JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Nekad


__ADS_3

" Apa sih bun, ini koper perlengkapan sekolah dan baju Awa, saya seminggu ini mau ada urusan, dan minta tolong ya nitip Awa, mau kan?", Ujar dokter Yusuf dengan wajah memohon.


Yasmin hanya mendesah kesal, namun akhirnya mengangguk, " Dasar dokter gemblung!", Desahnya.


" Aiihhh.... pagi pagi sudah fitnah! Mana ada orang gemblung jadi dokter!!", Protes dokter Yusuf.


Yasmin yang sedari tadi memberengutpun akhirnya terkekeh pelan mendengar sanggahan dokter Yusuf.


" Nah gitu tersenyum kan jadi terlihat bersaing dengan sunrise yang indah pagi ini", Ujar dokter.


" Pagi pagi ga usah ngegombal dok, bikin hariku apek saja!", Ketus Yasmin.


" Jangan dong, matahari pagi ini carah lho, mosok apek", Jawab dokter Yusuf sekenanya, Yasmin menyuguhkan kopi hitam dihadapannya.


" Terima kasih", Ucap dokter Yusup dengan senyum manisnya meskipun Yasmin langsung pergi tanpa melihat dokter Yusuf.


" Anak anak sarapannya sudah siap, ayo keburu siang nih!", Seru Yasmin memanggil anak anaknya.


" Hari ini yang antar sekolah aku bun, sekalian Hasan yang antar aku juga", Dokter Yusuf langsung menyela, Yasmin hanya mendengar dan diam saja tidak menjawab.


" Bunda jam berapa kesekolah?", Tanya dokter Yusuf.


" Jam sembilan".


" Nah, pas kan... jadi bunda bisa berangkat santai tidak perlu bolak balik karena nganterin anak anak dulu". Mendrngar ucapan dokter Yusuf Yasmin hanya mengangguk setuju.


Meskipun Yasmin seperti cuek, tetapi dalam hati ia bersyukur ada dokter gemblung ini, cukup bisa diandalkan juga, batinnya. Yasmin belum tahu orang yang konyol itu lebih perhatian lho bunda dibanding yang sok cool macam mas Hananto.



Dewi benar saja dengan bujuk rayu dan sedikit ancaman dari mang Sableng, akhirnya luluh juga, dan beralasan pada temannya jika mau pulang duluan karena ada perlu dan hendak menumpang motor mang Usep sampai jalan raya.



" Dewi kenapa pulang duluan?", Tanya Siska pada Cici.



" Ada perlu katanya, suaminya barusan telpon langsung buru buru pulang", Jawab Cici., padahal boro telon, kirim pesan dan menanyakan keberadaan Dewi pun tidak, Hanan sedang ngupi ngupi di kafe lah ya.



" Mang.... kenapa kesini?", Tanya Dewi yang heran, biasanya merrka akan menuju ke rumah yang berada di kampung, yang tetletak dipinggir jalan yang sedikit menanjak dan jauh dari tetangga itu, tetapi kali ini kok malah menuju ke sebuah wisma atau losmen, kurang lebih begitulah, atau istilahnya penginapan melati yang bisa disewa per jam.



" Kali kali kita mainnya dikota, kali ini aku yang bayar, kamu tidak usah keluar uang", Jawab si mang Sableng sok gagah, tapi memang sableng ini orangnya gagah, ototnya kuat karena keseharian dia yang seorang petani, hanya saja lebih pendek dari Hanan.



" Iih.... Niat banget!", Jawab Dewi sinis.

__ADS_1



" Iyalah niat banget... kamu sekarang terlihat beda, lebih gimana gitu... olah raganya rajin ya?", Goda mang Usep sableng.



" Rajin.... Ikut suami renang", Jawsb Dewi yang memang ia, jika tidak ada bu Rosa Hanan membawa Dewi.



" Wah, makin di sayang suami dong!", Goda mang Usep.



" Oh, jelas!!", Jawab Dewi bohong, nyatanya Hanan sekarang masih dingin.



" Ya, sudah Hayo!", Mang Usep menuntun Dewi menuju kamar yang telah dipesannya.



Dewi rasanya ingin marah, tidak mau terus di tumpakan sama dukun cabul ini tapi ancamannya tadi membuat Dewi tak bisa menghindar.



