JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Datang ke rumah


__ADS_3

Hanan sungguh takjub mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut remaja tampan yang mukanya terlihat sangat bersih dan bersinar itu.


" Oh itu nak Hasan Pak!, Iya dia masih muda baru semester 3 Pak, namun sesekali ada waktu dia akan meluangkan untuk menjadi imam jamaah di masjid ini kebanyakan jamaah menyukai bacaannya serta ceramah-ceramahnya yang sangat sesuai dan pintar cara menyampaikannya kepada kami sehingga kami bisa menerima dengan jelas", terang Bapak tersebut.


Hanan pun manggut-manggut setuju, Jujur dari kemarin sore yang membuat hatinya bergetar itu ini remaja ini Entah mengapa menatap wajahnya rasanya Hanan pengen menangis sendiri tidak tahu hatinya bergetar mendengar suara serta menatap wajah remaja tersebut.


Hasan.... ya Hassan nama yang disebutkan Bapak tersebut mungkinkah Dia Hasan ku gumam Hanan dalam hati sudut matanya sudah basah hatinya bergetar dan perih tidak berani membayangkan kalau seandainya ia itu Hasan ku rasanya aku akan bersujud di kaki bundanya akan ku abdikan seluruh hidupku hanya pada bundanya serta mereka ketiga anak-anakku itulah batin Hanan.


" Apakah dia sering menjadi imam di tempat ini Pak, setiap hari kah?", tanya Hanan kembali pada bapak tersebut.


" Dia itu masih belajar di universitas unggulan di kota ini Pak namun setiap ada waktu dia akan menyempatkan untuk menjadi imam di sini sebenarnya dia juga memberikan kesempatan pada yang lain namun karena ini komplek Pak kebanyakan penghuninya sibuk semua dan orang yang sudah berumur seperti saya lebih menyukai dia yang maju di depan bukan apa-apa karena bacaan dia jelas suaranya pun indah itu pertimbangan kami dan ilmunya cukup, nah begitu Pak!", cerita Bapak tersebut.


Hanan kembali manggut-manggut bahkan Kali ini dia tidak malu mengusap air matanya yang hampir jatuh di sudut matanya di depan Bapak tersebut tanpa malu-malu.


" Saya sangat terharu mendengar ceramah anak tersebut", ucap Hanan.


" Begitulah Pak semuanya mengalir begitu saja karena kecerdasan dia menyampaikan kepada umat ketulusan dia hingga itu benar-benar bisa menyentuh hati kita pak", ujar Bapak tersebut.


" Dia selalu jamaah di sini bertiga Pak, ada adiknya juga, adiknya juga pintar dan juga ayahnya seorang dokter", ucap Bapak tersebut.


Tapi entah mengapa meskipun sedari tadi Hanan selalu memandang remaja yang sedang ceramah tersebut selain hatinya yang bergetar Hanan sama sekali tidak bisa mengenali remaja tersebut.


" Kak", Panggil Husein setelah ceramah selesai.


" Iya".


" Ada salah satu keran kamar mandi bocor", ucap Husain tergopoh mendekati kakaknya.

__ADS_1


" Ya sudah kasih tau Ayah suruh duluan kita pulangnya nanti saja mau betulin keran dulu", jawab Hasan segera bergegas menuju peran yang dimaksud Husein.


Hanan memperhatikan interaksi kedua remaja itu dia tahu betul itu Husein putranya Iya itu Husain. Dan....


" Aaacchhhgggrrr.... Ya Alloh, berarti itu Hasan putraku", Hanan menyukai rambutnya kasar dengan kedua telapak tangannya dan bersandar di tembok masjid dengan lemas Dia sangat yakin bahwa kedua remaja itu adalah putranya.


Hanan perlahan-lahan mendekati kedua remaja itu yang masih berdiri di dekat tempat wudhu setelah selesai membetulkan keran.


" Assalamualaikum", sapa Hanan, dengan mata yang berkaca-kaca dan suara serak menahan tangis.


" Bapakkk!!", suara Husein lemah memanggilnya namun tidak dengan Hasan remaja itu hanya menatap nanar bahkan terlihat dingin tidak seramah tadi.


