
" Maaf ya pak, setahu saya biasanya bu Dewi kalau keluar rumah dan lama itu biasanya main", Bu Wati memberi kode dengan jari telunjuk dan jari tengah di kedua tangannya, seperti memberi tanda kutip begitu.
" Maksud ibu?", Hanan mengkerutkan keningnya.
" Iya, dia itu suka main bareng teman temannya, ke kafe kemudian sewa ruang untuk karaoke, itu jika mereka lagi ada uang bisa sampai malam pak, dulu saya juga gangnya bu Dewi tapi sekarang dilarang sama suami", Ujar bu Wati penuh semangat, menyakinkan Hanan.
Hanan manggut manggut memahami ucapan bu Wati.
" Makasih bu atas informasinya, asal Dewi bisa jaga diri saya ga masalahin kok", Jawab Hanan, menutupi perasaan kecewanya pada Dewi.
" Iya pak mari", Bu Wati kemudian pamit untuk masuk kembali kedalam rumahnya.
Hanan benar benar merasa kecewa, hari ini Dewi mulai menunjukkan siapa dirinya, seakan tidak menghargai dirinya sebagai suami, ada suaminya saja Dewi pergi main sendiri apalagi jika tak ada Hanan, tak kebayang Hanan dengan tingkah Dewi selama ini, bagaimana gaya hidupnya, seliar itukah istrinya? guman Hanan.
Hanan masuk rumah dan ke dapur untuk menyiapkan makan malam Zidan dan Zea sepulang mengaji.
Membuka kulkas cuma ada wortel, telor dan sosis, ada nasi yang dia masak sore tadi. Hanan memutuskan untuk membuat nasi goreng saja untuk dirinya dan kedua anak tirinya.
Miris memang, jika di rumah serba dilayani oleh Yasmin tapi demi kue ampem legit Hanan rela mengurus dirinya sendiri dan juga anak anak yang bukan darah dagingnya.
Benar saja begitu nasi goreng siap disajikan terdengar dua bocah masuk dengan mengucap salam.
" Hemmm..... Harummm", Zea memejamkan mata menghirup aroma bawang yang mengoar ketika memasuki rumah.
" Wah, bapak masak? Jadi lapar Zidan pak", Xidanpun tak kalah bungahnya, senyum terukir dibibirnya melihat bapak tirinya memasak sesuatu untuk mereka.
" Masak apa pak?", Imbuh Zidan, berjalan mendekati bapaknya dan mencium punggung tangan Hanan.
" Bapak cuma bisa masak nadi goreng, kita makan bareng bareng ya", Hanan tersenyum kepada kedua bocah yang tengah menatap nasi goreng masakannya itu.
" Jangan dikasih pedas ya pak", Zea sudah menyiapkan piring untuk dirinya.
" Iyaaa, Waduh pirongnya sudah siap, adik laper srkali ya?", Janan mengisi pirong Zea dengan senang.
" Iya pak, dari tadi udah laper", Jawab bocah itu.
" Sini piring kakak", Hanan pun kemudian mengiring Zidan.
Mereka kembali makam bertiga seperti tadi siang, setelah selesai Hanan membereskan dapur dibantu dua anak tirinya, rupanya Zidan anak yang manis, meskipun Dewi jarang mengajari tetapi anak itu cukup pengertian diusianya yang belum sebelas tahun sudah bisa membantu beres beres didapur.
__ADS_1
" Mama suka nyuruh Zidan beres beres, kok kamu sudah bisa bantuin bapak beberes?", Tanya Hanan.
" Dulu sewaktu papa masih ada dia yang selalu beres beres dan papa juga mengajak Zidan untuk bantuin", Jawab bocah itu jujur.
" Oh, papa dulu orangnya rajin ya?", Tanya Hanan kembali.
" Iya, soalnya mama suka marah kalau papa masak tapi bekasnya berantakan, bisa bisa mama ngomel seharian", Zea tertawa mendengar kakanya menjelaskan pada Hanan.
" Kenapa dik kok tertawa gitu?", Tanya Hanan terheran.
" Iya, mama itu kerjanya marah marah, ngomel, main, terus bungkusin jualan", Zeapun tertawa mengingat mamanya.
" Ih, ga boleh begitu mama juga kan masak dan mencuci baju kalian", Hanan mengusap kepala Zea.
