
Hari ini sidang perceraian Hanan dengan Yasmin, karena baru tahab pertama maka agenda hari ini adalah mediasi.
Namun Yasmin tak menghadiri sidang pertamanya, semua sudah Yasmin serahkan sepenuh pada Hanan, Yasmin berharap lekas selsai tidak perlu bertele tele toh juga sudah ditalak, tinggal mengurus surat cerai terbit dari KUA saja, pikir Yasmin.
Lagi lagi Hanan merasakan sesak didadanya, sidang mediasi tentu itu tidak mungkin. Hanan diantara yakin pilihannya brnar meninggalkan Yasmin, hanya saja kok dihatinya masih ada yang ganjal itu saja.
Setiap kali nama Yasmin Sera disebut hatinya sakit, seperti sebuah perasaan yang sulit diungkapkan.
Namun saat saat tertentu Hanan benar benar lupa akan Yasmin, kadang dia siapa sih Yafmin. Namun begitu sadar Hanan merasa sedih yang begitu dalam hanya mengenang nama Yasmin saja.
Dewi makin sibuk dengan jualan on line dan juga mengkreditkan barang barang peralatan rumah tangga, Hanan juga bingung istrinya itu begitu gigih, tekun, sibuk dan dilihat jualan juga laku tapi kok perasaan selalu mengeluh tidak punya uang, itu terus.
Hanan pusing karena tiap sedang bersantai di rumah pasti istrinya berkeluh kesah tentang uang, yang dipakai inilah itulah.
Hanan juga heran kenapa setiap senin sore istrinya itu dandan cantik dan pergi, tidak lama sih hanya dari habis ashar hingga jam sembilan malam, pamitnya senin adalah hari refreshing dia ngumpul bareng teman.
" Pak, mama mau ke rumah Sely teman mama, bagi duit dong buat pegangan!", Rengeknya manja pada Hanan.
" Ngapain duit dipegang pegang mending disimpen entar ilang malah", Jawab Hanan sedikit bercanda pada Dewi.
" iih ... pa... cepet lah, makin sore nih, entar kemaleman aku sampai sananya", Rengek Dewi lagi.
Terpaksa Hanan mengeluarkan dompetnya dan memberikan Dewi satu lembar uang seratus ribuan.
" Udah itu saja... ga usah banyak gaya, itu juga sudah cukup buat beli bakso dan minumnya", Jawab Hanan.
" Iihh.... lagi pak, ini mah kurang atuh lah...", Protes Dewi.
" Ga ada ga ada, cukup segitu.... main kok sering sering, sebulan sekali gitu", Hanan mengelak untuk dimintai uang lagi.
" Ya sudah", Dewi cemberut dan akhirnya pergi, tak ada salam tak ada cium tangan pada Hanan.
Hanan memandangi Dewi yang sore itu terlihat berbeda, bajunya hem bukaan depan, dengan rok model span dan kerudung pas mina.
" kamu ga takut tuh naik motor roknya begitu", Tegur Hanan.
" Tidak pak, ga usah bawel lah, udah biasa", Ketus Dewi seraya menyalakan motornya kemudian berlalu berangkat.
__ADS_1
Hanan hanya menarik nafas dalam, istrinya itu memang memakai baju yang pas di badan, masih kayak ABG, memang kulitnya bersih, tapi badan yang berisi dan sedikit ekstra sana sini membuat makin nampak sedikit lipatan yang terlihat mencetak dibaju.
Hanan kembali duduk di sofa dengan kopi dihadapannya, hatinya masih merasa hampa, entahlah seperti ada sesuatu yang masih ganjal itu terus ada, mungkin karena belum bicara sama anak atau belum cerita pada orang tuanya.
Terbayang jika pulang kampung kemudian bercerita kebenarannya, reaksi bapaknya pasti sangat marah, iya kalau cuma marah kalau sampai terjadi sesuatu.
" Achhh..... Tidak! .... Jangan! ya Alloh", Hanan menutup mukanya membayangkan yang akan terjadi jika orang tuanya tahu, dan pasti akan tahu karena Yasmin sudah bicara sama ibunya.
Drettt
Dreettt
Dreettt
Hanan terkesiap, jantungnya langsung berdetak hebat.
" Bapak", Lirih Hanan.
" Assalamualaikum", Hanan mengamgkat telpon dari orang tuanya meskipun hatinya berdebar.
