JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Jawaban anak anak


__ADS_3

Hanan hanya melihat kepergian bu Rosa, hatinya lega karena uang itu sudah ia kembalikan.


Hananpun pulang, namun seperti ada perasaan orang yang selalu membuntuti, Hanan menjadi was was takut jika ancaman suami bu Rosa nyata adanya.


Hanan mencari jalan tikus, melipir untuk menghindari jika benar ada yang mengikuti.


Begitu sampai rumah, lega rasa Hanan tapi begitu memarkirkan motornya Dewi sudah memasang bibir jeblehnya seraya melotot tajan, tangan sudah berkacak pinggang dengan sempurna.


" Owh.... Senengnya yang habis kencan dikafe, ngupi ngupi bareng putri duyung... di kasih bonus, seamplop penuh... giliran istri diabaikan!!", Ucap Dewi sinis tanpa memberikan jalan masuk, Dewi berdiri ditengah pintu.


Hanan bukannya takut, malah merutuki dirinya yang sudah ketakutan di jalan hingga melipir sana sini cari jalan tikus tidak tahunya yang menjadi buntutnya istrinya, tahu begitu ngapain juga pakai acara mlipir, hingga ganti jaket segala dijalan.


" Pak.... Dengar mama ngomong tidak sih?!", Bentak Dewi.


" Bapak belum budeg ma, ga usah jerit jerit begitu!", Jawab Hanan dingin.


" Bapak beneran selingkuh dengan putri duyung itu?", Tanya Dewi masih memasang wajah kesalnya, Dewi menguntit Hanan dengan ojol.


" Putri duyung, dia punya nama jangan asal sebut nama orang nanti jika jadi masalah", Haman menjawab kesal tak zetima bu Rosa dikasih nama putri duyung.


" Jujur pak, bapak beneran mrnyukai putri du... ", Dewi tidak melanjutkan ucapannya, namun ditinya sudah terisak histeris.


" Pak... Bapakkk.... bilang pak!!, Sudah berapa lama bapak ada main dengan dia?", Dewi sudah memegang tangan Hanan erat, sesekali tangan kanannya memukul punggung Hanan dengan brutal.


" Mama jangan ngelunjak! Sadar kamu ma! Bapak begini juga karena kamu!!", Hananpun akhirnya menjawab keras penuh emosi, hingga Zodan dan Zea yang tengah tidur siangpun terbangun.


" Bapak, mama!!!", Teriak keduanya keluar dari kamar, Hanan langsung terhenyak, ada penyesalan karena sudah berteriak hingga kedua bocah itu terbangun


" Maaf, bapak tidak sengaja berteriak, lebih baik kalian tidur kembali", Hanan menghampiri kedua bocah itu dan mengusap kepala mereka.


" Mama... mama kenapa ma?", Zea langsung menghampiri mamanya sementara Zidan mrnatap nanar pada Hanan.


" Kenapa mama sampai menangis ak?", Tanya Zidan, tatapannya sama dengan saat Hasan marah padanya dulu.


Hanan kali ini seperti dejavu, bocah laki laki ini pun menatap Hanan tidak bersahabat, sorot matanya tajam seperti seperti hendak menusuk tepat dijantungnya.


" Mama salah pahan kak, jangan marah, tanya saja sama mama, makanya bapak teriak karena mama kamu itu cemburu tidak beralasan", Hanan cari aman saja tidak mau menjelaskan pada Zidan dan Zea, Hanan sadar jika dirinya tak bisa selembut Yasmin saat ada masalah sehingga bisa bertindak tepat.


" Mama diapakan sama bapak?", Tanya Zidan matanya masih menatap tajam pada Hanan.


" Sudahlah kak, mama hanya kelewat cemburu sama bapak", Dewipun memilih kata kata itu untuk menyelesaikan pertengkaran kali ini.


Akhirnya pertengkaran itu reda, untuk kali ini tetapi baik Dewi maupun Hanan menjadi semakin dingin, Dewi yang merasa tersakiti, Hanan yang egois tak ingin diusik saat dirinya tengah jatuh cinta, apalagi kali ini rasanya terhalang, itu menambah Hanan pusing kepala hanya untuk mengatur pertemuannya saja.



__ADS_1


Satu hari ini Yasmin gelisah, rasanya ingin marah, atau bingung.



Sudah satu minggu waktu yang diminta bapaknya, Yasmin masih bilang tidak pikirannya masih sama, belum mau menerima pasangan hidup.



