
" Mbbaaakkkkk..... !!!", Hanan berteriak keras memanggil mbaknya yang sedang setrika, kakinya bergetar hebat, mukanya merah padam, nafasnya memburu naik turun.
Mendengar ada yang berteriak keras dipintu kamar jelas membuat Dewi yang sedang merem melek serta mang Usep yang tengah berpacu dalam erangan pun berhenti menyemburkan bibit tak berbobotnya.
" Halah.... Mang! Haduhhh!!!", Dewi kalang kabut langsung mencari kolor serta dasternya, sementara mang Usep yang masih setengah jalan dihempaskan oleh Dewi hanya bisa kecewa dalam kekalutan.
" Mang!", Dewi melempar kolor pada mang Usep tap Hanan langsung menangkapnya.
" Tidak perlu, begini saja, biar semua orang tahu bukti percintaan kalian!!", Suara keras Hanan menggelegar.
Semua aktifitas mereka tidak lepas dari pantauan Hanan, wajahnya sudah setengah menghitam menahan marah, giginya menggerutuk dengan langkah sedikut memburu dia menghampiri mang Usep.
Jleb.... bugghh.... bughhh... bugghh... jleb
Hanan membabi buta menyerang mang Usep, bahkan pistol yang masih bertengger pun manjadi sasarannya juga.
Si mbak pegawai sampai menutup muka, melihat mang Usep tak memakai selembar benangpun dengan pistol menodong, seakan menantang kena serangan dari Hanan.
" panggil hansip, satpam atau tetangga siapa saja mbak, suruh kesini lihat ada live film biru", Ucap Hanan keras.
Si mbak langsung balik lagi turun kebawah menuruti ucapa Hanan.
Sementara Dewi duduk disudut ruangan dengan air mata berderai dan ketakutan luar biasa.
Sementara ditempat lain Yasmin tengah perawatan, tak peduli dari siapa vocher itu, yang jelas jika ada yang menagih karena salah kirim Yasmin siap mengembalikan untuk mengganti.
Setelah dilakukan Perawatan Yasmin akan berterima kasih sangat pada orang itu, karenanya kini tentunya lebih merasa percaya diri untuk kembali menikah.
Yasmin melihat pantulan wajahnya di cermin, iya memang usaha dan uang tidak bisa bohong, wajahnya kini tanpak lebih berkilau dan bercahaya apalagi yang dalam sana juga terasa lebih rapat dan bersih.
" MasyaAlloh... Maaf ya Robb hamba yang selama ini kurang bersyukur, semoga hamba bisa lebih tawadhuk lagi", Batin Yasmin tersenyum tipis didepan cermin.
" Sudah?", Tiba tiba dokter Yusuf masuk ke ruangan itu dan bertanya.
Yasmin terkejut pasalnya dia tak merasa janjian atau pamit jika hendak pergi ke klinik itu, kok bisa tahu, batin Yasmin.
" Sudah, kok tahu kalau ada disini sih?", Tanya Yasmin heran.
Dokter Yusuf hanya menunjukkan ponselnya saja tanpa menjawab, entah apa maksudnya Yasmin juga tidak paham.
" Iihh.... Harus tidak usah bertemu dulu, nanti saja setelah sah baru bertemu", Ucap Yasmin, dokter Yusuf tergelak.
__ADS_1
" Itu kalau pengantin ting ting bun, kita mah bebas kali", Dokter Yusuf terkekeh lebar, "mana bisa dipingit pingit ga mau lah", menahan rindu itu berat, bathin dokter Yusuf.
" Iihh.... bukan masalah dipingit tapi kita belum sah, untuk menghindari fitnah pak dok!", ucap Yasmin cemberut.
" Bun, biasakan dong panggil aku Ayah, jangan dok gitu... kedengarannya tuh seperti apa gitu", Dokter Yusuf kembali terkekeh. Mereka kini sudah di dalam mobil yang sudah bergerak jalan hendak pulang.
Yasmin hanya tersenyum menanggapi ucapan dokter Yusuf, " Ya!". Jawabnya mengangguk.
" Bunda ... kemarin pertanyaanku belum bunda jawab lho!", Ucap dokter Yusuf.
" Yang mana?", Tanya Yasmin.
" Mau mahar apa?", Tanya dokter Yusuf.
" Apa saja, sekalipun dari cincin yang terbuat dari besi", Jawab Yasmin.
" Serius bun?!", Ujar dokter Yusuf bernada manja.
" Beda lagi dong!".
