
Hanan berpikir saat belum mengucap talak dengan Yasmin, jika mempertahankan Yasmin pasti tak akan seharmonis dulu, kesalahan dengan melakukan poligami sudah menyakiti hati Yasmin, dan membuat perlakuan Yasmin padanya berubah, tak selembut dulu, bahkan sesekali Yasmin bisa melontarkan kata kata perlawanan jika tidak sesuai dengan pikirannya, dulu! Yasmin hanya diam dan nurut saja.
Karena itulah akhirnya Hanan memilih Dewi, Dewi mau nurut dengan nya padahal Dewi itu sebelumnya suka main, ngerokok dan kumpul kumpul teman, sekarang sudah tidak lagi. Maka Hanan saat itu berfikir untuk mempertahankan Dewi.
Tapi entah kenapa saat sudah mentalak Yasmin hatinya sekarang jadi hampa, seperti ada yang hilang, bahkan ini sudah hampir seminggu semenjak kejadian itu ***** makan Hanan belum pulih.
" Pak, kenapa bapak mama lihat jarang makan, bapak makan tadi disekolah?", Tanya Dewi.
" Iya ", Jawab singkat Hanan, boro boro makan minumpun rasanya malas, badannya lemas entah karena merindukan Yasmin atau sedih karena telah menceraikan Yasmin atau karena kurang makan, Hanan sendiri tidak tahu, yang jelas tidak selera makan, dan lemas serta hatinya kosong.
" Bunda..... Aku patah hati", Batin Hanan merintih.
Pagi ini anak anak Yasmin sudah berangkat sekolah. Yasmin mrmutuskan untuk menelpon orang tuanya.
Yasmin itu dua bersaudara, dia anak yang kedua sementara kakaknya adalah lelaki bernama Yudi Anugerah seorang kepala sekolah menengah di desa asal Yasmin.
Hanan dan Yasmin merupakan tetangga desa, Hanan menyukai Yasmin semenjak masih dibangku SMA, namun Hanan langsung bilang pada bapaknya jika ingin meminang Yasmin kelak jika sudah selesai kuliah.
Dan benar selesai kuliah Hanan melamar Yasmin, yang memang semenjak bapaknya Hanan meminta Yasmin tidak pernah menerima lelaki manapun lagi.
" Assalamualaikum bu", Sapa Yasmin lembut pada Wanita enampuluhan yang masih sangat gesit dan sehat.
" Waalaikum salam nak, apa kabarnya?", Tanya bu Ning antusias, hatinya senang di telpon oleh putri yang sangat dirindukannya.
" Alhamdulillah bu kabar Yasmin dan anak anak semua sehat, ibu dan bapak bagaimana? Serta keluarga mas Yud bu?", Tanya Yasmin.
" Alhamdulillah kami semua juga sehat nak, malah bapak kemarin habis cek up hasilnya bagus semua, sekarang sedang kesawah nduk", Ujar ibu.
" Syukurlah jika sehat, bu.... Yasmin kangen!", Suara Yasmin pelan.
Deg
__ADS_1
Perasaan bu Ning langsung terasa ada sesuat namun bu Ning pun tak ingin mengorek jika Yasmin tak cerita, beliau cukup mempersiapkan diri agar putrinya baik baik saja.
" Anak anak bagaimana?", Bu Ning.
" Sehat bu", Yasmin.
" Suamimu Hananto?", Bu Ning.
" Hemm.... Mas Hanan ya baik!", Jawab Yasmin ragu.
" Kamu sedang ada masalah dengan Hananto nduk?", Tanya ibu pelan pasalnya dirinya tidak ingin ikut campur masalah keluarga.
" Tidak bu, Yasmin tidak apa apa!", Ucap Yasmin dengan mata berkaca kaca.
" Bu.... Maafkan Yasmin, maaf.... Yasmin sudah berusaha, namun gagal bu, mas Hanan dia menikah lagi dan mrninggalkan Yasmin, kini Yasmin seorang janda bu hiks hiks...", Berbelitpun tak ada guna Yasmin bercerita apa adanya.