Namun yang membuat dia sebal bukan karena itu, tetapi setiap dia bilang tidak, tidak tidaaakkk.... dari hati dan pikirannya bilang sebaliknya... iya iya iyaaa....


Apalagi sudah tiga hari ini dokter gemblung itu tak menghubunginya, bahkan Halwa pun juga tak datang kerumahnya. Entahlah mereka berdua tak ada kabar.



Akhirnya Yasmin sore ini mengajak ketiga anaknya untuk makan bareng, bagaimanapun saat ini dia tidak bisa memutuskan hal sebesar ini sendiri, yang lebih penting adalah keputusan ketiga anaknya.



Mau menghindar sejauh manapun pasti nanti sehabis magrib atau isyak bapaknya bakal telpon menanyakan jawabannya.



" Nak, bagaimana menurut kalian tentang lamaran dokter Yusuf? Apa kalian Nyaman?", Tanya Yasmin hati hati.




" Maaf.... jika bunda bertanya seperti ini, tapi percayalah bunda tidak akan mau jika kalian juga tidak setuju, toh kita berempat sudah cukup bahagia meskipun tidak ada bapak kalian ", Ucap Yasmin lagi, anak masih diam tak ada yang menjawab.



" Ya sudah sebaiknya kita lanjutkan makannya yuk... jangan dibahas lagi", Melihat anak anaknya tanpa reaksi harusnya Yasmin senang toh dari krmarin bibirnya bilang tidak tidak tidak, tapi kok.... sudahlah!.



" Aku sih yess!". Hasan.



" Aku juga Yess!!", Husain.



" Aku sih Yesss buangettzz!!!", Aya.


__ADS_1


Semua itu berupa tulisan stiker diatas kertan berukuran polio, yang diangkat dengan kedua tangan masing masing.



Yasmin menutup mulutnya yang menganga tidak menyangka diamnya anak anak adalah surprise untuk dirinya, mata Yasmin sudah berkaca kaca.



" Hiks hiks... tetima kasih!", Yasmin merangkul ketiga andknya penuh haru, dengan terisak dia ciumi anaknya satu satu.



" Jadi kalian menerima dokter Yusuf?", Yasmin menyakinkan snak anaknya setelah krmbali tenang.



" Iya bun", Jawab mereka serentak.



" Dia bukan bapak kalian, dia pribadi yang berbeda, dia juga punya keluarga lain yaitu Jalwa dan nenek kakeknya, apa kalian bisa menghormati beliau jika menjadi ayah kalian?", Tanya Yasmin.



" Karena dia bukan bapak makanya aku berharap dengan beliau bunda bisa bahagia selamanya", Jawab Hasan bijak, Yasmin kembali merembes mendengar jawabannya si sulung, Seraya mengusap sudut matanya Yasmin mengangguk.



" Karena Husain yakin dia bisa dan mau bicara dengan aku untuk cerita dan bercanda makanya Husain restui", Jawab Husain apa adanya, Yasmin kembali manggut manggut dengan air mata yang merembes dari sudut matanya.



" Kalau Aya sih, karena merasa dia lebih sayang Aya di bandingkan dengan bapak, pak dokter jika berjanji selalu ditepati, tidak pernah lupa seperti bapak, dia juga ramai orangnya, mau antar jrmput sekolah lagi, Aya mau punya bapak seperti itu bun, dari waktu TK bunda terus yang sntar jemput, sudah SD suruh naik sepeda sendiri, cape Bun!", Aya sepertinya yang paling banyak memori tak mengenakkan sehingga diungkap disini, padahal tidak seperti itu juga, namun rasa kecewa Aya itu karena dia sangat manja pada Hanan tetapi kurang diperhatikan saat itu, sehingga ya begitu memori yang tersimpan dibenak Aya.



Yasmin terisak, kalau kalian menginginkan bunda ada pendamping lagi, tolong doakan supaya suami bunda sayang kalian semua, melebihi bapak kalian, bunda tidak mau jika kalian terluka kembali hatinya.



Bunda ingin kebahagiaan kalian yang utama, berdoalah, agar kita bisa hidup tentram meskipun tanpa bapak kalian.



" Lupakan bapak bunda, kita sudah tidak membutuhkannya, seperti bapak yang juga tak butuh kita!", Ucap Hasan tagas.


__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2