" Masya Allah, kalian Hasan Husein putraku?", Kini Hanan sudah terpaku hebat.


Husain langsung menubruk bapaknya, Hanan pun langsung terisak-isak penuh haru membalas rangkulan Husein penuh kerinduan dan kekaguman yang luar biasa.


" Putraku!", bisiknya ada nada berat syarat kepedihan yang keluar dari mulut.


" Sini nak... peluk bapak", Hanan memanjangkan tangannya untuk meraih Hasan namun tidak mendapat respon sedikit pun kecuali hanya tatapan nanar dan dingin serta datar.


Husain pun kemudian melepaskan diri dari pelukan sang Bapak.


" Kak, ini Bapak Kak!", seru Husein kepada Hasan. Hasan hanya mengangguk namun matanya tetap menatap tajam kearah Hanan tanpa senyum ataupun keramahan.


" Sudah dek, jika sudah mari kita pulang dek, hari sudah menjelang siang nanti Adik kesiangan jika mau sekolah", ucap Hasan sambil menarik tangan Husein untuk pergi dari lokasi itu.


" Hai Kak!... ini hari Sabtu Kak, sekolah libur, Kakak lupa ya", suara Husein sedikit berteriak mengingatkan pada Hasan.

__ADS_1


" Tunggu nak, jangan tinggalkan bapak, bapak jauh-jauh ke sini karena mencari kalian, tolong mengertilah", Seru Hanan mengejar kedua putranya.


Hasan pun berhenti dan menoleh kearah suara bapaknya, " untuk apa Bapak mencari kami untuk disakiti lagi?, kami baik-baik saja Pak, jika Bapak ingin tahu kabar kami", mencari alasan.


" Tolonglah Nak, bapak mau bertemu adik dan juga bunda kalian", ucap Hanan penuh permohonan, Husein pun akhirnya menarik tangan bapaknya dan mereka hanya bisa saling tatap dan Hasan mengangguk menyetujui dan mereka bertiga pun berjalan menuju rumah dokter Yusuf tanpa pembicaraan apa-apa.


" Assalamualaikum", berapa Husain dan Hasan ketika memasuki halaman rumah di liriknya mobil dokter Yusuf sudah tidak ada di rumah.


" Waalaikumsalam Kak", jawab Bibi murni.


" Silakan masuk Pak!", dengan nada dingin akan mempersilahkan bapaknya untuk memasuki ruang tamu, seketika hati Hanan berdegup tak karuan rasanya tidak sabar ingin segera melihat wajah Yasmin dan Aya.


Hasan pun masuk dan memanggil Yasmin.


" Bun Ayah mana? di luar ada Bapak mencari kita!", ucapnya dingin sementara Husein hanya memandang sambil mendudukkan dirinya di sofa depan TV.


Sementara itu di ruang tamu hanya memandangi rumah Yasmin, ada senyum terukir di bibirnya, hatinya senang melihat tempat tinggal istrinya menurutnya rumah yang sangat mewah rumah yang luas bangunan yang bagus interior ruang tamu yang pas dan terlihat mahal, namun di sana nggak ada foto sedikitpun tentang penghuni rumah.


" Bapak?!", Yasmin berbicara lirih namun sangat terkejut terdengar dinada suaranya.


" Mau apa?, Kok bisa sampai sini?",rintih Yasmin kembali tidak habis pikir.


Yasmin yang pagi itu sudah terlihat sangat rapi dan cantik meskipun kini badannya sedikit lebih berisi karena sedang menyusui.


Yasmin masih terdiam rasanya malas untuk menemani tamunya pagi ini namun juga tidak sopan jika tidak menemui di hatinya sudah tidak terasa apapun.


" Temani dulu bapak mu kak, Adik Aya juga kasih tahu", ujar Yasmin lembut, Hasan pun mengangguk setuju, sebenci apapun pada bapaknya tetap dia merindukan orang yang telah mengabaikannyaselama ini.

__ADS_1


" Bi tolong bikinkan minum serta camilan untuk tamu yang di ruang tamu ya",ucap Yasmin pada bi Murni.


Bersambung.....


__ADS_2