
" Syukurlah, itu harapan kami untuk bapak karena kami yakin Bapak sudah sangat bahagia bersama pilihan hidup Bapak, berarti pilihan hidup Bapak tidak salah dan itu menentramkan bagi kami, dan anak-anak", Ucap Yasmin.
Hanan mengangguk pelan kemudian tertunduk matanya lurus melihat ke bawah, bibirnya tertarik melengkung namun hanya sebelah.
Ya, tersenyum miring untuk dirinya sendiri, miris jika hidupnya tidak sesuai dengan apa yang diucapkan Yasmin barusan.
Untuk mengangkat kepalanya kembali dan menatap lurus ke pada Yasmin rasanya malu benar-benar malu. siapakah wanita yang di hadapannya kini, benarkah dia itu Yasmin Sera mantan istrinya.
Ingatannya kembali pada masa-masa masih kuliah, yah wanita itu sesegar itu saat ini bedanya jika dulu tanpa riasan make up namun sekarang yang ada polesan make up meskipun tipis tipis dan terlihat lebih dewasa.
Lagi-lagi Hanan hanya tersenyum miring untuk dirinya sendiri, " bodoh!", gumamnya dalam hati, meringis, menertawakan kebodohan nya.
" kok jadi diam-diam begini sih", Ciletuk Aya membuyarkan keheningan yang sesaat terjadi.
" Ceritakan saat Bapak kecelakaan, kapan?", sela Husain.
Yasmin yang mendengar mengkerutkan keningnya," kecelakaan? siapa yang kecelakaan?", tanya Yasmin penasaran.
" Bapak Bun, katanya Bapak habis patah kaki", jawab aya sementara Hanan hanya diam dan sedikit tertunduk.
" Betul itu mas?", tanya Yasmin, Hanan mengangguk sambil melirik Yasmin sekilas.
" itu sudah lama, sekarang saya udah sembuh, makanya baru nyari kalian", jawab Hanan.
" kenapa sendiri sebaiknya jika ingin menemui kami bawalah istrimu Mas", ucap Yasmin.
" Ya mungkin lain kali", jawab Hanan malas.
" Bagaimana kabar kalian selama berada di kota ini?", tanya Hanan.
Mereka berempat serentak menatap Hanan dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
" Happy lah Pak daripada di kota A dulu", jawab Aya sesuai isi hatinya.
" Nah Kak Husein setuju jawaban Aya, Kakak juga bisa lebih fokus sekolah di sini", jawab Husein seraya memberikan Dua jempol tangannya kepada Aya.
" Apa yang Bapak pikirkan mengenai kehidupan kita berempat? Apa Bapak pernah berpikir apakah anak-anak bapak bisa makan, bisa tidur nyenyak, bisa hidup tentram bahkan bahagia? jawab Pak pernahkah bapak memikirkan hal itu selama kita berpisah!", Hasan yang memang sudah lebih dewasa daripada kedua adiknya bukan menjawab pertanyaan bapaknya tapi malah membalikkan pertanyaan tersebut dengan pertanyaan lagi bahkan wajahnya lebih dingin dari sebelumnya.
Yasmin menaruh tangannya pundak Hasan kemudian membelainya lembut dengan menatap lembut kepada sang putra.
Hanan yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Hasan langsung terkesiap wajahnya sungguh tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya kemudian dia tertunduk dalam hanya lantai yang dia lihat.
" Hormati bapak, meskipun Kakak pernah kecewa dengan bapak darah di tubuh adalah darah bapak, Bunda harap kalian selalu menghormati Bapak jangan lupakan itu", ucap Yasmin memandang lembut kepada Hasan dan kedua adik-adiknya
" Iya Bun, kami sangat menghormati bapak, karena Bunda yang mengajari kami Dan itu kami lakukan karena kami adalah darah daging bapak itu tidak bisa dipungkiri", ucap Hasan.
" Terima kasih Bun, karenamu anak-anakku sangatlah tumbuh dengan sangat luar biasa Terima kasih karena anak-anakku lahir dari rahim wanita hebat sepertimu wanita sholehah", ucapanan terbata-bata dengan mata yang berkaca-kaca.
