
Setelah pulang dengan meninggalkan uang tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, Yasmin pun kembali berfikir.
Bukan memikirkan Hanan tetapi berfikir bagaimana caranya mendapatkan uang yang lebih dari cukup karena sebentar lagi pasti Hasan butuh motor, berapa tahun kemudian pasti Husain juga, jika hanya mengandalkan gaji dari mengajar les, sangat cukup untuk makan dan kebutuhan lain sehari hari masih juga bisa menabung, hanya saja jika kebutuhan besar Yasmin tidak sanggup, contohnya dua anaknya mau ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi pasti uang jajan tambah, ongkos tambah, kebutuhan yang lain juga tambah, terus kebutuhan sehari hari seperti baju, tas, sepatu juga itu bukan sedikit.
Makanya dulu Yasmin bersabar ketika dipoligami meskipun jika menuruti hawa ***** Yasmin ya pinginnya pergi, tetapi Yasmin ya berjaga jika hal seperti ini, jika belum pisah kan ada tempat berbagi cerita, berembuk, berfikir bersama cara mendapat uang, jika seperti sekarang Yasmin sendiri tak ada tempat berbagi, semua menjadi bebannya sendiri, mau mintapun sama Hanan pada akhirnya ada perasaan tak bebas meski untuk anak mereka.
Seperti biasa Yasmin berserah diri, mengaduh, mengeluh, bersimpuh pada sang pemberi hidup, berharap diberi jalan pintu rejeki yang lebar dan barokah, mengharap dari Hanan seperti akan sangat sulit dan itupun harus seperti pengemis tidak ada kesadaran sendiri dari sana. Jikapun memberi ya kayak semalam dikasihnya sekedarnya saja.
" Bun, bapak semalam pulang jam berapa, kok ga pamit sama Aya?", Cemberut Aya di pagi hari.
" Pulang jam sepuluh sayang, pamit kok tapi adik sudah tidur, tadinya mau tidur sama adik tapi sama bunda ga dibolehin!", jawab Yasmin
" kok gitu?", Aya makin sebel.
" Ya karena bunda sama bapak sudah pisah, tidak baik jika masih serumah nanti di omongin orang, digerrbek pak RT atau pak satpam, malu dong!", Jawab Yasmin.
" Oh, gitu ya bun?!".
" Iya!".
" Yahhhh...... Berarti Aya sudah tidak akan pernah lagi tidur bersama bapak, tidak akan pernah lagi dimanja bapak selamanya hiks hiks... ", Aya bersedih karenanya.
" Bisa, kalau Aya mau bisa telpon bapak suruh tidur sini, tapi ibu lapor dulu sama pak RT, gaapapa kok... ", Jawab Yasmin agar Aya tidak bersedih.
" Ya, malam minggu besok Aya mau ada bapak tidur disini bun, nanti bilang ke pak RT dulu ya", Aya sumringah, hatinya senang, akan tidur sama bapaknya yang sudah lama tidak pernah tinggal di rumah bersama.
Yasmin tersenyum, ada perasaan yang sedikit mencubit hatinya, beginilah jika orang tua berpisah, dan alhamdulillahnya Yasmin dan Hanan tidak bertengkar hebat saat berpisah, ada untungnya juga saat dulu dia hanya diam tak berontak saat dipoligami, paling tidak anak anaknya bisa dengan bebas tidak memikirkan perasaan ibunya jika ingin bertemu bapaknya, coba jika bertengkar dulu, pasti mereka akan bertemu bapaknya secara sembunyi sembunyi
" Bunda tidak marah?", Tanya Hasan yang sedari. tadi hanya mendengar pembicaraan bunda dan adiknya.
" Untuk apa bunda marah nak, bunda ikhlas kok, bunda juga ingin hidup tentram, bapak adalah masa lalu, Alloh tidak menjodohkan kami hingga maut memisahkan, ya sudah... bunda terima dan ikhlas kok... tidak ada bapak bunda kelihatan lebih happy kan??", Tanya Yasmin.
