JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Kiriman sihir


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian itu, Yasmin mulai mau curhat dengan teman seprofesinya yakni ibu Ida, belia guru ngajar bahasa inggris sekaligus istrei dari pemilik bimbel tersebut, yakni pak Taslim.


" Kamu kok sabar banget si bun, kalau aku, pak Taslim begitu udah tak bejek bejek", Ujar bu Ida gemas dengan mengkode tangan seperti mengulek sambel.


" Tadinya saya ingin menguji sesabar apa hati saya supaya tahu rasanya mencari syurga dengan poligami, ternyata itu susah bu, lebih baik saya mengiklhaskan pak Hanan sama istri mudanya bu, perkara pisah atau tidak saya tidak ingin gegabah", Ujar Yasmin makin terlihat tenang menghadapi hidupnya sekarang, berbeda dengan saat awal awal baru ditinggal poligami dia lebih pendiam dan sedih.


" Kenapa ga bunda saja yang menggugat, nanti biar dibantu cari pengacaranya bun", Ujar bu Ida pelan dan hati hati, bu Ida tahu menyarankan bercerai itu bukan hal baik, bisa jadi malah dosa tetapi melihat sang pegawai yang dianggap sebagai sahabatnya itu seperti terdzolimi membuat bibirnya tergerak untuk memberi saran cerai.


" Jujur sebagai wanita, begitu tahu pak Hanan ingin menikah lagi, saat itu juga saya ingin minta cerai bu, saya ingin lari, rasanya ingin memberi pelajaran pada pak Hanan, tapi apa jadinya jika segala sesuatu tanpa dipikir, cukup pak Hanan yang sembrono main menikah tanpa berfikir dan menimbang, saya hanya tidak mau suatu hari nanti ada penyesalan, paling tidak saya sudah mencoba bertahan jika seandainya perpisahan itu terjadi", Ucap Yasmin panjang lebar.


" Aku salut lho bun sama dirimu, tidak menyesal aku menganggapmu sahabat terbaik, benar sesakit apapun itu jika menyangkut keluarga, anak pasti kita tidak boleh gegabah, kudu sabar dan lebih berfikir, memang kita juga berhak bahagia, tezapi sebaiknya diskusikan dulu dengan anak anak, mereka juga boleh mengeluarkan pendapat sesuai keinginan mereka bun", Bu Ida.


" Pasti, kebahsgiaan saya itu nomer sekian, yang lebih utama adalah anak anak, saya harus kemana dan bagaimana setelahnya, saya bukan sendiri tapi berempat bu". Yasmin.


" Mau kemananya itu harus dipikirkan dari sekarang, kalau kerja ya disini sajalah", Ujar bu Ida.


" Ya sudah bu, saya kembali sudah dimulai kelasnya, permisi", Yadmin krmbali mengajar.


Yasmin bisa tenang menghadapi setiap amarah dan problema itu semua karena saran dari bu Ida, bu Ida telah memberi pengaruh positif bagi Yasmin.



" Astaghfirulloh apa ini.... hah hah hah....", Yasmin bermimpi sangat seram, seperti dirinya tengah ditusuk tusuk jarum di perutnya.



Bergegas Yasmi menuju kamar mandi untuk wudhu dan menghadap penciptanya, memasrahkan segala sesuatu semuanya kepada sang pemberi hidup.



Semenjak kedatangan Dewi waktu itu setiap malam Yasmin selalu mimpi aneh dan mrnyeramkan.



" Ya Allih padahal aku tadi sebelum tidur sudah wudhu kok masih saja sih, mimpi seram...", Yasmin terus berdoa meminta perlindungan pada sang Khalik.


__ADS_1


Terbersit dipikirannya untuk menaruh garam dan air di dekatnya, dulu Yadmin pernah melihat neneknya begitu, Yasmin mencoba berdoa dengan khusyuk karena Alloh SWT dan kemudian beranjak kedepan, lebih tepatnya menuju teras untuk menabur garam dan air seperti dulu sang nenek begitu.



" Ya Alloh, hamba tidak bermaksud musryik kepada-Mu, hamba hanya berlindung kepada-Mu, lindungi hamba dan keluarga hamba dari kejahatan sihir ya Alloh", Yasmin terus berdoa dan menaburkan garam dan air disudut rumahnya berharap terhindar dari mimpi mimpi aneh yang menghantuinya.