" Iya kami menghormati bapak karena Bunda yang mengajarkan kepada kami, tetapi wanita hebat dan sholehah seperti Bunda tidaklah pantas menjadi istri dari seorang seperti bapak ini", Husein berkata dengan lantang, membuat Yasmin ternganga tidak menyangka putranya akan berkata seperti itu.
" Bun, sudah lah Bun! kami sudah besar sudah tahu tentang kebenaran hidup kita berempat, memang benar yang dikatakan Husain Kakak setuju, orang seperti bapak mungkin memang tercipta bukan untuk wanita seperti Bunda", Hasan setuju ucapan Husein.
Mendengar kata-kata kedua putranya saat ini yang dirasakan Hanan adalah rasa malu, menyesal yang membuat dadanya seperti tak ada detak lagi di jantungnya. Lemas dan sesak, tubuhnya seperti tak bertulang akhirnya dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan sangat lemas wajahnya sudah pucat, entahlah efek pembicaraan yang terjadi dengan ketika anaknya dan mantan istrinya atau karena lupa belum sarapan begitu bangun langsung ke masjid jamaah ceramah hingga sampai di rumah dokter Yusuf ini.
" Waahhh.... rupanya ada tamu to?!", dokter Yusuf tiba-tiba saja keluar membuat Hanan mengkerutkan keningnya.
" Yusuf Nugraha temannya seangkatan dengan Bryan?", Hanan masih mengingat betul wajah itu adik tingkatnya dari fakultas kedokteran yang merupakan teman Brian Jonathan teman mainnya sewaktu kecil.
" Iya Mas, apa kabar Mas Hananto?", dokter Yusuf dengan ramah mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Hanan Dan disambut oleh Hanan.
" baik-baik Alhamdulillah", jawaban and barangku tangan dokter Yusuf seraya berusaha bangkit dari sandaran sofa nya.
" Mas sedang sakit? wajahnya pucat sekali tangannya dingin, tolong kak ambilkan peralatan Ayah ke sini", perintah dokter Yusuf kepada salah satu anaknya di sana.
__ADS_1
Aya bergegas mengambilkan peralatan yang biasa dokter Yusuf bawa wa-ku ketika hendak bekerja.
Sementara itu Hasan dan Husein pun ikut cemas dan mendekat kearah bapaknya, Yasmin hanya melihat dari tempat duduknya dengan perasaan khawatir.
Namun berbeda dengan yang dirasakan Hanan ketika dokter Yusuf menyebut dirinya ayah kepada Aya saat menyuruhnya mengambil kan sesuatu.
Deg
Hatinya dibuat mencelos berharap pendengarannya salah meskipun di sini Hanan masih meraba-raba dan belum tahu pastinya, namun Entah mengapa dari 1 kata tadi membuat jantungnya seakan berhenti seketika.
" Mas sudah sarapan?", Tanya Dokter Yusuf seraya memeriksa denyut nadi Hanan.
Hanan menjawab dengan gelengan pelan dan tersenyum tipis wajahnya semakin terlihat pucat.
" kami juga belum ada yang sarapan, setelah saya periksa nanti kita terus sarapan bareng, saya sudah siapkan Mas sarapan spesial untuk tamu saya pagi ini", ucap dokter Yusuf seraya terkekeh pelan.
Yasmin kemudian beranjak masuk ke dalam untuk memeriksa meja makan apakah makanan sudah siap karena tahu suaminya mengajak mantan suaminya untuk sarapan bareng pagi ini.
" Sudah saya siapkan Bun, tadi ayah keluar lagi untuk menambahkan menu sarapan pagi ini", ucap bi Murni ketika melihat Yasmin mengontrol meja makan.
" Sepertinya kursinya kurang Bi, tolong tambah 2 lagi ya, biar kursi plastik juga tidak apa-apa", ucap Yasmin.
" Iya Bu".
Sementara itu di ruang tamu
Aya sudah membawakan peralatan dokter Yusuf dan kini Hanan sedang diperiksa oleh dokter Yusuf.
" Santai mas, Mas boleh ketemu dengan anak-anak kapan pun tetapi untuk bundanya harus melalui izin saya dulu mas, sorry gue tidak minta izin dulu bundanya anak-anak sekarang sudah menjadi bundanya anak-anak saya juga", dokter Yusuf pun terkekeh lebar untuk memberikan suasana rileks karena dia sangat tahu saat ini Hanan sedang tegang dan stress.
Bersambung....
__ADS_1