JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Kebiasaan Dewi yang baru diketahui Hanan


__ADS_3

Dewi seharian ini moodnya sedang tidak baik, terbukti mendiamkan Hanan, bahkan jika anak anak pulang main dan minta uang untuk jajan dia langsung marah.


Hanan menjadi bingung sendiri, sejak pembicaraan tadi setelah *** *** Dewi jadi uring uringan dan ngedumel terus.


" Pak, mama mau kedepan bentar, kalau bapak mau makan beli saja, anak anak biarin saja sudah jajan", Ketusnya sembari menenteng tas kecil serta memakai jaket kemudian meraih kunci motornya.


" Mau kemana? Jangan lama lama!", Ujar Hanan hanya bisa melihat kepergian sang istri dengan nanar.


" Mau cari yang seger seger, iya... pasti pulanglah!", Ketus Dewi lagi seraya menyalakan motornya.


" Assalamualaikum".


" Waalaikum salam". Hanan hanya bisa menarik nafas dalam, dua istri yang satunya kalem dan tidak bergejolak jika marah cenderung diam dan menerima yang satu kadang kekanakan, ya seperti hari ini, hanya karena pembicaraan liburan Hanan tak mendapat jatah makan, harus beri di warteg mau tidak mau.


" pak, mama mana?", Tanya Zea setelah pulang dan tak mendapati mama dan motornya ada di rumah.


" Pergi, cari makan mungkin", Jawab Hanan.


" Heummm..... lama ga ya, Zea lapar bapak", Rengek bocah itu dengan bibir dimanyunkan.


" Haduuhh..... kasihan anak bapak yang imut, sini, mau makan sama apa? Sama ayam tepun mau?", Tanya Hanya meraya merapikan rambut bocah imut itu yang berantakan dan berkeringat sehabis main sepeda.


" He-eh...", Bocah itu manggut mantap.


" Ya sudah, tunggu bapak beli di depan gang itu ya, jangan main lagi, mending Zea mandi dulu ya", Bocah itu manggut lagi.


" Bapak Zea maunya yang paha, kakak Zidan juga ya, yang di sebelah sana jangan yang pas depan gang kakak ga suka", Zea memberitahu kesukaannya pada Hanan sebelum bapaknya pergi.


" Oke, tunggu jangan pergi main lagi".


Hanan berjalan menuju tempat penjual ayam tepung yang memakai gerobak dipinggir jalan, tempat yang sebutin Zea tadi memang cukup laris, sedikit antri tak masalah, Hananpun sabar.


" Pahanya dua, paha atas juga dua nasinya tiga", pesan Hanan pada penjual.


" Ini pak, jadi lima puluh satu ribu, lima puluh saja", Ujar pembeli, Hanan memberikan uang pada penjual dengan uang pas.

__ADS_1


" Terima kasih mas". Hanan.


" Sama sama pak". Penjual.


Hanan kembali berjalan untuk pulang, dalam hati Hanan, tersenyum miris. Ini pertama kalinya dia jajan begini untuk makanan pokok biasanya jika bersama Yasmin dia selalu disediakan makan, minimal selalu ada nasi dan lauk tinggal menggoreng atau menghangatkan saja


" Tak apalah sekali kali biar bisa merasakan jajan di luar seperti ini tak masalah", gumam Hanan lirih.


Memang bersama Yasmin sering beli makan luar atau jajan tetapi Yasmin yang selalu bilang "maaf pak, bunda ga masak jadi bunda beli", Seperti itu cara Yasmin meladeni suaminya.


" Assalamualaukum adik", Sapa Hanan memasuki rumah.


" Waalaikum salam bapak", Bocah itu berlari kecil menyambut kedatangan Hanan dengan ceria.


" Lho, sudah mandi?", Hanan mengusap kepala Zea dengan sayang.


" Iya, kan tadi kata bapak adik suruh mandi sambil nungguin bapak", Jawab bocah itu dengan mimik muka lucu.


" Oh iya.... Mana kakak Zidan?", Tanya Hanan.


" Kakaknya gantian yang mandi", Jawab Zea.


" Nih, zea mau yang mana? Mau pakai saosnya tidak?", Tanya Hanan seraya menyiapkan nasi untuk Zea.


