JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Masih kurang


__ADS_3

Terima kasih untuk semua yang sudah memberikan dukungan like, komennya dsb... Semua semua sll dilimpahi rohmat-Nya, sehat sll dan bahagia terus.... 😘🤗🙏🙏🙏




Hanan linglung setelah pulang dari menjual perhiasan Dewi, ternyata hasilnya masih kurang, berfikir sejenak untuk menambah hingga sebelas juta ternyata tidak mudah, jika memakai uang yang ada besok mau makan apa? pasalnya uang itu uang belanja untuk sehari hari makan.



" Krnspa masih kurang? Bukannya harga emas sekarang tinggi ya?", Dewi mengkerutkan keningnya merasa tak percaya.



" Iya benar emas memang harganya tinggi tapi emas punya mama kan cuma yang 18 karat, itu hargsnya jauh mah dari hanya emas yang kebanyak irang pakai yakni 23 karat", Jawab Hanan.



" He heee iya... Habis lihat tetangga, trman pakai perhiasa gede gede ya aku jadi pingin, kalau beli yang 23 karat dapatnya kecil makanya mama beli yang hanganya separohnya pak biar pakai emas besar bukan palsu, asli kan cuma karatnya yang kecil", Dewi cengengesan, karena memang benar adanya, jika perhiasan itu 23 karat mungkin sedikitnya akan dapat uang 12 juta, tetapi karena itu 18 karat jadi dari hasil penjualan hanya 7juta - 8 jutaan saja dan itu masih kurang.



" Pak uang segitu istri mu ada kali, pinjam saja dulu!", Rengek Dewi.



" Apa? Kenapa harus menyusahkan dia, disini yang tidak bisa mengatur uang itu kamu, kok bawa bawa bunda, ga bisa!", Hanan sewot dan ketus, kali ini Hanan merasa jengkel dengan istri mudanya itu, kemarin ingin di kadih uang yang sama untuk jatah bulanan kok sekarang bilang mau pinjam.



" Yeee.... ini kan cuma usul, sewot banget", Cibir Dewi kesal melihat reaksi Hanan yang begitu melindungi istri tuanya jika masalah uang.



" Pikirin lagi apa yang bisa dijual agar cepat ketutup ini", Hanan masih bingung untuk mendapatkan uang tambahan.



" Apa? Kulkas, mesin cuci, majic com, tivi, henpon, apa ya???", Dewi bingung karena semua barang di rumah ini itu bukan barang yang bisa menghasilkan uang besar.



Hanan kemudian keluar rumah, duduk diteras merenungkan kejadian hari ini, kejadian yang benar benar terjadi dalam hidupnya.



Jika dulu hidup dengan istri pertamadan anak anaknya, mereka hanya kekirang uang, tidak bisa sering jajan atau piknik harus nabung dan ada momen baru bisa jajan atsu makan diluar, tetapi bersama Dewi membuat kepalanya seperti mau pecah , baru lima bulan menikah dengan DEWI tapi semuanya langsung berubah.



Bersama Dewi Hanan tidak pungkiri dia bahagia, istri mudanya itu manja, ceria dan berani dengan tantangan berbeda dengan Yasmin yang kalem, tidak banyak tingkah, santun dan cenderung pendiam, hidup terasa jenuh, namun Yasmin tidak pernah membuatnya pusing denfan hal hal yang memalukan.



Sementara Dewi, suka ngeroko, suka karaoke, suka ngelayap, bahkan tidak segan segan berurusan dengan bank plecit untuk urusan hutang putang gadai menggadaikan, membuat Hanan malu dengan tetangga, pusing kepala.


__ADS_1


" Pak, malam ini tidur sini kan?", TanyA Dewi dari dalam rumah.



" Hem", jawab Hanan, dia kemudian meraih ponselnya dan mrnghubunhi Yasmin.



" Assalamualaikum pak, iya ada apa?", suara Yasmin menjawab panggilannya.



" Hemmm..... Bapak tidak pulang malam ini, tolong bapak mau bicara dengan Aya, maaf tadi tidak pamit ada hal yang mendesak yang harus bapak selesaikan", Ungkap Hanan pelan.



" Sebentar bunda panggilkan Aya",Yasmin tak menjawab cerita Hanan, tetapi dia langsung betjalan memberikan ponselnya pada Aya.