" Bunda terlihat lebih glowing kayak mamanya Rachel teman aku bun, mamanya Rachel itu bekerja di Bank, setiap hari terlihat sangat cantik seperti bunda", Aya tersenyum penuh kekaguman pada bundanya.
" Halah, Kamu itu ya dik.... Yang penting baik hati, rajin sholat, tidak pelit, suka menolong sesama... itu baru cantik yang tidak bisa dihapus waktu, meskipun sudah tua kayak bunda", Jawab Yasmin.
__ADS_1
" Yap, betul, Aya setuju bun", Ayapun tersenyum senang.
" Pokoknya dalam sebulan ini kalian harus ekstra belajar, ujian didepan mata, Kak Hasan senin besok, Husain senin depan dan Aya tiga minggu lagi... liburan kita pulang kampung", Ujar Yasmin ketiga anakknya pun tertawa senang.
Yasmin berusaha setiap hari membuat ketiga anaknya dekat satu dengan yang lainnya, saling terbuka, saling perhatian serta membuat candaan apa saja, agar anak anak tidak terus kepikiran bapaknya.
Hingga hari ini dimulai dengan Hasan yang ujian hari pertama.
Sementara itu sepulang sekolah Hanan mengajar les renang, ada tiga murid yang belajar renang hari ini.
Satu persatu Hanan ajari tehniknya, bergantian, namun yang namanya anak anak meskipun sudah kita wanti wanti untuk tidak sembarangan main sana sini, anak masih sesuka hati.
Dengan segera ditolonglah anak itu oleh Hanan, namun kondisinya yang pingsan mengharuskan dibawa ke poli klinik atau rumah sakit terdekat.
Dengan tergesa Hanan mengganti baju bocah itu, dirinya juga untung orang tuanya juga ada, menunggui jadi tahu kronologinya yang sebenarnya.
Sesampainya di rumah sakit bocah itu diperiksa, untuk lukanya hanya sobek dan harus dijahit beberapa jahitan. Bocah tadi pingsan karena syok saja tidak ada cidera kepala yang serius.
Namun Hanan harus membayar ongkos berobat untuk biaya rumah sakit muridnya itu, tiga ratus lima puluh ribu rupiah, ongkos menjahit luka tiga jahitan.
__ADS_1
Terpaksa orang tua korban dulu yang membayar karena Hanan belum ada uang, isi dompetnya sudah ia berikan Yasmin beberapa hari lalu.
" Maaf bu, saya belum ada uang, tapi saya gantiin , kwitansinya saya bawa ya", Hanan memohon dengan menangkupkan kedua tangannya didada.
" Tidak apa apa pak, ini musibah saya tidak akan menuntut", Jawab si ibu korban dengan sedih, namun Hanan tetap membawa kwitansi itu meskipun si ibu menolak.
Benar saja, bapak si korban datang dan dengan ketus dia langsung menyalahkan Hanan.
" Saya percayakan putra saya diajar les renang sama bapak karena permintaan istri saya, namun jika begini kejadiannya saya benar benar kecewa, harusnya bapak tidak melepas anak dari pandangan mata bapak supaya tetap terawasi!", Cerokos bapak korban tidak terima anaknya celaka.
" Iya pak, maafkan atas keteledoran saya, maaf", Lagi dan lagi Hanan hanya bisa menyedapkan tangan didadanya.
" Bapak harus bertanggung jawab jika nanti anak saya terjadi hal yang lebih dari ini, misal di rumah dia muntah dan harus diperiksa lebih lanjut saya harap bapak tidak lepas tangan", Hardik bapak korban dengan tegas.
Hanan hanya bisa manggut manggut pasrah, kepalanya mendadak berdenyut hebat.
Teringat bahwa bulan ini dia telah berjanji untuk memenuhi kewajiban buat anak anaknya, belum lagi masalah yang baru saja dialaminya.
__ADS_1
Bersambung....