JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Masih dirahasiakan Hanan


__ADS_3

" Assalamualaikum pak", Hanan meraih tangan bapaknya yang tengah duduk disisi ranjang pasien ibunya.


" Waalaikum salam", Jawab pak Harun ayahnya Hanan.


" Ibu sakit apa pak?", Lirih Hanan matanya menatap lurus sang ibu yang tengah berbaring lemah diatas ranjang padien dengan mata terpejam.


" Memikirkan ulah kamu, ibu malu sama tetangga, bahkan sama keluarga Yasmin, ibu sepertinya tidak kuat menahan kesedihannya", Jawab pak Harun sinis, hatinya pun ikut dongkol dengan kelakuan Hanan.


" Maaf pak!", Lirih Hanan tertunduk.


" Sini bicara di depan saja!, jika bicara disini bikin berisik pasien yang lain", Pak Harun mengajak Hanan keluar ruangan karena ruang rawat bu Ainun kelas tiga makanya di ruangan itu ada lima orang pasien.


" Kamu itu lho, pikiran mu kemana kok bisa bisanya sampai menikah lagi, bikin malu saja, di keluarga kita tidak ada yang punya kelakuan seperti kamu!", Ketus pak HARUN,Hanan hanya tertunduk diam.


" Berangkat jam berapa kok baru sampai?", Tanya pak Harus.


" Tadi langsung kerumah, tetnyata kosong sampai rumah tadi jam lebih, terus istirahat dulu di rumah pakde", Jawab Hanan menjelaskan.


" Ibu sakit apa pak?", Tanya Hanan.


" Lemah jantung, ada typus juga awalnya tapi kata dokter ibu lebih ke banyak pikiran, mungkin ya mikirin kelakuan kamu itu!", Jelas pak Harun pada Hanan.


" Maafkan Hanan pak".


" Istrimu orang mana, terus punya anak berapa? sok sok an kamu itu, sudah punya anak tiga hidupnya masih pintang panting, pas pasan saja gayamu kayak wong sugih... ", Pak Harus berbicara dengan wajah sinis.


" Orang sana pak, dia bawa anak dua masih SD dua duanya, yang satu mau naik kelas enam yang satu mau naik kelas dua", Jawab Hanan.


" Terus kamu ngurus anak tiri tapi anak kamu sendiri kamu abaikan?! ", tanya pak Harus kembali sinis.


" Ya tidak pak, anak anak kan sama ibunya, keputusan pengadilan begitu pak, anak dibawah delapan belas tahun dibawah pengasuhan ibunya", Jelas Hanan.

__ADS_1


" Udah tahu, maksud bapak, meskipun begitu dia itu anak anakmu, jalan syurgamu, doa doa mereka kelak yang akan sampai jika kita sudah menghadap Gusti, bukan anak tiri, anak tiri ya akan mendoakan nasabnya", Ketus pak Harun.


" Iya nanti pasti Hanan akan perhatian pada mereka pak, tentu,!", Hanan menyakinkan bapaknya.


" Pikiranmu kemana kok bisa sampai nikah lagi? Apa Yasmin sudah tidak cantik lagi?", Tanya pak Harun karena pak Harun juga setuju dengan penilaian orang jika menantunya itu dulu kembang desa.


" Yasmin tidak berubah pak, masih sangat cantik, bahkan kini lebih cantik tetapi aku yang khilaf pak", Lirih Hanan.


" Kalau sudah begini, nyesel ga kamu?", Tanya Pak Harun


" iya, Sangat!", Jawab Hanan yakin.


" Fatal!!!! Setan mana yang sudah merasuki hatimu Nan, kamu itu dari kecil bapak didik supaya menjadi lelaki yang bertanggung jawab kok malah begini!!! Musnah sudah jika sudah begini, hancur Nan, sadar tidak apa yang telah kamu lakukan???", Pak Harun benar brnar meluapkan kekecewaannya.


Hanan hanya diam entah sampai kehati atau tidak ucapan bapaknya, namun yang jelas Hanan merasa tidak mau membahas hal itu lagi, cukup penyesalannya dalam hati ia simpan rapat. rapat, tidak ingin ia tunjukkan pada kedua orang tuanya.


" Bapak sudah makan?", Hanan mencoba mengalihkan pembicaraan setelah mereka saling diam untuk beberapa saat.


" Hanan mau lihat ibu dulu pak", Hanan berdiri dan masuk keruang inab ibunya.


Hanan mendekati ranjang pasien bu Ainun dan duduk dikursi yang tadi diduduki bapaknya.


