
Yasmin bukan wanita kuat, tapi sifat kalemnya akhirnya mempengaruhi cara berfikirnya, santai dan berfikir dulu setiap tindakan yang akan diambilnya, meski sakit hati tapi Yasmin bertahan.... jika suatu hari ada penyesalan, paling tidak Yasmin akan ingat jika dia pernah mencoba dan gagal, pernah berharap untuk baik tapi ternyata menyakiti, pernah diam tapi tak tahan, pernah mengalah tapi akhirnya terbuang dan tersisihkan, di Talak.
Cukup semua akan menjadi kenangan dan pelajaran untuk Yasmin.
" Ibu....hiks hiks.", Begitu masuk ruangan bu Ida, dilihat bu Ida hanya seorang diri, dijalan Yasmin sudah menahan segala tangis dan sesak didadanya, waktu mengajar yang masih dua puluh menit lagi Yasmin gunakan mendekap dada temannya sekaligus istri bosnya itu, untuk menumpahkan segala risau hatinya.
" Hai.... Ada apa ini, Assalamualaikum", Bu Ida pun membalas dekapan Yasmin.
" Huks hiks... Waalaikum salam bu, biarin Yasmin meminjam dada ibu, sebentar saja bu, sebentar.... hiks hiks", Yasmin tersedu dan Bu Ida hanya diam dan mengusap punggung Yasmin dengan lembut.
" Duduk dulu", Bu Ida membimbing Yasmin untuk duduk di kursinya.
" Ada apa, bisa cerita sama ibu", Ujar bu Ida lembut, ada perasaan yang mengiris hatinya mendengar Yasmin menangis pilu.
" Yasmin diceraikan bu", Ucap Yasmin lirih ketika sudah sedikir reda tangisnya.
Bu Ida kaget namun entah kenapa ada senyum tipis terulas dibibirnya.Jahat sedikit ga papa ya, batinnya.
" Oh ya Robb.... Sabar ya sayang, ikhlaskan, kamu sudah berusaha menahan selama ini, kamu sudah berusaha mengikhlaskan tapi jika pada akhirnya diceraikan, mungkin ini yang terbaik buatmu, menangislah, dan ikhlaskan... jika kemarin berusaha ikhlas di madu, sekarang harus ikhlas dicerai, seleh ya ( Menerima dengan sabar, berpasrah diri kepada sang khalik)", Ujar bu Ida lembut.
Yasmin mengusap air matanya dengan tisu setelah melepas pelukannya pada bu Ida.
" Ini minum dulu", Bu ida memberikan sebuah botol air mineral.
" Terima kasih bu", Ujar Yasmin.
" Tenangkan dirimu, biar anak anak sama miss Kinan dulu", Ujar bu Ida menyebut guru les yang lainnya.
" Iya bu, maaf ", Ujar Yasmin tidak enak hati karena jam kerjanya harus digantikan oleh miss Kinan.
" Tidak masalah, bunda sudah sering menggantikan jam mengajar yang lain, kali ini biar yang lain yang menggantikan sekali kali", Ujar bu Ida mengajak Yasmin tersenyum.
" Bun... Mungkin saat ini hati bunda sedang sedih, tapi percayalah dan yakinkan hati bunda, bunda pasti bisa, bunda itu wanita kuat, luar biasa, ibu yang semmpurna jadi tidak boleh meratapi nasib, sekarang yang harus bunda mohonkan agar prosesnya cepat dan tidak ribet, bunda tinggal menata hidup yang lebih baik", Bu Ida sangat percaya jika Yasmin mampu menghadapi ujian kali ini
" Iya bu, tetima kasi atas suportnya, masf jika saya sering berkeluh kesah pada ibu", Yasmin merasa tidak enak hati, pasalnya dia sering ceurhat dengan bu ida.
" Tidak masalah, inshaAlloh saya bisa menjadi teman yang amanah bisa menjaga rahasia, dan saya juga berterima kasih karena bunda percaya pada saya sehingga bisa mengeluarkan uneg uneg dihati bunda pada saya", Bu Ida menepuk lembut bahu Yasmin dan tersenyum tipis pada Yasmin.
" Oke, sudah siap masuk kelas?", Tanya bu ida
Yadmin mengangguk kemudian permisi pamit pada bu Ida dan mulai bekerja, hatinya sudah sedikit lega, semua sudah terjadi tinggal menjalani, takdir memang bisa diubah tapi takdir hidup Yasmin kali ini tak ingin Yasmin ubah, Yasmin sudah rela dan ikhlas di talak Hanan, yang membuat dia menangis adalah rasa yang membekas itu saja.
