
Pagi pagi subuh Hanan sudah sampai dikampung halamannya setelah naik kereta selama tujuh jam.
Namun ternyata rumah orang tua Hanan kosong, dan tetangga bilang jika ibunya di rawat di rumah sakit sudah seminggu.
Hanan terdiam, rasa capek dan sedikit kantuk karena semalam duduk dikereta nyatanya harus mendapati rumah orang tuanya kosong. Sang Adik tak tinggal di rumah itu karena adik lrlakinya merantau ke Kalimantan sedang adik perempuannya dibawa oleh suaminya hidup dikampung sebelah.
" Masuk rumah dulu, minum teh, mandi apa dulu, baru nanti susul bapak mu ke rumah sakit", Ujar tetangga Hanan dikampung.
Hanan pun menurut, habis badan yang capek dan mata yang sedikit perih memang mengajak untuk diistirahatkan sejenak.
" Ibu mu itu mriang sudah lama,. sudah ada sebulan mungkin, tidak selera makan, badannya kurus terus kok lama lama lemas gitu, barulah dibawa ke puskesmas, dari sana ternyata ibumu harus di rawat makanya sekarang berada di rumah sakit kota, dua hari lalu bakde sama budhe juga sudah menjenguk, tetapi ibu mu tak mau membuka mata, hanya merem terus", Tetangga Hanan yang biasa dipanggil pakde budhe itu menjelaskan.
" Kiranya ibu sakit apa pakdd?", Tanya Hanan.
" Pikiran sepertinya, lha katanya kamu pisahan sama Yasmin?", Tanya pakde.
" Iya pakde", Hanan tertunduk sedih, dikampung ituYasmin terkenal cantik pada masanya, banyak pemuda yang naksir tetapi kalah cepat dengan lamaran bapak Hanan untuk Hanan.
" Lho kenapa? Kamu kok sampai hati melepas Yasmin, pakde rasa dia itu perempuan spesial lho, dari kecil anak itu begitu sholih, tidak neko neko, ramah dan ceria, terus bocah itu pinter tenan lho... lha iya wong dulu pakde ini guru SD nya kok, dia itu pernah ikut lomba sampai kabupaten lho, menang... dapat piala, dapat uang, dapat hadiah berupa sepasang kambing ternak, beneran itu", Pakde mengenang jaman waktu Yasmin menjadi muridnya.
" Iya pakde", Hanan kembali tertunduk dalam, kembali penyesalannya menguasai dadanya, rasanya ingin menangis karenanya.
" Iya bener, ibu masih ingat pak, pancen anak itu pinter.... tapi ya mungkin jodoh kalian hanya sampai disini, ya sudah barang kali nak Hanan tidak bahagia atau sebaliknya nak Yasmin yang banyak kekurangannya meskipun bagi orang Desa Yasmin itu perempuan yang luar biasa", Kali ini budhe yang bicara, melihat muka Hanan penuh kesedihan.
Hanan kemudian mengangkat wajahnya dan bersandar di tembok, tepat dibelakang punggungnya tempat dia duduk, matanya terpejam, Hanan tahu jika tertunduk maka air mata itu akan terjatuh.
__ADS_1
" Semua memang salah Hanan pakde, budhe... Hanan yang gegabah, tidak berfikir panjang... huhhhfff", Hanan masih terpejam dan mrnghirup udara dalam dalam.
" Ya sudah, lha sekarang istri mu mana? Kok pulang sendiri?", Tanya budhe.
" Tidak ikut budhe, bapak tidak berkenan", Jawab Hanan pelan.
" Bapakmu kecewa Han, wong Yasmin itu menantu kebanggaannya kok kamu buang begitu saja, ya itu yang membuat ibu mu sampai begini", Budhe langsung pada poko masalah, seakan menyalahkan Hanan yang telah membuat ibunya sakit.
" Buu", Pakde tidak suka budhe blak blakkan.
" Budhe benar pakde, jangankan bapak Hanan sendiri jika ditanya atau disalahkan ya terima terima saja, Hanan juga menyesal pakde, apalagi jika pulang kympung begini rasanya sedih... coba kalau Hanan pulang dengan Yasmin pasti sekarang saya berada di rumah ibu mertua dan di perhatikan olehnya sekarang saya bahkan tidak punya nyali untuk sekedar minta maaf saja", Hanan berkata jujur, air matanya sudah luruh memvasahi pipinya, pulang kampung ternyata membuat hatinya kian luka syarat penyesalan.
