
Awa yang berasa belum pernah kedatangan teman atau saudara di rumahnya pun, merasa kehadiran kakaknya adalah hal yang luar biasa menyenangkan. Dia menunjukkan segala yang ia miliki, bukan pamer tapi lebih ke ingin menikmati bersama.
Seperti home teater yang dirumahnya, PS yang biasa ia mainkan bareng ayahnya, sepatu roda, berbie dan sebagainya.
" Idiihhh.... Kayak anak TK, yang begian dipamerin ke kita", Cibir Husain.
" Iiihhh.... kakak, bukan anak Tk, tapi aku sudah besar, dan mainan ini mau aku rapiin untuk adik kita nanti", Jawab Awa membela diri diri tidak terima dikatain anak TK.
" Adik kita lelaki sepertinya, dan tidak akan mainan yang seperti itu!", Jawab Husain terkekeh, bi Murni memperhatikan interaksi antara Jalwa dan anak anak Yasmin, dimata bi Murni anak anak Yadmin sopan dan penyayang serta saling perhatian.
" Pantes pak dokter langsung lamar dan nikah ga dilepas lagi, memang ini sih yang dibutuhkan pak dokter dan non Awa, keluarga yang ramai dan penuh kasih, hidup pasti tentram", Bstin bi Murni senang.
" Bi, masak ya, kalau capek beli saja tawarin anak anak suruh pilih sendiri maunya apa, biar Hasan itu anakku yang sudah bujang dia yang pesenin adik adiknya, ini uangnya, oya pesanin juga buat aku dan cintaku ya bi, simpan aja dimeja makan".
" Jika bibi mau masak ya gapapa... aku mau istirahat dulu, jangan diganggu", Ucap dokter Yusuf seraya memberikan uang lima lembar pada bibi Murni.
" Iya pak, Istri pak dokter sukanya dimasakin apa?", Tanya bibi sebelum dokter Yusuf masuk kembali kekamar.
" Apa saja, dia ga pilih pilih makanan", Ucap dokter kembali masuk kamar.
" Bi, kok ayah tidurnya pindah ke kamar itu?", Tanya Awa.
" Iya non, katanya kamar ayah biar dipakai tidur kakak laki laki", Jawab bibi.
" Terus barang barang Ayah bi?", Tanya Awa.
" Sudah dipindahin semua ke kamar itu non, kamar Ayah sudah kosong", Jawab bibi.
Ternyata dokter Yusuf memang tidak mau mengukir cintanya bersama Yasmin dikamar yang dulu ditempatinya bersama istrinya.
Dokter Yusuf tidak mau membuat hati Yasmin berfikir yang tidak tidak, ia hanya ingin menjaga perasaan Yasmin, walaupun Yasmin tidak protes atau bertamya apapun.
Bi Murni cuma tersenyum setelah menjawab pertanyaan Awa, pasalnya pertanyaan itu juga yang pernah ia sampaikan pada majikan dokternya dan jawabannya, "karena akan tidur dengan orang yang berbeda maka kamarnya pun lebih baik berbeda juga bi, lagian ini kita cuma sementara tinggal disini karena kita akan pindah nanti, dan bibi harus ikut, rumah ini akan ditempati saudaranya yang kuliah dikota ini", Jawab dokter Yusuf waktu itu.
" Dulu pak dokter manggil non Hervina iyang, iyang... sekarang memanggil istri barunya cintaku, ittt dah ahh... romantis banget... sayangnya dulu non Hervina tidak bisa menghargai cinta pak dokter, susah diatur dan maunya sendiri, untunggg.... non Halwa penurut dan mudah diatur", Batin bibi.
" Astaghfirulloh.... kok ngomongin orang yang sudah tidak ada, semoga kusnul hotimah nang non, Aamiin", Ucap bibi lirih bermonolog sendiri.
__ADS_1
Sementara dikamar dokter Yusuf bukannya tidur, yang bilang capek siapa yang pijit siapa hee.
Dokter yang nyetir dan bilang capek tapi malah dia yang mijitin Yasmin.
" Sudah! Katanya cape kok malah mijitin, aku tidak cape mas, cuma sedikit pegal pinggangnya", keluh Yasmin.
" Makanya jangan banyak gaya, kaget tuh! Udah berapa lama bunda tidak pasanv kuda kuda?!", Ujar dokter Yusuf menggoda.
