JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Merasa seperti Debu


__ADS_3

Dengan cekatan bi Murni menyiapkan pesanan Yasmin dan membawanya ke ruang tamu.


" Silakan Pak", Bibi murni mempersilahkan Hanan untuk minum, Hanan hanya mengangguk dan bilang terima kasih hatinya masih penasaran ingin segera ketemu dengan mantan istrinya dan anak-anaknya juga belum keluar untuk menemaninya lagi.


" Bu maaf tolong panggilkan anak-anak saya Saya ingin ngobrol dengan mereka",ucapan bi murni pun mengangguk dan berlalu, bi murni sekarang tahu jika tamunya adalah mantan suami nyonyanya.


" Kak tolong temenin tamunya", ucap bi murni ketika berpapasan dengan Hasan.


" Aya, noh di ruang tamu ada Bapak!", Husen memanggil Aya.


" Bapak?, bapak siapa?!", ucap Aya tak mengerti.


" Bapak kita, Bapak Hananto!", tegas Husein.


" Hahh!!", Aya ternganga tidak percaya kemudian berlari menuju ruang tamu.


" Bapakkk", Aya langsung menghambur kepelukan Hananto dengan isakan yang tersedu, tubuh Hanan bahkan sampai terjengkang bersandar sempurna di sofa.


" Aku benci bapak, Aya tidak mau bertemu bapak lagi... Aya benci bapak! Bapak pembohong... Bapak ingkar janji, Bapak jahat...", Berbagai umpatan keluar dari bibir Aya seraya membenamkan wajahnya di dada Hanan dan memukuli punggung bapaknya.


" Maaf!", Jawab Hanan Lirih sambil terisak dan mendekap erat putrinya.


" Bapak jahat Bapak enggak kasihan sama kita kita sampai pindah kota karena biar bisa makan tapi Bapak enak-enakan manja-manjain istri muda dan anak-anaknya", Aya memukul dada Hanan makin kencang menupahkan segala sakit dan kecewanya selama ini.


Sementara itu Hasan dan Husein duduk terpaku di sofa di hadapan mereka.


Dan Yasmin yang masih di dalam belum mau menemui Hanan dia berinisiatif menelepon dokter Yusuf yang sedang keluar, tak ada niat sedikitpun untuk bertemu Hanan tetapi rasanya juga tidak sopan jika tidak menemuinya.


" Bunda ada siapa sih di ruang tamu kenapa Kakak Aya menangis?", tanya Awa pada Yasmin.

__ADS_1


" Ada bapaknya Kakak H, Kakak Awa menangis karena sudah lama tidak bertemu dengan bapaknya", terang Yasmin dengan lembut.


" oh, Ya sudah kalau gitu Awa mau menemani dedek Yafi yang masih bobo aja", Awa kemudian masuk kamar tidur kedua orang tuanya.


" Iya Bun, ada apa?", suara dokter Yusuf dari seberang telepon, saat ini Yasmin sedang menelpon nya.


" Mas cepatlah pulang di rumah ada bapaknya anak-anak, aku bingung nih mau menemui tetapi nggak ada ayah di rumah", ucap Yasmin.


" Temui saja, Ayah enggak apa-apa", jawab dokter Yusuf.


" Temuin saja, tunjukkan wajah bunda ayah tidak masalah!", ucap dokter Yusuf dia ingin memberi pelajaran pada Hanan kali ini batinnya.


" Ayah yakin, aku tidak harus pakai masker?", tanya Yasmin ragu-ragu.


" Ya", jawab dokter Yusuf yakin, " namun jika Bunda tidak yakin tunggu sampai Ayah di rumah sebentar lagi aku pulang", ucap dokter Yusuf.


" Baiklah!", kemudian telepon pun ditutup.


Hanan yang mendengar ungkapan Aya menjadi tergugu, hatinya sakit membayangkan kejadian 5 tahun lalu saat dirinya belum mencarikan Yasmin namun sudah mendzoliminya dengan berbuat tidak adil pada Yasmin dan ketiga anaknya dengan lebih sibuk mengurus Dewi dan kedua anak tirinya.


" Maaf!!", hanya kata itu yang keluar lagi dari bibir Hanan.


Setelah beberapa saat akhirnya Aya melerai pelukannya dari bapaknya.


" Bapak apa kabar? kok Bapak kurus dan jelek sih?", kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Aya, melihat bapaknya yang kini terlihat lebih kurus kulit lebih gelap serta wajah yang terlihat tua dari usianya dan rambutnya pun sudah banyak ditumbuhi uban.


