang sekolah nanti sore ada juga sayuran tumis.


Hanan duduk dimeja makan sambil menyesap kopi hitam buatan sang istri, ketiga anaknya pun menyusul untuk sarapan.


" Sudah bunda siapkan ya bekal kalian", Ujar Yasmin pada ketiga anaknya.


" Iya bun, terima kasih, kami berangkat dulu Assalamualaikum", Pamitnya ketiganya menyalami bapak sama bundanya bergantian.


" Ibu nanti berangkat kerja jam sembilang dan pulang mungkin maghrib", Ujar Yasmin.

__ADS_1


" Baik bun", Haya pun pasrah, harusnya anak itu masih butuh bimbingan banyak dari bundanya tetapi Yasmin kini bekerja dan itu membuat bocah itu bakalan banyak menghabiskan waktu sendiri di rumah.


Yasmin memandangi kepergian ketiga anaknya dengan membacakan doa doa agar senantiasa anaknya mrndapat ilmu yang betmanfaat.


" Bapak berangkat sekarang juga bun, nanti jika ada bisa bapak sempatkan pulang kerumah ini jika tidak bapak malam nanti langsung tidur di rumah Dewi", Ujar Hanan ketika Yadmin sudah berada di dapur kembali.


" Kalau bisa usahakan pulang lah pak, kalau menginap disana tunggu anak anak tidur baru bapak berangkat", Ujar Yasmin, berusaha menjaga mental anaknya agar tidak down jika tahu langsung bapaknya tidak pulang.


" Bunda tidak tahu harus menjelaskan bagaimana terutama pada Haya, bunda takut mereka akan membencimu pak", Yasmin menghemtikan suaranya karena tenggorokannya langsung tercekat.


Bagaimana pun ketiga anaknya seharusnya masih butuh bimbingan kedua orang tuanya, sudah terbiasa mau tidur dan bangun tidur selalu ada kedua orang tuanya tiba tiba bapaknya jarang pulang, mau alasan apapun rasanya salah, seorang guru yang mengajar masih di wilayah yang sama meski beda kecamatan tetapi masih dekat hanya naik motor 15 menit juga sampai, kok tidak pulang, lantas kemana? pasti Haya bingung karenanya.


" Iya", Hanan sangat tahu hal itu akhirnya menurut saja.


" Sebesar apapun cinta bapak pada wanita itu bunda hanya mohon tetap perhatikan tumbuh kembang anak anak", Ucap Yasmin lembut, namun membuat Hanan tercengang.


Ada rasa terselip dihatinya, dengan pernyataan Yasmin barusan, nada suaranya santai tidak terdapat emosi, " Apa Yasmin begitu terluka sehingga tidak ada rasa lagi terhadapnya?", Bathin Hanan, tapi Hanan yang sedang puber itu egois tidak mau tahu lebih lanjut ucapan istrinya, malah membuat seakan istrinya penuh pengertian dan sudah menerima takdirnya dipoligami.


" Ya, nanti sore bapak pulang, bunda bekerja apa sih kok sampai maghrib?", Tanya Hanan.


" Bapak kira apa yang bisa bunda kerjakan? Seorang wanita ibu rumah tangga yang sudah lama nganggur, tiap hari hanya mengurusi dapur, kasur dan sumur terus sekarang bekerja? Butuh lagi penyesuaian pak, Alhamdulillah bunda seorang sarjana coba jika binda hanya lulusan SMP pasti bunda saat ini hanya bisa nyuci baju tetangga, menangis meratapi nasib, iya kan?", Tentu itu hanya ucapan Yasmin dalam hati karena kenyataannya Yasmin tidak menjawab begitu.


Bersambung.....


Jika pembaca ada pengalaman rasanya menjadi anak yang dipoligami boleh cerita atau memberikan masukan ya....


Karena Authornya blas.... tidak ada tahu tentang poligami, dikeluarga juga tidak ada pelaku poligami... Alhamdulillah....


Semoga pembacaku selalu menjadi pasangan terbaik untuk pasangannya dan disayang selalu Aamiin

__ADS_1


__ADS_2