
Rasa syukur dan bahagia benar-benar dirasakan di keluarga dokter Yusuf dan Yasmin.
setelah bayinya dibawa pulang ke rumah kedua orang tua dari kedua belah pihak datang untuk melihat bayi sekaligus untuk melihat rumah baru mereka sekalian juga untuk mengadakan aqiqah.
" Yafizan Thoriq Nugraha, Kakak Awa mau panggilnya dedek Yafi", cara Awa penuh rasa bahagia.
" Iya kita panggilnya Yafi", semua setuju dengan panggilan yang diberikan oleh Awa.
" Bersyukur ya Mas diusiamu sekarang masih di berikan lagi keturunan, laki-laki pula, lengkap sudah kebahagiaan hidup Mas, banyaklah bersyukur semoga kamu lebih bahagia, hidup kamu lebih tentram dan anak ini bisa menjadi kebanggaan keluarga serta penolongmu di akhirat nanti", ibunya dokter Yusuf memberikan nasehat pada dokter Yusuf dengan lembut.
" Iya bu saya sangat bersyukur bukan karena saya dapat anak laki-laki ini saja, tetapi karena dapat 2 bujang dua gadis pula, Bu aku benar-benar merasa menjadi orang yang sangat beruntung Bu, Yasmin adalah sumber kebahagiaan ku bu, bukan hanya itu hidupku Kini lebih tentram lebih berkah insya Allah", ucap dokter Yusuf.
" ini semua berkat doa-doa yang itu panjatkan untuk ku bu, Terima kasih!", ucap dokter Yusuf seraya memeluk lutut ibunya.
" Iya nak, jangan pernah kamu sakitin Yasmin dan anak-anakmu, mereka menggantungkan hidup pada mu, buatlah mereka bangga padamu, didiklah sesuai syariat ingat itu pesan Ibu Ya", dokter Yusuf manggut-manggut dan kembali memeluk ibunya erat.
" wah ramai sekali di sini Masya Allah ada 5 cucu nenek semoga kalian jadi anak yang sholeh sholehah ya", seru ibunya Yasmin ketika melihat cucunya tengah bermain.
" Begitulah bu jika sedang berkumpul seperti ini meskipun capek tapi Yasmin sangat bahagia Bu sangat senang melihat mereka apalagi nanti tambah ini nih yang masih merah nih ucap Yasmin.
Dan keluarga itu nampak sangat bahagia dan terlihat saling menyayangi.
Hanan lama melihat rumahnya, pikirannya melayang kewaktu empat tahun lalu, dimana dia meninggalkan anak anak dan istrinya tanpa berpikir akan ada penyesalan dikemudian hari.
Kini rumah itu sepi, sepertinya tidak ada penghuninya, Hanan memegangi dadanya yang terasa sesak, matamya sudah berembun, tenggorokannya panas terasa tercekat bahkan tarikan nafasnya juga terasa berat.
" Pak Hanan?", Sebuah suara menghentikan Hanan dari lamunan panjangnya, sontak menoleh dengan segera mrngusap air matanya.
" Assalamualaikum pak Agus", Hanan dengan setengah kaget dan sedikit gugup karena baru saja menangis menyapa Pak Agus dengan salam.
" Waalaikumsalam..... Apa kabarnya nih? lama nggak pernah ke sini ke mana saja?", ujar Pak Agus seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman, yang langsung disambut oleh Hanan.
" Ayo mari silakan mampir... sini sini sini.... kita ngobrol sudah lama tidak ketemu nih!", dengan ramah pak Agus mempersilahkan Hanan untuk mampir ke rumahnya.
" Tidak ngerepotin ini pak?", tanya Hanan dengan sedikit tidak enak hati.
__ADS_1
"Aaahhh..... santai saja Pak! saya Sudah pensiun ya begini nih di rumah", jawab Pak Agus seraya membukakan pintu untuk mempersilahkan masuk.
" Bagaimana nih Sudah lama Saya tidak pernah kemari?", tanya Hanan.
" Alhamdulillah Pak anan disini semuanya sehat baik anak saya yang besar sudah menikah Pak sekarang di bawah suaminya ke luar pulau", Pak Agus menceritakan tentang anaknya.