Hanan menggenggam tangan ibunya yang tidak diinfus.


" Ibu, ini Hananto bu, aku pulang untuk melihat kondisi ibu, Hanan kangen sama ibu", Bisiknya lirih seraya mengusap tangan lembut bu Ainun.


" Nan!", Suara bu Ainun lirih tetapi masih terpejam.


" Iya bu!", Jawab Hanan senang, ibunya ternyata tahu jika dirinya datang dan menyebut namanya.


" Kamu pulang sama siapa?", Tanya bu Ainun masih dengan mata terpejam.

__ADS_1


" Sendiri bu".


" Gimana kabar cucu cucu ibu dan juga istrimu (Yasmin)", Tanya bu Ainun.


" Mereka baik, sehat bu, tetapi Hasan dan Husain mau ujian jadi tidak bisa ikut pulang", Jawab Hanan mencari alasan padahal boro boro ngajak mereka untuk pulang kampung, pamit saja kagak.


" Syukurlah".


" Ibu cuma mau bilang, Yasmin itu mantu kesanyangan ibu, ibu sangat bangga kamu menikah dengannya, jangan kamu sakiti dia, contohlah bapak kamu, selama hidup dengan ibu bapak tidak pernah bicara kasar pada ibu apalagi sampai menyakiti hati ibu, bapak sabar menghadapi ibu, maka dari itu ibupun malu jika banyak kemauan, ibu belajar sabar dari bapak, ibu harap kamupun begitu, jadi lelaki itu harus bisa menjadi contoh pada keluarganya terutama bagi anak anak", Meskipun dengan mata terpejam dan suara lirih tetapi bu Ainun berbicara sangat jelas dan lancar.


" Iya bu", Air mata Hanan mengalir deras dipipinya, tak bisa dibendung, ibunya mengira mereka belum pisah padahal kenyataannya mereka sudah resmi cerai, hati Hanan sedih karena tidak mungkin menjelaskan semuanya pada ibunya, kondisi ibunya jelas tidak mungkin untuk Hanan menyampaikan hal yang tidak berkenan.


Hanan merogoh sapu tangan yang ada di saku celananya, diusapnya lelehan air mata yang membanjiri pipinya.


" Iya bu, ibu harus cepat sehat biar nanti anak anak bisa pulang kesini setelah selesai ujian", Ucap Hanan kemudian.


" Cucu cucu ibu pintar kayak Yasmin meskipun usianya masih belum cukup tapi mereka sudah mau SMA sama SMP ya", Bu Ainun tersenyum seraya berbicara, mungkin sedang membayangkan ketiga cucunya yang tidak dibawa Hanan saat ini.


Ya, Hasan baru mau empat belas dan Husain baru mau sebelas tetapi mereka sudah mau lulus, bukan karena akselerasi tetapi karena cuma disekolah biasa saja jadi mereka sekolah seperti yang lainnya, namun belum enam tahun mereka sudah masuk SD karena kemauan mereka, sehingga cepat lulus.


Mendengar ibunya bicara hati hanan miris dengan dirinya sendiri, ternyata kesalahan yang dia buat dampaknya begitu hebat, awalnya Hanan tak pernah berfikir jika akan sampai begini, ibu sakit karena tingkah dirinya, dan itu tidak mungkin dia bisa kembali dengan Yasmin itu lebih menyakitkan, harus bohong pada ibunya sampai kapan Hanan bisa menutupi hal ini, miris.


" Nan, ingat tidak sewaktu dulu, Yasmin banyak yang mau, bahkan dokter Bryan, anaknya pak Jonathan saja tergila gila lho, itu mungkin hingga kini Bryan masih suka sama Yasmin, soalnya dia pernah nanyain kabar kamu dan keluarga mu, tapi yang ibu tangkap maksud dia itu menanyakan Yasmin", Bu Ainun mengenang beberapa waktu dulu jika pernah bertemu dokter Bryan.


Hanan mencelos mendengar cerita ibunya, " Ah, ibu... cerita ibu hanya menambah rasa sakit dan penyesalanku saja", Batin Hanan dengan wajah sendu.


Bersambung....


@***Imelda.... Terima kasih sudah kasih tips buatku.... smg rejeki mu sll dilancarkan ya... sehat sll... terima kasih juga utk semua komennya


Terima kasih juga utk semua yg sudah kasih like dan komen... salam sehat dan bahagia terus utk kalian semua Aamiin yraπŸ€—πŸ˜˜πŸ™***

__ADS_1


__ADS_2