Manusiawi jika kehilangan sesuatu dalam hidupnya pasti ada rasa sedih dan penyesalan sekalipun itu kehilangan musuh, jika bersorak tentu sedikit aneh dengan nuraninya.
__ADS_1
Ditempat lain
Dewi menanti nanti kepulangan Hanan yang hingga menjelang sore suami sirinya itu belum menampakkan batang hidungnya di rumahnya.
Hati yang tadunya antusias menunggu kini berubah jadi sedikit gelisah. Tadinya bersemangat penuh suka cita karena merasa apa yang dimau menjadi nyata bukan lagi asa.
" Iihhh.... Bapak ini kemana sih! Apa masih di rumah itu, berdamai lagi gitu mereka... aaaccchhh.... ditelpon tidak diangkat di kirim pesan juga tidak dibaca, maunya apa sihhh!!!", Sewot Dewi dalam gelisahnya.
Lagi, dia melihat ponselnya, tak ada jawaban atas pesan yang dikirimnya tak ada telpon balik, gundah kian merana, menanti tak ada pasti.
" Zidan, Zea.... Mama mau keluar sebentar, kalian cepet mandi dan di rumah saja, sore ini tidak usah ngaji di mushola, mama pergi sebentar beli makan dulu", Dewi bergegas meninggalkan rumah dengan motor metiknya.
Sementara Hanan seperti orang linglung, dia tengah berada di sebuah mushola kecil di pinggir perkampung, disana dia mendinginkan hatinya, entah kenapa hatinya merasa lega tetapi seperti ada yang hilang. Tak ingin menangis namun air matanya tak berhenti, ada sesuatu yang entah apa itu, tetapi seperti sebuah kehilangan yang besar.
Dewi menyusuri jalanan menuju kembali kerumah Yasmin, tetapi rumah itu sepi, tak berpenghuni.
" Permisi",
" Rumahnya kosong tadi pak Hanan dan bu Yasmin pergi, entah mau kemana soalnya pak Hanan bawa koper", Bu Nunik yang tadi siang melihat kepergian Hanan mencoba menjelaskan pada Dewi.
" Ya sudah bu, saya pernisi", Dengan buru buru Dewi pergi meninggalkan rumah Yasmin.
__ADS_1
" Kemana mereka? Ataukah mereka kembali damai dan rujuk terus mereka memutuskan untuk tidur di hotel aachhh.... ", Dewi frustasi memikirkan itu.
Sampai di rumah Dewi tak mendapati Hanan, hingga ia pun merasa sangat gusar, sepanjang jalan pikirannya kacau hingga akhirnya lupa tak bawa makanan untuk anak anak yang sudah menunggu dengan rasa lapar dan dingin sehabis mandi.
" Mama mana kanannya, Zea sudah sangat lapar?", Bocah itu bertanya dengan sangat kecewa dan sedih, sontak Dewi pun tersadar dengan tujuan utama keluar rumah tadi.
" Ya ampun.... makanannya tertinggal, sebentar mama ambil kalian tunggu", Dewi berbohong pada anaknya padahal memang kelupaan.
" Huhhh", Zea menghentakkan kakinya karena kecewa pada sang mama.
" Sabar dek", Zidan mencoba menenangkan.
Sementara sambil menunggu makanan yang dipesannya Dewi kembali menelpon Hanan tapi tidak juga diangkat, pesanpun tak dibaca meski terkirim.
" Ayolah pak, angkat telpon mama!", Gumam Dewi kesal.
" Ini bu, semua jadi delapan puluh ribu", Ujar pedagang ayam geprek yang yang dibeli Dewi.
Dewipun memberikan uang seratus ribuan dan dikembalikan dua puluh ribu, kemudian Dewi menyimpan kembalian dan bergegas pulang dengan hati yang berkecamuk, terus kepikiran Hanan yang sudah kembali baikkan drngan Yasmin dan pergi untuk liburan karena biasanya pasangan yang habis bertengkar akan lebih mesra setelah baikkan.
Bersambung.....
__ADS_1
Tiga episode gais.... crazy up ieuh😊
Besok lagi ... insha Alloh ya🤗🤗🤗