
Hanan pulang agak malam jam delapan, wajahnya terlihat kesal, dia langsung menghampiri Yasmin yang tengah membereskan dapur.
" Anak kamu tadi bilang apa sama mamanya? Lain kali awasi anakmu jangan menelpon sembarangan dan jaga bicaranya agar lebih sopan!!!", Hanan bicara sangat ketus pada Yasmin, ini pertama kalinya Hanan bicara srkasar itu pada istri tuanya itu.
Yasmin gemetar menahan gelojak hatinya yang tidak terima suaminya berbicara sekasar itu.
" Maafkan Haya pak, bunda juga! ", Suara Yasmin begetar menahan amarahnya, namun Yasmin masih menahan agar tidak bicara kasar pada sang suami.
" Maaf, karena Haya mengkhawatirkan bapaknya, sehingga minta menelpon mu terus", imbuh Yasmin, meskipun berbicara Yasmin tak mrmbalikkan badan, enggan menatap Hanan, tangannya terus sibuk mengelap kompor dan juga meja dapur, tak peduli mata dan wajah Hanan semerah tomat karena kesal.
Hanan yang tadinya ingin meluapkan kekesalannya karena istri mudanya yang mengadu, menjadi sedikit turun amarahnya mendengar suara lembut sang istri.
Dalam hati Hanan pun akhirnya berfikir, tidak mungkin Yasmin atau Haya bicara kasar, pasti Dewi yang melebihkan ceritanya, Hanan tahu saat ini Yasmin juga marah atas ucapannya barusan tapi Yasmin bisa menahan meskipun setiap katanya hingga bergetar, Hanan bingung harus percaya pada siapa?
Hanan kemudian melepas jaketnya dan menggantungkannya dibelakan pintu kamar, dan kemudian mengganti bajunya.
Yasmin tak lagi memperdulikan Hanan, dia bergegas mengurus baju baju yang tadi sore diangkat dari jemuran. Biasanya Yasmin akan bertanya suaminya sudah makan belum, atau mau minum apa, namun saat ini semua itu tidak ingin Yasmin lakukan, hatinya sakit.
Jika di balik kejadian tadi bisa saja Yasmin berkata kata yang mengintimidasi Hanan, tapi Yasmin tidak mau meluapkan emosi, tidak mau membuat rencananya yang sedari tadi sudah tersusun untuk beberes dan merapikan baju gagal karena waktu terbuang untuk meladeni kemarahan Hanan.
Mendengar suara bapaknya Haya pun jeluar kamar dengan wajah bersungut.
" Akhirnya bapak pulang, ditelpon malah yang mengangkat orang, bapak sedang apa sih sampai ga angkat dan balas pesan Haya", Ujar Haya cemberut.
" Maaf, tadi bapak sedang mengajari renang adik adik kamu nak", Ujar Hanan.
" Adik? Jadi bapak punya anak dengan orang tadi, huh! Menyebalkan", Gerutu Haya sebal.
" Bukan anak bapak, tapi mama kamu sudah punya anak dua sebelum menikah sama bapak", Ujar Hanan tenang.
" Oh, kirain bapak punya anak dengan orang gaalak tadi".
__ADS_1
" Husttt.... kok begitu bicaranya", Hanan melotot.
" Iya memang galak, Haya cuma menanyakan bapak malah dia mengatai ngatai bunda, suaranya kencang dan kasar lagi, Haya benci, apalagi setelah dia mengumpat bunda, bunda tak menjawab hanya diam dan menangis, itu membuat Haya benci banget sama orang itu".
" Bunda tidak mengajari putri bapak ini untuk tidak sopan kan? Jadilah putri bapak yang santun ya, dia itu juga mama mu jadi hormati seperti Aya menghormati bunda", Ujar Hanan lembut berharap putronya punya segan dan menurut padanya.
Haya langsung melotot pada bapaknya, sorot matanya tajam, " Tidak mau!", jawabnya ketus dan pergi meninggaljan Hanan dengan wajah penuh kecewa.
Hanan hanya bisa menarik nafas dalam dan berat, seakan ingin melepaskan beban didadanya yang menghimpit kuat.
~~
Pagi harinya aktifitas Yasmin sibuk sekali karena hari ini sudah mulai masuk sekolah kembali, Hananpun sudah bersiap, apalagi dia akan mampir dulu ke rumah Dewi untuk membawa anak anak tirinya kesekolah agar Dewi tidak perlu mengantarkan mereka.