" Apapun ya, terserah aku ya! pokoknya kejutan", Ucap dokter Yusuf.
Yasmin mengangguk dengan tersenyum. Dan sampailah mereka di rumah Yasmin.
Diteras Halwa sudah menunggu dengan senyum lebar mrnyambut Yasmin.
" Bunda, Awa kangen!", Awa langsung merangkul manja pada Yasmin, membuat dokter Yusuf hanya tersenyum. Hatinya senang melihat interaksi antara putri dan wanita cinta pertamanya itu.
" Iiddiihhh.... Kalau sudah ketemu sama bunda, ayah dilipakan, lupa siapa yang suka ngelonin kalau malem nih sebelum tidur?", Goda dokter Yusuf pada Awa.
" Ayah terus lah, tapi Awa maunya sama bunda, Awa belum tahu rasanya tidur dipeluk bunda", Jawab Awa.
__ADS_1
" ya sudah nanti tidurnya sama bunda ya, sama kak Aya juga, oke!", Ucap Yasmin.
" Mau mau bunda... Awa mau banget... sampai ayah sama bunda jadi pengantin Ya, soalnya nanti kalau ayah sama bunda sudah nikah pasti Awa di larang tidur sama bunda", Ujar Awa awalnya sumringah saat bicara tapi pada akhirnya cemberut, ngebayangi ayahnya pasti tidak akan pernah mengijinkan bundanya tidur dengan dirinya jika sudah menikah.
" Kok cemberut", Tanya Yasmin menjawil hidung Awa.
" Bunda ga tahu aja, Ayah tuh orangnya suka pelit kalau diganggu kesayangannya", Bisik Awa pada Yasmin.
Yasmin terkekeh lebar, " Ha! Oh, iya?!", Yasmin berbicara dengan terkekeh.
" Iya, bunda akan tahu nanti", Jawab Awa.
" Wah, malah pada bisik bisik, hayo ngomongin ayah ya?", Dokter Yusuf mendekati mereka.
" Huuuuu.... Kepo!", Awa terkekeh sambil menghindar, tahu kebiasaan ayahnya suka mengelelitikin pinggang jika mendekati begitu.
" Eh, malah kabur!", Dokter Yusuf hendak meraih Awa tapi Awanya sudah terlanjur lari menghindar.
" Weeekk... ga kena!", Awa menjulurkan lidahnya mengejek sang Ayah.
Yasmin menikmati pemandangan itu dengan tersenyum, dulu ketika anak anak masih bersama bapak mereka tak sekalipun Hanan mengajak mereka bercanda, yang seperti itu malah suami bu Nunik, makanya anak anak nya sangat akrab dengan suami bu Nunik yang mereka panggil pakde.
Hanan sayang sama anak anaknya tapi tidak begitu dekat, dan itu membuat anak anak sedikit takut pada bapaknya kala masih kecil dulu.
Kios kecil itu kini ramai dengan beberapa orang, sebagian berada diluar sebagian merangsek maduk untuk melihat apa yang terjadi didalam.
Simbak pegawai hanya terdiam duduk dikursi strikaan, badannya bergetar, apalagi tadi merasa menyesal telah naik keatas sehingga melihat sesuatu yang belum waktunya dilihat, membuat rasa tidak enak dihatinya.
" Ada apa pak?", Tanya ketua RT setempat yang datang ketempat itu.
" Orang ini saya temukan sedang mesum bersama istri saya, saya ijinkan istri saya untuk usaha tetapi ternyata usaha hanya kedok untuk berbuat mesum", Ucap Hanan dengan wajah yang sulit diartikan, keringat sudah membanjiri wajahnya, mukanya terlihat merah padam, matanyapun memerah.
" Lho! Bapak suaminya? Owh, setahu orang orang sini ya bapak itu suami ibu Dewi, setiap hari beliau ada disini kok, sementara anda baru ada saat ini, padahal usaha ini sudah satu bulan lebih", Ucap pak RT, Hanan sudah tersandar lemas didinding.
" Tolong, jangan banyak orang saya hanya butuh tiga atau empat orang saja, bubarkan yang lain, ini urusan rumah tangga, jangan pada kepo, pamali", Ucap pak Rt, kemudian yang lain bubar.
" Tolong pak, amankan bapak ini! pakaikan dulu baju, uluhhh.... sampai begini, alah gusti manuknya pak... hemmm", Pak RT menatap ngeri pada senjata Mang Usup yang habis kena bogem Hanan.
__ADS_1
Bersambung....