
Baik bun, kita nyalain lilin ya bun atau bawa lampu emergency?", Tanya Husain.
" Terserah kalian, boleh dua duanya", Yasmin kemudian merebus air untuk membuat miniman hangat teman makannya bersama anak anak malam ini.
Satu teko teh panas telah Yasmin siapkan beserta gula dan gelas di sebuah nampan.
Sambil menunggu satu persatu pesanan mereka diantar, mereka menyiapkan peralatan makan yang lain.
Dan setelah menunggu hampir empat puluh menit pesanannya sudah lengkap Yasmin segera mengunci gerbang dan pintu utama kemudian menyusul anak anaknya dengan membawa makanan menuju keatas rumahnya.
" Sudah lengkap ayo kita makan", Ujar Yasmin dengan wajah berseri.
Mereka duduk bersama dan didepannya sudah tersedia makanan pesanan masing masing.
" Kita Foto bareng yuk, sebelum kita makan... Senyum", Ucap Yasmin, dia hanya ingin memasang fotonya nanti di status miliknya, tidak bermaksud pamer, hanya ingin menunjukkan pada Hanan bahwa dia tidak bersedih atas pernikahannya Hanan, bahkan sangat bahagia pun dengan anak anaknya.
" Berdoa dulu, kak pimpin doa ya", Titah Yasmin pada Hasan.
" Baik bun, Semoga kita berempat akan selalu bahagia terus, semoga bunda selalu sehat, semoga kakak dan adik adik kakak menjadi orang yang sukses dan bisa mebanggakan bunda, Bismillahirohmanirohim.....".
" Kenapa hanya kita berempat kak?!", Protes Haya dengan polos.
" Ya karena kita saat ini hanya berempat dik, sudah jangan protes cepat dimakan kakak sudah lapar nih", Jawab Husain cuek dia langsung melahab ayam bakar kesukaannya, selera yang sama seperti bundanya.
" Nah itu dik, jawaban kak Husain betul", Jawab Hasan dengan tersenyum pada adiknya yang cerewet itu.
Yasmin mengamati satu persatu anak anaknya makan, ada gumpalan keras yang seakan menyumbat tenggorokannya untuk makan, tetapi Hasan terus melihat sang Bunda seakan memaksa untuk segera melahab nasi yang didepannya, dan itu sukses membuat Yasmin menurut dalam diam.
" Bapak kenama sih, boleh ga bun Haya telon?", Tanya bocah itu.
__ADS_1
" Boleh", Yasmin memberikan ponselnya pada Haya dan bocah itu segera menyambungkan telpin dengan vc.
" Assalamualaikum Bapak?", Sapanya dengan wajah cemberut karena mendapati bapaknya disebrang sana tengah mengenakan sarung dan kaos oblong sesang duduk sepertinya diteras.
" Waalaikum salam cantiknya bapak, sedang apa itu kok remang remang?", Tanya Hanan memperhatikan video dari ponsel istrinya.
" Heheee.... kami sedang makan diluar pak, asyik lho, bapak dimana sih kok ga pulang jadi aja kita cuma berempat, dan kakak cuma berdoa untuk kita berrmpat saja bapak tidak didoakan sama kakak", Haya bercerita dengan wajah cemberut padahal tadi dia ceria merasa bangga karena makan diluar.
Deg
Hati Hanan sedih saat Haya bercerita jika kakaknya hanya berdoa untuk mereka berempat, pasti putranya itu memendam sakit dihatinya atas pernikahannya, apakah anak itu tahu jika bapaknya menikah hari ini?
" Bapak! Kok beging sih! Itu kenapa dibelakang bapak ada anak kecil lari lari siapa dia pak?", Tanya Haya polos.
" Oh ya, kalian makan diluar dimana? Oh itu adik , oh ya, nanti kapan kapan bapak kenalkan ya!", Ujar Hanan gugup.
" Adik,? Adiknya siapa pak, ih ga mau, Haya ga suka punya adik lagian Haya sukanya punya kakak kayak kak Hasan Husain, tidak mau punya adik segede itu, sudah nakal kalau gede gitu mah", Lagi lagi Haya protes dengan wajah bersungut.