" syukurlah".
" Pak Hanan sendiri bagaimana? sekarang tinggal di mana kenapa ke sini sendiri nggak bawa istrinya? sudah dikaruniai momongan atau belum?", tanya Pak Agus beruntun.
" Saya tinggal dikontrakkan Pak saya dapat mutasi pindah mengajar di pinggiran kota di kampung, saya tidak nambah anak, istri saya ada tapi tidak ikut kebetulan", jawab Hanan dengan sedikit tertunduk malu ingin menceritakan perjalanan hidupnya, Hanan merasa hidupnya kini memalukan diketahui orang banyak.
" Oh begitu!".
" Rumahnya itu baru juga kosong pak seminggu yang lalu, makanya itu belum saya tulisin di kontrakan, pindah tugas yang ngontrak kemarin, dan bu Yasmin tidak pesan apa pun udah saya kabarin jika kosong tapi belum ada kabar lagi nih mungkin beliau masih sibuk!", Kata Pak Agus.
Hanan hanya manggut-manggut saja.
" Mungkin akan saya tempati sendiri tapi saya harus izin dulu sama bundanya anak-anak", ucap Hanan.
" Oh itu bagus itu silakan bicarakan dulu dengan bundanya anak-anak", jawab Pak Agus.
" Iy pak".
" Maaf saya mau tanya Pak, jika nomornya bundanya anak-anak apakah bapak punya?", tanya Hanan malu-malu.
__ADS_1
" Bundanya anak-anak saya ya saya punya Pak, Tapi kalau bundanya anak-anak Bapak saya tidak punya, yang punya itu istri saya cuma kebetulan istri Saya sekarang sedang pergi, sebentar saya kirim nya pesan untuk menanyakan nomor bu Yasmin", Ucap pak Agus seraya mengambil ponselnya untuk kirim pesan pada Bu Nunik.
Setelah menunggu beberapa saat pun Bu Nunik membalas pesan pak Agus namun malah bilang ke Pak Agus jika dia susah dihubungin karena tidak akan memberikan nomor Yasmin kepada Pak Agus bu Noni berniat untuk mengerjai Pak Hanan. Pak Agus pun hanya menjawab Ya saja menyiapkan rencana istrinya.
" Maaf Pak Hanan, istri saya sepertinya hp-nya lowbat ini hanya kekirim sepotong da tidak jelas belum ada nomornya bu Yasmin pula", ujar Pak Agus berbohong.
Hanan cuma mengangguk nampak jelas raut kekecewaan di wajahnya.
" Tolong ya Pak nanti jika Ibu sudah pulang saya minta nomornya Bunda, ini nomor saya Pak saya kemarin ponselnya hilang jadi saya ganti nomor", jelaskan dengan suara lesu.
" Baiklah".
" Saya habis kecelakaan Pak sehingga HP saya hilang Saya baru saja bisa berjalan tanpa alat bantu", Hanan bercerita mengenai keadaannya selama pisah dengan Yasmin, bagus dengan serius mendengarkan cerita Hanan namun Entah mengapa di hatinya tidak ter ketuk untuk menjeda kan tentang Yasmin yang sekarang.
" saya terakhir ketemu bu Yasmin juga dah lama Pak udah 1 tahun lebih yang lalu, kebetulan kami bertemu di kampungnya bu Yasmin karena saya mau main di tempat teman ", Pak Agus pun bercerita namun tidak menceritakan tentang pernikahan Yasmin.
" Oh begitu, Bapak juga bertemu dengan anak-anak? bagaimana kabar mereka Pak?", tanya Hanan.
" Mereka semua baik, sehat, bu Yasmin mengajar di salah satu SMA di kota C", kata Pak Agus sedikit memberikan klu.
" Di kota C pak?", Hanan meminta kejelasan.
" Iya sih waktu itu bilang yang seperti itu", jawab Pak Agus.
Hanan manggut-manggut dalam hatinya dia menyimpan baik-baik sebuah nama kota C dalam hatinya untuk mencari anak-anaknya dalam waktu dekat ini.
__ADS_1
l