" Lha istrimu sekarang mana?", Tanya budhe.
" Orang sana budhe, janda dengan dua anak", Jawab Hanan jujur.
Hanan merogoh ponselnya yang disaku dan membuka sosial medianya Dewi pasalnya Hanan tak menyimpan foto Dewi digaleri.
" Ini budhe".
Budhe langsung memperhatikan dengan seksama dan keningnya berkerut.
" Oh, ini?!", Wajah budhe sama pakde terlihat aneh.
" Mantep bodine pantes Yasmin mbok buang!", Kelakar pakde membuat budhe mesen mesem sambil beranjak kedapur, Hananpun tersenyum miris.
__ADS_1
Hanan tahu pakdenya tengah mentertawakan dirinya yang membuang Yasmin demi Dewi yang menurut pakdenya bukan montok tapi gembrot, Dewi memang agak gendut ya untuk ukuran wanita.
###maaf disini author tidak bermaksud bodyshaming ya.... maaffff.... tetapi gambaran untuk Dewi bagi author ya, begitu aslinya Dewi itu cukup cantik hanya saja Dia itu cuek jadi ya begitu deh... ada gelambir dikit ada belut melingkar diperut dikit... emak emak berjilbob tahulah ... Maafff banget yaa🙏🙏🙏
" Wo alaaaahhhh.... Hanan Hanan.... wis ga usah dibawa pulang bojomu, takutnya nanti malah ibunya tambah syok", Budhe yang suka nyeplos ya begitu jujur jujur saja, dalam pikiran budhe, pasti jika bertemu teman temannya dikampung Hanan bisa dibully habis habisan wong sudah dapat Yasmin kok ditukar istri mudanya, Yasmin yang Syar'i dari kecil kok di tukar sama wanita kota, pikir budhe.
Hanan merasa pakde dan budhenya tengah menghinanya juga tengah menghina istrinya pun hanya bisa diam dengan rasa malu.
" Kok aku dulu ga kepikiran ya.... kenapa aku mau sama Dewi, coba?!, Dulu itu terlihat bohai kenapa setelah bicara sama pakde kok rasanya Dewi itu memang sedikit gendut, tapi apalah bentuk badan... kenapa meski ditertawakan... Dewi cantik, kulitnya kenceng, bersih, dan aacchhh.... pakde ga tahu aja, Dewi itu beda", Gumam Hanan bermonolog dengan hatinya.
" Ya, sudah kamu kalau mandi sana, terus mau istirahat dulu atau mau langsung ke rumah sakit, pakai motor pakde, hari ini pakde ga kemana mana, mau dirumah saja, jadi pakai saja motornya", Ujar pakde tidak ingin memperpanjang obrolan tentang Dewi.
" Iya pakde".
Hanan telah bersiap menuju rumah sakit, setelah minum teh tadi Hanan tidur satu jam kemudian mandi dan sarapan yang telah disiapkan budhe, barulah dia hendak berangkat ke rumah sakit menjenguk ibunya.
Entah kenapa hati Hanan merasa sedih melintasi jalanan menuju kota, bagi Hanan jalanan itu adalah jalan kenangan bersama Yasmin.
Hati Hanan sakit mengingat setiap momen yang pernah terjadi antara dia dan Yasmin kala itu
Saat mereka baru saja menikah dan Hanan belum bekerja, Yasmin yang selalu memberi semangat padahal saat itu Yasmin masih kuliah.
Hanan sering menjeput Yasmin pulang kuliah dan mereka sering mampir ke warung bakso dipinggir jalan itu, air mata Hanan meleleh.
" Tidak, aku tidak boleh larut dalam penyesalan, Yasmin sudah berubah, Yasmin tak seimut dulu, Yasmin kini menjadi wanita yang berbeda, Yasmin bukan perempuan lemah lembut seperti dulu... Ingat Hanya Dewi istri mu", Hanan membesarkan hatinya, ditangisi juga Hanan sadar Yasmin tak mungkin kembali padanya.
__ADS_1
Bersambung.....