JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
JJS


__ADS_3

Dokter Yusuf cuma senyum senyum menahan senang yang terlampau banyak, bagaimana tidak istrinya semenjak pindah rumah jadi agresif.


Selalu meminta terlebih dulu, dan itu bagai durian runtuh berisikan emas batangan, sangat menyenangkan bagi dokter Yusuf.


" Bunda..... kapan mau periksa kandungan, Ayah sudah tidak sabar mau denger detak jantungnya, mungkin wajahnya, pokoknya mau memastikan keadaan dia di dalam sini", Ucap dokter Yusuf, pasalnya Yasmin belum mau di USG, katanya nanti saja.


" Minggu depan empat belas minggu, kita periksa dengan doktee Okta?", Ucap Yasmin.


" Yess.... Dengan senang hati cintaku", Jawab dokter Yusuf.


" Mas itu terlihat seperti baru pertama mau punya anak saja, haa", Yasmin tergelak melihat tingkah suaminya.


" Lha memang iya, ini moment pertama aku mau punya anak dengan cintaku, wajar dong mas begini, masih mending mas ga sampai salto!", Jawab dokter Yusuf terkekeh lebar.


" Lah, kok bunda ujug ujug ngidam pingin lihat ayah salto yak!", Yasminpun tertawa lebar menanggapi ucapan suaminya.


" Wahhh jangan dong! Baby jangan ya... mending ayah manjat bunda mu saja ya... jangan salto lah ya", Ucap dokter Yusuf memelas.


" Idiihhh.... dikira aku pohon kelapa apa ya", Yasmin tergelak.


" Anak kita itu baik lho bun, masih di perut saja dia sudah mengajak ayahnya berkomunikasi lewat acara aku yang ngidam, sesuatu pokoknya... dulu Hervina hamil dua kali aku ga pernah merasakan apapun, sama sekali dia juga tidak, Sementara yang ini bunda doyan banget sama ketiakku... sungguh jika dipikir bikin m*al ", Dokter Yusuf terkekeh lebar.


" Jangan dipikir, dirasain saja...",Yasmin langsung mrngendus ketiak dokter Yusuf.


Dokter Yusuf hanya menikmati setiap momen istrinya mengusek usek ketiaknya.


" Kok ga bau sih, biasanya ada asem asemnya gitu", Ujar Yasmin.


" Kan suamimu ini habis mandi sayang, ya pakai diodorant lah, biar seger gitu", Jawab dokter Yusuf.


" Enak jika tak pakai diodorant Ayah", Yasmin memberengut kecewa.


" Lah... jangan merajuk dong! Nanti juga asem kok... ", Dokter Yusuf mengusap Yasmin dengan lembut, memang biasanya dia selalu memakai diodorant sesudah mandi, tetapi biasanya Yasmin tidak menciumnya kecuali sepulang kerja karena kangen atau siang hari jadi diodorannya sudah tidak terlalu mrnyengat.


" Sayang..... kita keluar yuk, cari sesuatu", Ucap dokter Yusuf untuk menenangkan istrinya yang masih merajuk.


" Mau cari apa?", Tanya Yasmin malas.


" Mau jalan jalan naik motor berdua, sambil cari sesuatu, siap siap gih", Mendengar ucapan suaminya Yasmin beringsut untuk bersiap.


" Boleh mas aku pakai baju begini?", Tanya Yasmin yang memakai baju tunik dipadukan dengan celana panjang.


" Ada kulot ga? Pakai yang agak longgar saja", Jawab dokter Yusuf.


Yasmin pun menuruti dan mencari cari kulon yang senada dengan bajunya. Setelah itu langsung menggantinya, kemudian memakai kerudung yang sesuai.


" Pakai helmnya, dan kaca mata juga masker", Dokter Yusuf sudah menyiapkan keperluan itu untuk Yasmin.


Yasmin menyiapkan tas selempang kecil dan memasukkan tisu basah, tissu kering, handsanitiser, minyak kayu putih dan ponselnya.


" Ayah bunda mau kemana?", Tanya Aya yang tengah duduk di depan tivi.


" Mau jalan jalan keluar, kalian mau dibawa apa?", Tanya dokter Yusuf.

__ADS_1


" Ga ah Ayah!", jawab Aya.


" Ya sudah, kita berangkat dulu ya", Pamit dokter Yusuf dan Yasmin.