Meskipun nakal Dewi rasanya juga tak mau jika harus bebrurusan dengan mdnusia yang tengah menuntunnya ini, betjalan mengikuti mang Sableng sambil berfikir.




Begitu masuk kamar dia langsung menyambar bibir Dewi yang dihias lipstik warna merah bata, tangannya pun langsung meremas b\*\*\*\*\* Dewi.



" Achh....", Dewi mendesah walaupun kesal pada mang Usep, nyatanya diapun mend\*\*\*h efek lama tak di garap oleh pak guru Hanan, begitu disentuh sedikit oleh pak tani langsung bereaksi.



" Mang kangen neng!", Bisik mang Usep sableng ditelinga Dewi.



Dewi diam saja, dalam hati kalau bisa menggagalkan semua ini dia akan lari sejauh mungkin dari mang Usep, tapi sialnya sentuhan si mamang cabul ini sungguh tak bisa diabaikan. Bukan karenaapa Dewi ingin menghindar dari mang Sableng, karenaa menurut Dewi urusannya runyam jika dengan orang macam mang Usep begini, takut dipelet dan dia nanti bisa jatuh sama orang ini.



Mang Usep merebahkan tubuh Dewi perlahan diatas kasur dan tangannya masih asyik mengusap sana sini. Dewi pun malah semakin menjadi tangannya malah merangkul leher mang Usep posesif dengan pagutan yang tak dilepasnya sedari tadi.


__ADS_1


" Alahhh.... Neng, alah alah... kenapa ga ngomong??!!!", Wajah mang Usep merah padam menahan kekecewaan yang besar.



" Alahhh ... kenapa?!", Dewipun bingung.



" Neng Dewi bilang dong kalau lagi berhalangan, mang udah keluar duit untuk sewa kamar, udah ngebayang tiga ronde neng, mang kangen banget", Ujar mang Usep dengan kekecewaan yang dalam.



" Hah!!! Kenapa ga kerasa, aduh maaf mang... kalau kerasa mungkin Dewi juga menolak, sungguh Dewi tidak tahu!", Dewipun beringsut untuk membenahi bajunya dan segera kekamar mandi untuk memakai pembalut yang selalu Dewi siapkan ditasnya.



Keluar dari kamar mandi mang Usep yang tadi sudah siap tempur, masih menunggu dengan pedang panjangnya.



" Buka baju bagian atasnya!", Titahnya dengan nada sebal.



Dewi menatap mang Usep dengan wajah jengkel juga, pasalnya tadi dikamar mandi dia sudah merasa aman, ternyata masih suruh mencari jalan menuju Roma, haduuuhhh, desah Dewi kesal.



Bu Rosa akhirnya tidak berlama lama bertemu Hanan karena suaminya sudah menelpon terus sedari tadi, sehingga hari ini mereka belum jadi berhahahihii, namun Hanan sudah dapat traktiran makan siang dengan sebungkus rokok serta satu pak roti, lumayan.


Hanan benar benar seperti memanfaatkan bu Rosa, tak ada rasa sungkan untuk gantian membayar traktiran, terus terusan yang membayar bu Rosa, bahkan sikap perhatian bu Rosa makin membuat Hanan terlena.


Hanan kali ini menyewa sebuah kamar kontrakan sederhana di dekat sekolah tempat dia mengajar, hanya untuk sekedar untuk istirahat jika malas pulang soalnya masih sedikit kecewa dengan Dewi.




Dokter Yusuf saat ini sedang melajukan mobilnya sedikut pelan, menikmati pemandangan kampung nan asri, udara yang sejuk dan suasana yang menyenangkan melihat para petani sedang membajak sawah, membuat dokter Yusuf tersenyum senang, merasa damai dan tentram hatinya menikmati pemandangyn itu.



Hari sudah menjelang siang, karena perjalanan dari kota sampai kampung ini memakan waktu dua jam. Dokter Yusuf mdlirik barang bawaannya yang ia taruh di jok belakang.



" Sudah cukuplah untuk perkenalan kali ini", Gumamnya melihat disana ada buah buahan, kue kering, roti, cake juga, gula, teh, kopi, serta ada makanan khas dari kota yang tadi pagi ia beli dari sebuah resto.



Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2