" Mama ga pernah nyuci, semuanya diloundry pak", Jawab Zidan cepat.
" Oh", Jawab singkat Hanan, seraya berpikir pantas dia ga petnah melihat istri mudanya mencuci selama menikah.
" Mama itu sukanya main pak", Zea kembali berbicara.
" Sudah sini kalian, sudah malam tidur gih, bapak masih mau nungguin mama kalian".
" Nanti dulu ya pak tidurnya belum ngantuk", Zea menawar, karrna masih ingin melihat acara televisi.
" Ke gunung ", Jawab Hanan.
" Kami mau diajak liburan juga tidak pak?", Tanya Zidan lagi.
" Kekebun binatang mau tidak?", Jawab Hanan.
" Hemmm..... Mau pak, mau!", Jawab Zea antusias.
" Jangan lah pak, Zidan bukan balita yang harus ditunjukin ini gajah, ini burung... Zidan maunya kepantai", Zidan mengutarakan keinginannya.
" Ah, iya pantai pak, biar Zea bisa main pasir", Jawab bicah itu.
" Ya, tapi tidak sekarang ya, kalau kepantai, mungkin liburan kali ini kita berenang saja bagaimana, yang dekat dekat saja", Ujar Hanan.
Kedua bocah itu mengangguk setuju dan bersorak gembira, " Kapan pak,?", Tanyanya serentak.
__ADS_1
" Jangan besok, tiga hari lagi, sabtu bagaimana?", Usul Hanan.
" Oke".
" Sekarang tidur kalian", Dua bocah itupun masuk kamar untuk tidur.
Dewi pulang setelah jam sembilan lebih, Hanan menunggu didepan tivi.
" Dari mana?", Tanya Hanan santai, hatinya menahan gejolak.
" Main bareng teman", Jawab Dewi tak kalah santai.
" Main kemana? Kok dari siang eh pagi bisa dibilang, sampai malam begini, hampir dua belas jam lho mama pergi!!", Hanan sedikit menekan setiap katanya.
" Aish, orang cuma kumpul bareng teman kok, kita mah biasa pak, ga melakukan hal yang negatif juga, bikin onar atau apa, orang cuma ngopi, ngobrol, nyanyi gitu aja", Jawab Dewi dengan wajah cemberut.
" Udah ah, baru masuk langsung di introgasi, cape ah mau mandi dulu", Dewi yang sewot langsung beranjak kekamar untuk menaruh tasdan melepas jaketnya.
Saat berjalan melewati Hanan, mengoar bau asap rokok yang kuat, membuat Hanan bereaksi dengan mengkerutkan hidung dan wajahnya.
Ada rasa marah, kecewa yang Hanan rasakan, tetapi disini Hanan harus sabar menghadapi istri mudanya ini.
" Apa mama sering pergi pergi begini?", Tanya Hanan setelah Dewi beres mandi.
" Enggak lah, sesekali saja, kalau sering uangnya ga ada pak, ini saja tadi habis lumayan, untung saja tadi disewakan ruang karaoke oleh teman, jadi teman yang bookingin tempat plus bayarin kalau tidak, bisa habis banyak perorangnya, per jamnya saja sewa ruang karaoke sudah seratus ribu belum kopi dan makannya", Jelas Dewi.
Hanan cuma bisa menggrlengkan kepala, matanya nanar menatap Dewi.
" Bisa tidak besok besok jangan kayak gitu lagi?", Tanya Hanan lembut menekan semua amarah didadanya.
" Iya, gampang... Kalau mama itu ya begitu, di rumah suntuk ya pergi karaoke, kumpul teman, tapi jika ada hiburan ya mama betah sih di rumah", Jawab Dewi santai.
" Kasiha anak anak ditinggal seharian begitu", Hanan.
" Kan ada bapaknya makanya mama tenang ninggalin mereka", Dewi.
" Bukan begitu, ga baik seorang istri pergi pergi sendiri ninggalin anak dari pagi hingga malam", Hanan.
" Kalau bapak pingin ayo ikutan saja, cuma jika anak anak ikut jenuh, jadi nanti jika mau bapak ikut anak anak dititipkan saja, atau di rumah kan mereka sudah gede", Dewi.
__ADS_1
Hanan mrlotot, maksudnya mau menasehati mslah dikira pingin ikut karaoke.
Bersambung,........