" Astaghfirullohaladziimm.... Gusti, yuwun pangapunten... Ya Alloh .. Kamu yang sabar nak, mungkin jodoh kalian memang hanya sampai disini, memang poligami itu diperbolehkan dan cerai pun tidak di larang tetapi Alloh akan marah nduk, semoga kali ini kemarahan Alloh tidak menimpamu nak, ibu percaya kamu sudah berusaha tetapi tetap diceraikan, ya sudah ikhlaskan tidak apa apa, Hanan tahu jika dia poligami ya resikonya begitu bisa bertahan atau kehilangan, dia memilih membuangmu jangan sakit hati, tabah ya... ibu mendoakan mu yang terbaik untuk mu dan anak anak", Bu Ning berbicara panjang lebar dengan tenang tidak ada emosi sedikitpun, sambil mendrngarkan tangis Yasmin.
" Lalu rencanamu bagaimana?", Tanya ibu.
" Sementara saya tetap disini bu, karena anak anak belum beres ujian, namun nanti Yasmin belum tahu selanjutnya gimana", Jawab Yasmin.
" Ya sudah minta Hanan mengurus surat cerainya, tidak usah bertahan untuk rujuk, ibu mau tahu sampai dimana dia, apakah berani dia mepulangkan mu atau tidak", Ujar Bu Ning sedikit geram.
" Iya, bu... Semoga mas Hanan tidak menuntut gono gini, sebab kami cuma rumah ini, kasihan anak anak jika harus kehilangan tempat tinggal juga", Lirih Yasmin.
__ADS_1
" Seandainya iya! ya sudah ikhlaskan, berikan... bapakmu masih mampu membangunkan sebuah rumah untuk mu, bahkan jika kalian mau tinggallah disini, mas mu dia sudah menetap di rumah mertuanya", Jawab bu Ning.
" Iya bu, Yasmin tutup dulu ya bu telponnya, jangan jadi pikiran bapak ibu ya, ini semua sudah takdir, Yasmin sudah ikhlas bu, Yasmin yakin Yasmin bisa bahagia meski tanpa mas Hanan, cukup dengan anak anak", Jawaba Yasmin.
" Ya sudah Assalamualaikum", Yasmin.
" Waalaikum salam".
Yasmin lega, yang tadi ragu, was was dan bimbang kini sudah plong karenasudah cerita pada ibunya.
" Duh Gusti.... Hanan kok tego tenan sama anak ku, opo salahe Yasmin kok sampai mbok wayoh ki... ( Dimadu )", Bu Ning terisak juga meski sedari tadi berusaha tabah namun setelah telpon ditutup akhirnya tak kuasa menahan tangisnya.
Sementara ditempat Hanan, sepulang dari kantor urusan agama untuk mendatafkan gugatan cerainya Hanan limbung tak ada tenaga.
Badannya yang lemas dan panas juga membuatnya harus membaringkan dirinya.
" Bapak kok ga makan? Tadi dari mana?", Tanya Dewi.
" Dari sekolah, cuma bapak hanya mengajar teori saja ma, badan bapak mriang", Jawab Hanan.
" Ya sudah mama buatkan bubur dulu", Dewi membuat bubur sumsum untuk hanan.
Saat Dewi di dapur pinsel Hanan betbunyi ternyata itu pesan dari Yasmin.
" Pak, Aku sudah mengabari ibu jika kita sudah pisah, selanjutnya semua menjadi urusan mu, Yasmin harap rumah ini jamgan petnah di jual, ini milik anak anak pak!".
Hanan membaca dengan air mata yang mengalir di sudut matanya. Bahkan dirinya belum punya nyali untuk cerita pada anak anaknya namun Yasmin bahkan sudah memberitahukan pada orang tuanya, pasti orang tua Hanan pun akan segera tahu, dan itu artinya diapun harus siap menghadapi segala resikonya.
Setelah matang kemudian menyuapinya dengan telaten.
" Dihabiskan ya pak, bapak seminggu ini jarang makan makanya badannya lemas", Ujar Dewi.
" Ga enak, pahit", Jawab Hanan yang memang mulutnya terasa pahit.
" Ke dokter saja yuk pak, biar tahu bapak sakitnya apa?", Ujar Dewi
Hananpun hanya nutut saja, dan ternyata setelah diperiksa oleh dokter Hanan menderita typus, harusnya di rawat tetapi Hanan tidak mau, akhirnya dokter memberikan infus dan disuruh menunggu hingga infus habis baru boleh pulang.
" Jangan banyak pikiran pak, sepertinya bapak tengah berfikir keras sehingga imun bapak turun dan ya ini, sakit .... Lekas sembuh yaa", Ujar dokter ketuka Hanan hendak pulang.
Bersambung.....
__ADS_1