Hanan berdiam diri untuk beberapa saat, mungkinkah anaknya akan senang mendengar punya ibu baru, pasti mereka berfikir punya ibu satu saja sudah lebih dari cukup, mungkin mereka bisa terbiasa dengan kehadiran adik adik tirinya, Hanan mrnarik nafas panjang.
Pasti bisa, akan aku buat bisa kalau orang lain bisa keluargaku juga pasti bisa, batin Hanan.
" Ini bun, Bapak sepertinya menginab di rumah orang, Aya ga suka bapak seperti sedang di rumah sendiri, santai tidak kelihatan ada teman bapak, sebenarnya bapak dimana sih bun?", Bocah itu betkata kata dengan wajah sinis merasa dibohongi sama bapaknya.
" Entahlan, tadi pamitnya mau nginab di rumah temannya selama dua hari", Jawab Yadmin tenang.
" Ya sudah kalian masih mau disini atau mau turun, udaranya mulai dingin lho", Ujar Yasmin.
" Tirun lah bun, sudah malam, lagian aku ada pe er", Jawab Husain.
__ADS_1
Merekapun kemudian merapikan tikar dan peralatan lainnya setrlah turun dan masuk kedalam rumah bersama sama.
Hasan tahu jika ibunya sedang bersedih, tetapi Hasan tidak bisa berbuat apapun juga, mungkin yang ia bisa lakukan saat ini adalah memberikan perhatian lebih pada kedua adiknya agar tidak memusingkan sang bunda.
" Bun, Hasan hanya bisa bantu berdoa semoga bunda kelak bahagia", Bisik Hasan didekat telinga Yasmin, membuat Yasmin terkesima.
" Tidak apa apa nak, mungkin benar yang dibilang bapak nak, ibu sedih karena belum terbiasa, jadi bunda akan membiasakan tetap bahagia meski sekarang sudah berbeda kondisi, dan jangan lupa kita tetap harus bersyukur ya", Yasmin tersenyum lembut pada Hasan.
" Sudah sana kerjakan tugas sekolahmu, keburu malam", Yasmin mendorong Hasan supaya menyusul Husain masuk kamarnya.
" Iya bunda".
Sementara ditempat lain Hanan sedang berbahagia ini adalah malam pertamanya denga Dewi setelah tadi jam 4 sore mereka melakukan akad secara siri.
Hanan masih asyik duduk di depan tivi sambil memainkan ponselnya sementara Dewi mengantar putri kecilnya yang berusia hampir enam tahun untuk tidur.
Tak ada perasaan yang bagaimana dihati Hanan selain rasa senangnya karena sudah berhasil menikahi Dewi janda beranak dua yang terlihat montok dan bohai itu.
Disini di rumah Dewi, rumah yang hanya mempunyai dua kamar tidur, sebuah ruangan yang didepan di pakai sebagai ruang tamu, ruang tivi dan juga ada setumpuk barang dagangan onlinenya, serta dibelakang ada dapur kecil dan juga kamar mandi rumah yang hanya memiliki luas tanah 56m2 itu, terletak disebuah jalan yang hanya muat satu mobil bisa dibilang gang, dan di ruang itu pyla jikaalam untuk menyimpan motor metiknya ditambah sekarang motor punya Hanan.
Terlihat sempit dan juga penuh tapi mau bagaimana lagi, memang begitu adanya.
" Mas, tunggu aku dikamar saja jika jenuh disitu, lagian tempatnya berantakan", Seru Dewi seraya mengocek susu untuk Zidan yang hendak tidur, krbiasaan anak bujangnya itu minum susu hangat sebelum tidur.
" Iya", Jawab Hanan tenang masih fokus dengan ponselnya.
Padahal ruang itu tadi sudah dirapikan karena dipakai akad, namun karena tadi barang dagangan Dewi dititipkan tetangga sebelah, jadi sekarang kembali berantakan karena begitu acara selesai barang dagangan Dewi pun dikembalikan.
" Cape ya?", Tanya Hanan pada Dewi yang baru saja keluar dari kamar anak anaknya.
__ADS_1
Bersambung.......