Sementara Yasmin kembali sibuk untuk mengajar ditempat les, meskipun saat libur sekolah kemarin dirinya tetap kerja karena ada beberapa anak yang memilih tetap les meskipun libur, terutama mereka mengambil les khusus matematika.
" Bapak, nanti oulang ke rumah tidak?", Tanya Haya, anak itu mulai posesif dengan bapaknya.
" Ya pulang, memang bapak mau kemana jika tidak pulang, hemm!", Jawab Hanan, dia membelai krpala Aya setelah anak itu mengajak bersalaman untuk pamit sekolah.
" Ayo dik, sudah siang nih, entar telat", Husain sudah bersiap diatas sepeda.
" Assalamualaikum", Ucap ketiga anak Yasmin, mereka segera mengayuh sepeda untuk berangkat sekolah.
" Waalaikum salam".
" Bu, bapak juga berangkat sekarang saja, ibu hati hati kerjanya, jaga kesehatan ya", Ujar Hanan berpamitan pada Yasmin.
Yasmin hanya mengangguk dan menyalami ounggung tangan suaminya.
" Bun", Panggil bu Nunik.
__ADS_1
" Iya, ada apa buk?", Tanya yasmin pada bu Nunik yang bertamu pagi pagi kerumahnya.
" Aku mau bicara tapi jangan di luar, didalam saja ya, ga enak pagi pagi dikira ngerumpi", Jawab bu Nunik mengajak Yasmin masuk.
" Bun, di group chat rt ku, ramai membicarakan pak Hananto, ada yang mengunggah video dan foto foto pak Hanan sedang liburan berenang, tapi bukan sama bu Yasmin, mereka tetlihat mesra dengan wanita yang badannya tuh begitulah, dan juga dua anak", Ujar lirih bu Nunik.
Jlep
Jantung Yasmin bak di tancap busur panah.
Akhirnya hal yang ditutupi terbongkar juga kebenarannya, Yasmin pasrah, bukan dia yang salah tetapi semua orang akan memandang rendah dirinya, atau merasa kasihan atau mencibir.
Tapi Yasmin bisa apa? Kenyataan tak bisa diumbah, takdir hidupnya harus begini.
" Ya Alloh.... Astaghfirulloh", Yasmin terduduk disofa pandangannya kosong tangannya mengusap dadanya yang terasa sesak.
" Sabar bun, Maaf kali ini aku tidak bisa mencegah, hanya bisa berusaha agar tidak semakin menyebar", Bu Nunik pun sangat prihatin pada Yasmin.
Yasmin terisak, sedih hatinya, tetapi rasa malu yang begitu besar menghimpit dadanya.
" Bu Nunik saya malu, saya tidak tahu harus bagaimana, saya hanya perempuan yang banyak kekurangan terus saya harus bagaimana, suami poligami saya sudah hancur tetapi diketahui tetangga itu benar benar membuat saya sangat malu, hiks mau ditaruh dimana wajah aku ini bu, malu aku hiks hiks", Yasmin makin terisak sedih.
" Sabar", Bu Nunik langsung mendekap dan merengkuh bahu rapuh Yasmin yang terguncang karena menangis.
Benar saja di luar rumah, saat ada tukang sayur lewat mereka langsung bergosip tentang Hanan yang menikah lagi.
" Eh bu Hanan, mau berangkat kerja bu, itu lho bu di rt sebelah ada foto dan video mirip dengan pak Hanan tengah berenang dengan seorang perempuan dan dua anak, heboh lo bu, tapi kami sih yakin mungkin itu bukan pak Hanan hanya kebetulan mirip saja", Ujar seorang ibu yang tubuhnya besar, .emakai daster diatas lutut tanpa lengan.
" Hemmm.... ", Yasmin hanya tersenyum hambar untuk sesaat kemudian manggut hormat kesemuanya.
" Kasihan bu Yasmin, pantes sekarang bekerja, gaji suaminya terbagi sekarang", Ujar yang lain masih terdengar oleh Yasmin.
__ADS_1
" Iya, padahal bu Yasmin kurang apa coba, cantik, bodynya bagus, rajin, ibadahnya juga bagus, tidak banyak ngomong, tidak banyak ulah, kalem, pinter terbukti ketiga anak punya prestasi semua, nurut sama suami, ramah dan sopan pula", Timpal bu Gatot tetangga sebelah Yasmin.
Bersambung .......