" Enggih bu, Maafkan putramu", Jawab Hanan lirih.
" Astaghfirulloh.... kenapa? Apa Yasmin mantu ibu berubah? Apa Yasmin tidak bisa mendidik anak anak kamu? Apa Yasmin suka melawan kamu nak, hemmm??? Katakan kesalahan Yasmin dimana, apa yang telah dilakukan Yasmin?", Terdengar suara sang ibu makin meninggi dengan suara tangis yang langsung menggelegar.
" Jawab!!? Apa kamu diam? Ga bisa jawab to pertamyaan ibu kamu! Dasar anak kurang aj*r, kamu itu tidak bisa bersyukur, kurang apa Yasmin heh!!", Kali ini telpon diambil alih bapaknya Hanan karena sang ibu sudah tak kuat bicara karena tangisnya menyesakkan dada.
" Maaf pak, bu.... Maaf!!!, Maafkan saya, saya khilaf, saya tidak berpikir ulang melakukan tindakan fatal ini, maaf, semuanya sudah tidak mungkin diulang, Hananpun menyesal pak... Hanan juga sedih pak... hihiiikkk.....", Hanan masuk kamar agar tangisnya tak didengar kedua anak tirinya jika pulang main.
" Terserah kamu, yang jelas jangan pernah bawa pulang istri mudamu, bapak ndak mau kenal, tidak sudi!!, begitupun ibumu, jangan harap doa restu dari kami, bahkan kamu tidak pernah bicara sama bapak untuk hal seberat ini... ".
" Jangan pernah kamu utak atik rumahmu yang disitu, rumah itu haknya anak anak, jika kamu ingin rumah beli bersama istri mudamu, jangan pernah kamu senggol hak anak anak, kamu dan istri baru kamu tidak berhak lagi atas rumah itu!.... Tut", Telponpun ditutup sepihak oleh bapaknya Hanan.
Setelah itu Hanan masih menangis, ia tahu Yasmin adalah menantu kesayangan, orang tuanya tidak siap kehilangan Yasmin menantu kebanggaan mereka.
__ADS_1
Seminggu sudah berlalu, saat ini sidang kedua perceraian Hanan dan Yasmin, tentu Yasmin tidak datang, seperti awal bagi Yasmin dia hanya butuh surat cerai dari Hanan.
Dan tadi pagi bapaknya Hanan menelpon kembali mengabarkan jika semenjak mendengar kabar perpisahan Hanan dengan Yasmin, ibunya menjadi tidak \*\*\*\*\* makan karena terlewat sedih, terlalu kecewa pada Hanan, bagi ibu Hanan ( Ibu Ainun ) perpisahan Hanan adalah pukulan berat, meskipun jauh tetapi ibunya selalu berharap bahwa anak dan menantu serta cucu cucunya akan sehat terus, itu harapan bu Ainun dan kabar perpisahan ini sangat mengejutkannya.
Mendengar kabar itu rasa bersalah Hanan semakin dalam, penyesalannya makin menyakiti hatinya.
Dewi memang tak sepeka Yasmin, jika Yasmin yang masih menjadi istrinya pasti akan tahu jika sudah hampir sebulan ini Hanan kurang \*\*\*\*\* makan bahkan tiga minggu lalu Hanan terkena typus dan harus betrest seminggu, Hanan terlihat lebih kurus dari pada sebulan lalu.
Dewi juga perhatian hanya saja tidak seintens Yasmin, jika Yasmin dua hari saja suaminya terlihat berbeda pasti akan memberikan perhatian ekstra.
" Bapak, habis sakit kemarin \*\*\*\*\* makannya belum pulih ya?", Akhirnya Dewi menyadari jika suaminya lebih kurus.
" Iya mungkin ma, tapi sudah lebih baik", Jawab Hanan, Dewi memang tidak tahu jika saat ini Hanan dalam proses cerai, Hanan tidak berbagi cerita pada Dewi tetapi maksud Hanan agar uang yang untuk Yasmin tetap untuk Yasmin itu haknya anak anak pikir Hanan.
Jika bilang mereka pisah, Hanan takut jika Dewi tidak rela berbagi dengan anak anaknya.
Bersambung.....
\# Haiihhh..... bingung sendiri kan, masalah membagi uang untuk anaknya saja takut sama mama Dewi... 😀
__ADS_1