" Bapak baik-baik saja, Iya bapak terlihat lebih tua banyak mikirin kamu nak, bapak kangen sama kalian ", jawab Hanan seraya tersenyum pada ketiga anaknya.


Hasan dan Husein hanya diam saja tak mau berkomentar atas ucapan bapaknya sementara itu Aya yang memang lebih kritis dan apa adanya nya tentu punya jawaban.

__ADS_1


" Bapak bohong! Bapak tampak lebih tua bukan karena kangen pada kita tapi bapak pasti ingin menikah lagi, tetapi tidak diizinkan sama istri muda, Bapak tahu kan Pak sekarang! istri muda Bapak tak sebaik bundaku", ucap Aya dengan wajah bersungut, berbicara ngasal karena di hatinya masih tersimpan kekecewaan.


Hanan yang mendengar dan mengerti maksud ucapan Aya kemudian mengajak lembut rambut kepala Aya.


" Sok tahu kamu!, Bapak habis kecelakaan hingga tidak bisa berjalan lama, ini bapak akan dioperasi sekali lagi untuk mengambil pen yang ditanam di kaki bapak", ucap Hanan.


" Bapak habis patah kaki?", tanya Hasan.


" Ya, sudah lama sekarang bapak sudah sembuh", Hanan tersenyum akhirnya putra sulungnya yang tidak ia kenali waktu pertama melihat kedua dan ketiga saat mengimami di masjid bahkan hingga ceramah itu mau berbicara, hati Hanan terasa mendapat siraman air hujan, sejuk!.


" Terima kasih nak, kamu bisa membanggakan Bunda mu, bahkan bapak tidak bisa mengenalimu, kamu sudah berubah sekali dan terlihar tinggi dan tampan dandanan kamupun berbeda, Bapak kehilangan banyak momen bersama kalian", Hanan berbicara dengan suara yang bergetar menahan tangis entahlah jika ada kata-kata yang di atas kata bangga mungkin itu yang dirasakan oleh Hanan saat ini.


" Suara kakak juga sudah berubah", sahut Aya.


" kamu kok pintar sekali dengan bacaan Alquran kamu nak, bukankah dulu bunda mau bilang jika kamu sekolah Boarding school?", tanya Hanan pada Hasan.


" Iya betul Pak Boarding school tempat sekolah Hasan adalah sekolah yang memberi peluang bagi anak yang mau menjadi tahfidz Quran dan dididik se disiplin mungkin tentang agama", jawab Hasan.


" Dan sekarang Husein yang tengah belajar di sana Pak, doakan insya Allah bulan depan Husein dikirim sekolah untuk mengikuti perlombaan di Kairo Mesir mewakili sekolah", ucap Hasan penuh kebanggaan.


" Masya Allah...... ", Hanan mengusap dadanya yang mendadak terasa sesak seperti dihimpit bumi kakinya pun lemas kabar ini sungguh sangat luar biasa di luar dugaannya menakjubkan hingga membuat dirinya seperti butiran debu dan kotoran yang tidak ada harganya sama sekali bahkan jika debu bisa hinggap di manapun Hanan membayangkan bahwa dirinya sepertinya tak pantas menjadi Bapak dari kedua remaja yang begitu luar biasa di hadapannya ini.


Tiba-tiba saja Hanan luruh ke lantai dari sofa tempat duduknya dan bersujud di kaki kedua putranya tak ada suara hanya isakan yang terdengar sangat pelan, rasanya Hanan malu mau menegakkan mukanya di depan kedua putranya.


" Bangun Pak, Apa yang Bapak lakukan!", teriakan Hasan dan Husein kemudian mengangkat bahu bapaknya.


" Kenapa Bapak melakukan ini?!",protes Hasan tidak terima dengan kelakuan bapaknya.


" kami anak bapak bukan dewa? jika Bapak terharu dan menyesali perbuatan Bapak orang yang paling pantas bapak junjung Drajat nya adalah Bunda, Terima kasih karena dari rahim beliau kami terlahir dan dengan arahannya kami belajar dan dengan ketabahannya kami mandiri dan dengan kesabarannya kami terus belajar dengan kemuliaan hatinya kami bercermin dengan senyum tulusnya kami bahagia dan dengan keringatnya kami makan kami bisa memakai baju kami bisa membayar uang sekolah...... ", Hasan berbicara dengan mata kosong dan wajah yang datar pikirannya kembali ke beberapa tahun lalu.

__ADS_1


ketiga putranya itu pun hanya diam setelah kata-kata Hasan seperti itu pun Hanan semakin lemas lah badannya.


Bersambung.....


__ADS_2