" Apaan.... pasang kuda kuda, memangnya mau pencak silat!", Protes Yasmin dengan sedikit memberengut.
" Eh! Apa dong?", Jawab dokter Yusuf.
" Tahu ah!", Yasmin menarik kakinya agar dokter Yusuf menyudahi pijitannya.
" Mana lagi? Pinggang?", Dokter Yusuf meraba pinggang bunda untuk di pijit.
" Mas, sufah ah biarin, ga usah dipijit!", Yasmin memgelak.
" Buka dong kerudung dan gamisnya, dilemari itu ada baju tidur untuk bunda", Tunjuk dokter Yusuf di lemari pakaian miliknya.
" Bajunya mami?", Tanya Yasmin yang mengira jika kamar itu juga kamar antara dokter Yusuf dengan istrinya terdahulu.
" Mami imut ya Yah?", Tanya Yasmin.
" Iya gitu deh, tinggi sekitar 153 atau 155 cm, BB 53, saat normal tidak hamil", Jawab dokter Yusuf detail.
" Maaf ya mami.... papinya sekarang hidup sama bunda ya", Ucap Yasmin pelas seakan bicara sama ibunya Halwa.
" Kalau ada rencana ke makam mami, bunda ikut ya yah", Ucap Yasmin.
" Ayah sudah ke makamnya sehari sebelum kita pulang waktu itu bun". Ucap dokter Yusuf.
" Bun, udah dong jangan bahas maminya Halwa terus ya, kita kan sedang berdua, ayah haus bun", Rengek dokter Yusuf.
Yasmin beranjak hendak berdiri dan menggambil kerusungnya kembali.
" Mau kemana?", Dokter Yusuf menarik gamis Yasmin.
__ADS_1
" Katanya haus, mau ambilin ayah minumlah", Jawab Yasmin.
" Disini saja, sini.... lebih deket lagi", Dokter Yusuf menarik kerudung Yasmin.
" Kok di lepas", Yasmin protes.
" Ini dikamar sama suami sendiri bunda, ini muhrim mu, buka saja".
" Lho katanya haus?", Tanya Yasmin.
" Mau mimik s*s* ", dokter Yusuf bicara pura pura malu, sambil tengkurep.
" Iya sudah diambilin sama bunda Yah, dimana? Dikulkas?", Tanya Yasmin polos.
" Au ahhh..... gelap", Dokter Yusuf menarik Yasmin dalam dekapannya.
" Mas.... Iih, masih siang juga ih!", Protes Yasmin berusaha bangun dari dekapan Yusuf.
" Sebentar saja, nanti malam lagi ya", Dokter Yusuf memasang wajah memelas.
" Iih... ", meskipun protes Yasmin pasrah, apalagi saat dokter Yusuf membuka baju gamisnya, cukup diam dan menerima.
" Cintaaa.... kenapa sih kamu kok enak sih", Gumamnya dengan terus bekerja keras bercocok tanam, hingga akhirnya mereka berdua mencapai puncah yang didominasi Yasmin pada akhirnya.
" Terima kasih ya", Bisik dokter Yusuf, senang rasanya istrinya ini diam diam ternyata keinginannya besar dan memuaskan.
" Kok bisa dulu mas Hanan melepaskan bunda sih, nyesel dia kalau sudah tobat dari petualangannya nanti", Ucap dokter Yusuf terkekeh.
" Apa sih, malah bahas dia, sudah lah mas, aku sudah ikhlas, ridho sudah hilang nama dia dihatiku... meskipun tadinya bunda tidak berniat untuk menikah lagi... sungguh!! Bukan karena trauma dan tidak bisa melupakan mas Hanan, tapi aku merasa jika aku banyak kelurangan sehingga lelaki yang hidup bersamaku tidak akan bahagia dan pada akhirnya mencari kebahagiaannya sendiri", Ucap Yasmin.
" Kenapa akhirnya menerima ayah?".
" Karena anak anak butuh mas, anak anak menyayangi mas itu awal pertimbanganku, setelahnya karena aku cinta mas lah... makanya aku mau!", Jawab Yasmin tertunduk malu.
" Cius", Dokter Yusuf langsung mencium pipi, kepala, leher dengan cepat saking senengnya mendengar pengakuan Yasmin.
" Cup cup cup cup cup cup .... ".
__ADS_1
Bersambung.....