" Bapak Yak", Yasmin memberikan ponselnya pada Aya.



" Udah tahu! Ngapain pakai nelpon? Sono ga usah pulang selama lamanya!", Ketus Aya dengan suara menahan tangis dan marah.



" Maaf nak, besok bapak pulang kok!", Jawab Hanan.




Tut tut tut



Aya langsung mematikan ponsel bundanya otomatis sambungan dengan Hananpun terputus.



Hanan menyugar rambutnya bibirnya mendesah, sedih mendengar umpatan putrinya. Jujur Hanan tidak tega melihat anak anak kandungnya menjadi jauh darinya, tidak manja dan ceria lagi seperti dulu, bahkan Hanan merasa ketiga anaknya seperti makin asing terutama Hasan dan Husain.



Apalagi Yasmin, istrinya itu makin tidak butuh dirinya, setiap Hanan pulang kerumah berasa tamu, tak ada yang menyambutnya dengan senyum tulus tak ada lagi cerita cerita konyol dari Husain atau Yasmin yang mendekat seraya membawa secangkir kopi, memijat punggungnya atau kakinya, punya suami sebagai guru olah raga Yasmin tahu cara mengurus Hanan, namun pesona janda yang sering menghantar putranya kesekolah sebagai muridnya telah membuat hati Hanan bercabang.



" Huffff", Hanan kembali mendesah, sesak memikirkan keluarganya yang disana dan sekarang Dewi butuh tambahan uang untuk membayar tunggakan hutang.



Sehari lagi waktu yang tersisa untuk membayar hutang, uang masih kurang, Hanan mau nambahin untuk pelunasan juga uang pas pasan untuk makan.


__ADS_1


Hari semakin malam rumah sudah sepi Hanan pun masuk dan mendpati Dewi sudah berada dikamar menunggunya.



Hananpun bergegas mengganti baju dan menyusul Dewi keatas tempat tidur. Pikiran yang suntuk, uang masih kurang banyak membuat Hanan ingin berolah raga untuk melepaskan penatnya, makanya dia tidak pulang ke rumah Yasmin karena disinilah patnert olahraga malamnya.



" Besok tambahannya gimana pak?", Tanya Dewi.



" Dipikir besok saja, sekarang mikir yang lain dulu", Seraya menjawab pertanyaan Dewi tangan Hanan sudah naik turun gunung menyeberangi lembah.



" Paaskkk acchh!!", Dewi sudah kelinjangan dengan sentuhan nakal tangan Hanan.



" Kita obral barang barang yang ada besok yang penting dapat uang, gimana?", Usul Hanan Dewipun mengangguk setuju, daripada jual kulkas dwitnya pasti madih kurang dan nanti jika mau beli susah lagi.



" Kenapa tidak pakai uang bapak saja", Dewi memberanikan diri memberi usul.



" Itu uang makan dan jajan anak anak, lagian kita masih mikir pembayaran bulan depan masih dua kali cicilan", Jawab Hanan.



Dewi mengangguk setuju, " Ya sudah besok promoin barang jualan, terus jual lagi gelang Zea, dia ada lima gram hadiah dari papanya dulu", Ujar Dewi, Hanan berpikir jika tidak setuju jika gelang milik Zea ikut di jual pasalnya itu kenang kenangan terakhir dari papanya.



" Apa dong... pikir dong pak!", Dewi berbicara seraya mengoyang p\*\*\*\*tnya yang semok dan mendesah desah nakal karena Hanan terus mengempurnya.



" Belum bisa mikir, kepalaku dua duanya masih pusing sebelum tuntas", Jawab Hanan dengan tetus bermain.



" Aacchhh....", Dewi dan Hanan akhirnya menjerit bersamaan setelah menuntaskan muntahan lahar.



" Huh huh huhhh .... Cape", Ujar Hanan roboh disisi Dewi.



" Kok kamu ga hamil hamil sih ma? Ini udah mau enam bulan kita nikah lho!", Ujar Hanan kemudian.



" Bapak sudah ada tiga, mama dua kita sudah punya lima tidak usah nambah lah, biaya hidup mahal pak", Jawab Dewi, Hanan kaget dan kecewa mendengar jawaban Dewi.

__ADS_1



**Bersambung**........


__ADS_2