
“Dia kerja di Rumah Sakitnya Mama, loh. Tadi Kakak ketemu sama dia.”
“Terus?”
“Ya, Kakak cuma pengen cerita aja. Takutnya nanti terjadi kesalahpahaman antara kita.”
“Kan aku sudah bilang, kalau aku percaya sama, Kakak.”
"Tetap aja, yang, Kakak harus cerita ke kamu, kan kita harus saling terbuka.”
Larisa mengangguk. "Iya juga sih.”
“Terus kenapa dia bisa kerja disana?”
“Kata Mama, waktu itu mereka gak sengaja ketemu dan akhirnya Mama ngajak dia kerja di RS.”
“Mama tau kalau dia mantan, Kakak?”
“Mantan?”
“Bukannya, Kakak, sama dia dulu pernah pacaran?”
“Gak! Kata siapa?”
Larisa pun terdiam.
“Pasti kata Viona, ya? Jadi, dulu dia sempat ngobrol apa aja sama kamu?”
“Kakak, masih ingat aja. Itu kan sudah lama.”
“Kakak, emang lebih tua dari kamu, tapi Kakak gak pikun, sayang.”
Larisa menghadapkan tubuhnya ke Abi. “Maksud aku bukan gitu, Kak. Maksud aku-.”
“Iya, Kakak paham. Sekarang kamu masih mau nutupin lagi sama Kakak?”
Larisa menyandarkan punggungnya.” Dia bilang dulu kalau kalian pernah pacaran, terus gara-gara keluarga Kakak lagi ada masalah kalian putus komunikasi. Intinya hubungan kalian gak jelas akhirnya karena gak ada kata putus.”
Abi hanya tertawa. “Kakak sama Viona emang pernah dekat. Tapi kalau pacaran Kakak yakin seyakin yakinnya kalau Kakak gak pernah nyatain perasaan sama dia.”
“Artinya, Kakak, emang punya perasaan sama dia?”
“Gak juga. Waktu itu Kakak ngerasa nyaman aja sama dia, makanya dekat. Mungkin karena sering jalan bareng dan sering komunikasi dia mikir kami pacaran waktu itu.”
__ADS_1
“Kepedean sekali dia,” kesal Larisa.
“Terus dia bilang apalagi waktu itu?”
“Dia sempat ngajak aku bersaing secara sehat untuk mendapatkan, Kakak. Dia gak percaya kalau kita sudah menikah.”
“Oh, jadi waktu dia datang kerumah mau minta maaf itu karena dia malu akhirnya tau kalau kita benar-benar suami istri?!”
“Betul!”
Abi menghembuskan nafas kasar. “Kakak jadi malas kerja kalau ada dia.”
“Kenapa?”
“Ya, karena dengar cerita kamu barusan.”
“Sudahlah, dia kan sudah minta maaf. Kerja, ya, kerja aja bersikap profesional. Kalau obrolannya sudah keluar jalur dari pekerjaan, mendingan, Kakak, hindari dia.”
“Nanti Kakak cerita deh sama Mama gimana Viona.”
“Gak usah! Secara gak langsung kita bikin dia malu di depan Mama. Makanya waktu itu aku gak mau cerita ke Kakak, biar dia gak hilang muka di depan laki-laki yang dicintainya.”
Abi mengelus kepala Larisa. “Istri ku ini dewasa banget sih.”
Abi menekuk wajah. “Sekalian aja bilang kalau Kakak ini tua.”
“Kata siapa suami aku ini tua. Usia matang, tapi jiwanya muda sekali. Bikin aku terpesona kalau sudah di atas ranjang.” Larisa mencolek pipi Abi.
“Mama Kyra sekarang pintar menggoda, ya.” Abi membalas dengan mencolek pinggang istrinya.
“Hahaha … Kak, jangan! Kita lagi di mobil.”
“Awas, ya, kamu nanti di rumah Kakak bales.”
Larisa bergelayut manja di lengan suaminya. “Dengan senang hati.”
Mereka berdua pun tertawa.
...🐦🐦🐦🐦...
Hampir satu bulan Larisa menjalani rutinitasnya di Jakarta. Ia mulai merasa nyaman dan kerisauan dalam hati jadi sedikit berkurang. Wanita itu juga dapat membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Semua itu juga berkat Indah si sekretaris pribadi yang pintar dalam mengatur jadwalnya. Jadi, Larisa dapat bekerja dengan enjoy tanpa harus diburu-buru waktu.
“La, hari ini anaknya Om Leo bakalan datang kesi,” kata Endra.
__ADS_1
Hari libur kini mereka memutuskan untuk di rumah saja karena minggu-minggu kemarin sudah puas mengelilingi kota Jakarta bersama Kyra.
“Yang kuliah di Amerika itu?” tanya Larisa.
“Iya. Dia baru aja lulus S2. Rencananya dia mau kerja di sana, tapi Papa minta untuk pulng biar bisa bantu-bantu kamu di sini.”
“Terus?”
“Dia setuju. Lagian Om kamu itu sudah sakit-sakitan, dia gak mau anaknya ada yang jauh.”
“Ooh, bagus kalau gitu. Kesininya sama siapa?”
“Nanti Om Leo dan keluarganya bakalan kesini.”
“Kalau gitu kita harus masak dong, Ma,” kata Larisa
Davira pun mengangguk setuju.
“Kalau gitu Kyra main sama Papa aja, ya,” ajak Abi pada putrinya.
“Oke. Kita berenang, ya?”
“Siap, sayang. Habisin dulu sarapannya.”
Mereka menikmati sarapan di sabtu pagi dengan santai. Setelahnya Davira dan Larisa memutuskan untuk belanja sebelum memasak makan siang di antar Abi dan Kyra karena gadis kecil itu merengek pengen ikut
......................
Rekomendasi lagi.
Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak sebagai dukungan.
“Aku sudah putuskan. Aku ingin mengakhiri hubungan kita,” Tegas Danu, tunangan Zivanya sang janda yang beranak dua.
“Apa maksudmu, Bang?” tanya Zivanya, berharap semua yang ia dengar salah.
“Ku rasa, aku tidak perlu mengulang kata-kataku. Semua yang aku katakan sudah cukup jelas, aku ingin kita mengakhiri semuanya,” Lagi, Danu mengulang perkataannya.
“Tapi kenapa, Bang?” Air mata Zivanya luruh. Ia tidak dapat menahan tangisnya.
Zivanya, Janda muda yang memiliki dua anak, di putuskan begitu saja oleh tunangannya. Ternyata, alasan yang ada dibalik putusnya hubungan meraka sungguh menyakitkan. Membuat Zivanya berubah menjadi pribadi yang lain.
__ADS_1