" Iya".



Hanan selesai dioperasi kakinya yang patah, dan tangannya yang retak digip, ada beberapa bagian tubuhnya yang di jahit juga karena luka luar yang cukup dalam, gegar otaknya tidak terlalu parah untungnya.



Kini sudah berada di ruang inap, Dewi sudah mengurus administrasinya, meskipun ada Askes karena Hanan PNS tetapi di rumah sakit itu kemarin minta uang jaminan atau deposit lebih dulu, dan hari ini Dewi baru mengurusmya agar Hanan mendapat penanganan medis sesuai dengan haknya.



Hanan sudah stabil tapi masih dalam pengaruh obat bius, Dewi pada akhirnya yang mengurus dan menemani, meskipun sudah diceraikan rasa kemanusiaan Dewi terpanggil, kasihan dulu saat dirinya dan anakknya celaka Hanan yang mengurusi, sekarang mungkin saat dia balas kebaikan mantan suaminya, bukan karena itu juga namun Hanan yang tidak ada saudara dikota itu jauh dari orang tua juga membuat Dewi tidak tega membiarkan Hanan sendiri.



" Mau minum?", Tawar Dewi pada Hanan yang mengedip ngedipkan mata menutar bola mata memperhatikan sekitar ruangan inapnya.



" Aku kenapa? Dimana ini?", Itu pertanyaan Hanan yang keluar dari mulutnya dengan suara pelan dan lirih.




" Mas, apa yang terasa sakit?", Tanya Dewi khawatir melihat kondisi Hanan.



" Kepala, kepalaku sakit sekali", Jawab Hanan.



" Sabar mas, tenang.... Tarik nafas ya, aku panggilkan dokter dulu!", Ucap Dewi.



Dewi kemudian memencet tombol untuk memanggil dokter. Hanan masih terpejam dengan rapat sambil sesekali menarik nafas dalam.



" Iya bu?", Tanya perawat yang masuk kedalam ruangan bersama dokter.



" Kepala katanya sakit dok!", Jawab Dewi.


__ADS_1


" Sabar ya pak, ini akibat gegar otaknya, nanti bisa di minum obatnya untuk mengurangi rasa pusing dan sakitnya ya", Ucap dokter sambil memeriksa Hanan, dokter memberikan resep pada suster untuk menyuntikkan obat pada botol knfus Hanan.



" Butuh berapa lama dokter untuk pulih?", Tanya Dewi.



" Jika bapak bisa istirahat dengan baik, tenang dan sabar mungkin dalam waktu cepat bisa pulih, kita berusaha bersama ya pak", Ucap dokter memberitahukan.



" Iya dok, tetima kasih", Jawab Dewi.



" Kami permisi bu, biarkan pasien tenang dan istirahat dengan cukup", Ucap dokter sebelum pergi meninggalkan ruang inap tersebut.



" Baik dok, terima kasih", Ucap Dewi.



Dewi kembali duduk disisi tempat tidur Hanan dengan tenang, sesekali memainkan ponselnya.



" Kamu pulang saja, biar bisa istirahat, aku ga apa apa sendiri", Lirih Hanan yang merasa tak enak jika Harus ditungguin oleh mantan istrinya.



" Nanti aku akan pulang jika mau, sekarang masih mau di sini, sudah istirahat saja", Jawab Dewi.



Hananpun krmbali memejamkan mata, obat yang disuntikkan suster rupanya sudah bekerja dengan baik, tidak butuh waktu lama Hanan pun tertidur pulas.



Dokter Yusuf dan Yasmin menaiki motor pelan menuju pinggiran kota.


" Bun kita ke sana ya, di sana itu ada Dam air, tak jauh dari situ ada tukang jualan pecel dengan iwak kali ( ikan sungai, ikan air tawar) biasa ramai karena bumbu pecelnya yang endes tralalaa", Kata dokter Yusuf.


" Mau....", Jawab Yasmin senang.


" Oke.... !".


" Pemandangannya bagus banget mas, sawahnya terasering, ada Dam di tempat yang tinggi, bagus ihhh... bisa lihat kota dari sini dan hamparan sawah seperti karpet, dan juga sawah terasering seperti lukisan", Yasmin antusias sekali.


" Yupz.... Kita foto berdua sayang...", Dokter Yusuf pun mengambil gambar mereka dengan latar pandangan tersebut.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2