" Mau, saos tomat", Jawabnya.


" Nih, berdoa dulu mau makan jangan lupa pakai Bismillah...", Ujar Hanan meno hidung Zea.


" Kak, makan tuh adik pingin ayam tepung", Hanan menunjuk ke meja makan sementara dirinya juga tengah makan menu yang sama dengan anak anaknya.


" Asyik", Jawab Zidan singkat, kemudian bocah itu masuk ke kamarnya untuk ganti baju.


" Mama kemana pak?", Tanya Zidan karena sejak pulang tak melihat mamanya.


" Keluar naik motor", Jawab Hanan.

__ADS_1


" Pastiama ngebakso sambil ngeroko dengan teman temannya bisa pulang malam nih", Gumam Zidan yang bisa didengar oleh Hanan.


" Apa? Ngeroko? Memang mama suka ngerokok?", Tanya Hanan dengan nada suara sedikit tinggi membuat Zidan kaget dan Zea takut.


" Oh, maaf bapak bukan marah, bapak hanya kaget karena baru tahu jika mama suka ngerokok", Hanan sadar jika anak anaknya ketakutan mengira dirinya marah, meskti sebetulnya iya dirinya memang marah.


" Mama kan memang suka ngerokok pak, bapak ga tahu to? Apalagi jika keluar ga ngajak kita mama pasti karaokean, makan, ngerokok ngobrol ngobrol sama teman temannya sampai malam", Cerocos Zea dan dianggukin oleh Zidan, bocah itu berkata jujur dan polos.


Hati Hanan bergemuruh, untung nasi sama ayam dipiringnya sudah habis jika tidak mungkin dirinya tak ***** makan lagi mendengar cerita anak anak tirinya yang polos dan imut ini.


" Terus mama suka apalagi selain ngerokok?", Tanya Hanan hati hati agar anak anaknya tidak takut dan mau menjawab dengan jujur.


" Mama sukanya marah marah pak... Heheee... iya marah marah", Jawab Zea dengan lantang dan kemudian cengir karena merasa suara terlalu bersemangat.


" Bukan itu dik, kalau mama suka marah bapak udah tahu". Zidan pun mengerti maksud bapaknya.


" Oh, berarti mama sukanya pergi pergi ga ngajak kita", Jawab bocah itu lagi merasa salah bicara.


" Pergi kemana?", Tanya Hanan.


Dua bocah itu menggelengkan kepala serrntak, karena memang tidak tahu.


" Hem, Ya sudah, kalihat siap siap berangkat mengaji ke mushola ya, bapak juga mau mandi dan pergi kemushola", Hanan memvereskan bekas makan mereka.


Dalam hati Hanan berfikir tentang ucapan anak anaknya tadi, masih terkaget ternyata istri mudanya sedikit liar juga suka keluar rumah tak bawa anak anak dan suka kumpul dengan teman temannya, karaoke dan ngerokok, Hanan hanya geleng kepala dengan helaan nafas dalam.


Mau menyusul Dewi tapi tidak ada kendaraan karena motor ada di rumahnya, tadi pagi dia datang dengan naik ojek. Akhirnya Hanan hanya terdiam melamun sesekali memainkan ponselnya, anak anaknya sesang mengajj, istrinya entah kemana dari pagi menjelang siang belum pulang hingga hari telah petang.


Hanan dufuk diteras rumah Dewi, rumah yang kecil berhimpit dengan banyak tetangga membuat suasana yang sepi jadi ramai suara tetangga yanf ngobrol, bercanda, sedikit mengurangi rasa sepi Hanan.


" Pak Hanan, sendiri saja pak?", Sapa bu Wati tetangga sebelah yang baru saja keluar rumah untuk membuang sampah.


" Iya bu, anak anak ngaji belum pulang", Jawab Hanan.


" Oh, lha ibu Dewi kemana? Atau pergi?", Tanya bu Wati lagi.

__ADS_1


" Iya bu, cuma saya tidak tahu pamitnya cuma cari makan siang kok sampai petang begini belum pulang, saya telpon ga diangkat", Tanpa sadar Hanan malah Curhat dengan bu Wati.


Bersambung.....


__ADS_2