Setelah itu Yasmin mengusap wajah sampai kaki kemudian tidur kembali.


\-


\-


\-


\-




Yasmin tersenyum getir, miris jika benar ada yang bermaksud mengirim sihir kepada dirinya, sepertinya dirinya tak punya musuh.



Namun jika ada orang yang memusuhi dan bermaksud tertentu hingga mengirimkan sihir kok ya aneh, Yasmin merasa tidak punya apa apa, rasanya tidak mungkin jika dipikir ada yang sampai mengirim sihir.



" Jika iya semoga Alloh melindungiku anak anak, dan yang mengirimkan sihir semoga diampuni Aamiin ", lirih Yasmin.



Hanan makin betah di rumah Dewi, entah kenapa jika pulang ke rumah Yasmin selalu kepikiran dan cepat kangen dengan Dewi.


Padahal jika di tanya, Hanan cintanya sama Yasmin, sama Dewi itu terlanjur *****, penasaran dan tidak ada rasa yang dalam, tapi entah kenapa Hanan sendiri tidak mengerti.

__ADS_1


Namun Hanan tak ambil pusing, toh walaupun jarang je rumah Yasmin, anak anaknya juga cuek, tidak pernah sekalipun untuk menelponnya, menanyakan kabar atau apa, begitupun Yasmin hanya sesekali saja kirim pesan dan menanyakan kabar itupun karena ada urusan mengenai anak anak.


Makin hari makin jauh, tetapi satu hal yang membuat Hanan lebih tenang istrinya Dewi sekarang lebih perhatian, sering memasak tidak seperti dulu lagi.


Namun duit yang dia berikan untuk Dewi kok ya pas terus tidak pernah bisa menabung padahal jika dirasa sekarang jelas lebih irit, tidak banyak jajan.


" Ma, bapak nanti akan pulang sebebtar, katanya Aya mriang", Hanan sekarang begitu lembut dan berpamitan jika mau kemanapun dengan Dewi.


" Aku ikut ya pak", Jawab Dewi.


" Tidak usah, cuma bentar, bapak mana bisa ninggalin mama lama lama, tidak usah ikut, tunggu bapak di rumah saja", Ujar Hanan seraya menoel hidung Dewi yang mungil.


Entah kenapa Hanan seperti melihat sinar mata Dewi tidak biasa, ada pancaran tajam dan seram atau entahlah Hanan juga tidak paham, mungkin Dewi cemburu, pikir Hanan.


Hanan sampai di rumah Yasmin setelah maghrib, Yasmin dan anak anak tengah menikmati makan malam.


" Assalamualaikum", Hanan masuk rumah dengan uluk salam.


" Waalaikum salam", Jawab serentak yang di rumah.


" Bapak, akhirnya datang.... kirain bapak sudah lupa sama Haya", Haya bersungut sedih membuat hati Hanan seperti tergores duri saat mendengar kata kata yang keluar dari mulut putrinya.


" Adik.... Bapak sedang mencari amal dengan mengurus anak yatim", Cerokos Husain tak kalah sengit.


" Haiisssttt.... Anak anak bapak pulang bukannya di peluk atau disayang kok malah pada galak sih", Ujar Yadmin kalem.


" Begitulah bun, jika anak kurang bimbingan orang tua, bicara saja ngawur", Ketus Hanan.


" Ya iya lah, pasti.... orang tuaku kan sibuk mengurus anak yatim dan menyantuni janda, wajar jika kami menjadi urakan", Hasan yang biasa paling sabar kini anak itu berkata sangat pedas.


Heniing.....


Mata Hanan memerah, nafasmya turun naik pertanda menahan amarah yang kuat setelah Hasan berbicara, Yasmin beristighfar deng dada berdebar.


" Sudah nak, kalian harus ikhlas biar kalian happy seperti ibu, sesungguhnya seorang anak dilahirkan untuk membuat orang tuanya bahagia kan? Nah bapak bahagia dengan ibu Dewi, kalian harus ikhlas ya", Yasmin mengusap kepala anaknya satu satu.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2