
Sampai di rumah orang tuanya yang baru, Larisa sedikit merasa nyaman. Karena tak mengingatkannya pada masa-masa suram dulu.
“Kita makan malam dulu, habis itu kalian bisa langsung istirahat,” ajak Endra menuju meja makan.
Di meja makan mereka disibukkan menjawab beberapa pertanyaan Kyra. Entah lah gadis kecil itu sangat penasaran sekali dengan hal-hal baru yang dilihatnya. Hingga hidangan diatas meja habis barulah Davira mengajak sang cucu melihat kamarnya. Diikuti Larisa dan Abi.
“Mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Tiba di depan pintu bercat putih, Davira membukanya da mempersilahkan Kyra untuk masuk.
“Wwwaahh … Oma ini bagus sekali. Mama, Papa, coba lihat kamar aku di sini banyak mainannya dan banyak boneka. Gak kayak kamar aku di villa. Kasurnya juga gede.” Kyra segera naik dan meloncat di atas kasur barunya.
Larisa cuma bisa geleng-geleng kepala ke arah sang Mama.
Davira hanya tersenyum lebar. “Terserah Mama, dong. Mau belii banyak mainan sama Boneka. Duit Mama juga kan.”
“Tapi nanti Kyra jadi manja, Ma. Dikit-dikit minta beli mainan,” ujar Larisa.
“Sudah, sayang. Gak papa nanti kita tetap ajari dan kasih Kyra pengertian,” sela Abi.
“Tuh, menantu Mama aja gak keberatan.” Davira merasa senang dapat dukungan dari Abi.
“Kyra, sayang, turun yuk. Waktunya kamu bersih-bersih dan ganti baju,” ajak Larisa.
“Biar Mama yang urus Kyra. Kalian ke kamar gih sana.” Davira menunjuk pintu lain di samping kamar cucunya.
“Sayang, Mama sama Papa ke kamar, ya. Kamu bersih-bersihnya sama Oma,” kata Larisa.
“Oke, Mama.” Terakhir Kyra memeluk Larisa dan Abi sebagai tanda perpisahan sebelum tidur.
“Titip Kyra, ya, Ma.” Larisa dan Abi pun keluar dari kamar putrinya.
Mereka berdua menuju kamar lain yang sudah disiapkan Davira.
__ADS_1
“Bersih-bersih dulu dan ganti baju. Besok aja mindahin baju-bajunya ke lemari,” ucap Abi.
“Gaka papa, Kak. Aku kerjain sekarang aja,” kata Larisa.
“Ya sudah, biar Kakak bantu.
Larisa tersenyum manis. “Makasih, Suami.”
“Iya. Biar cepat selesainya dan kita bisa istirahat.”
...🐽🐽🐽🐽...
Pagi-pagi sekali Ningsih sudah berangkat menuju rumah besannya. Kemarin ia sama sekali gak bisa ikut untuk menjemput anak menantu serta cucunya ke bandara karena lagi di luar kota menghadiri satu acara yang tak bisa diwakilkan.
Tiba di sana keluarga Endra sedang menikmati sarapan di meja makan, NIngsih pun di ajak untuk ikut sekalian gabung.
“Kebetulan saya juga belum sarapan. Bagun tidur langsung mandi dan kesini,” jelas Ningsih.
Nigsih pun segera menghampiri cucunya itu dan memeluk. “Katanya cucu Eyang kemarin lagi sedih, ya?! Sampai demam segala, sekarang sudah gak sedih lagi?”
“Gak, dong! Sekarang aku ngak mau sedih lagi, soalnya nanti Mochi ikutan sedih juga di sana.”
“Duh, cucu Eyang pintar sekali. Nanti kita main ke rumah Eyang, ya?!”
“Oke.”
“Duduk dulu, Ma. Kita sarapan,” sela Abi.
Dari meja makan mereka beralih ke ruang keluarga. Banyak hal yang mulai dibicarakan. Termasuk kapan Larisa akan mulai masuk kerja.
“Sebelum kerja aku mau lihat kantor dulu. Mau ubah disain interiornya,” jelas Larisa.
__ADS_1
“Urusan gampang. Nanti Papa akan minta Indah atur semuanya.”
Sesuai janjinya dulu, Larisa meminta pada sang Papa agar menjadikan Indah sebagai sekretaris pribadinya.
“Nanti kita ke kantor sambil lihat-lihat,” tambah Davira.
“Aku boleh ikut kan Oma?” tanya Kyra.
“Boleh, sayang.”
“Terus bagaimana dengan kamu, Bi? Kapan mulai bisa mengntikan Mama?” tanya Ningsih.
“Mungkin minggu depan, Ma. Aku mau santai dulu lah satu minggu ini,” jawab Abi.
“Kita mau keliling Jakarta dulu boleh kan? Sebelum menjalani rutinitas yang menyibukkan,” tambah Larisa.
“Pastinya boleh, sayang. Oh, ya, kalau kalian mau ke rumah Mama harus nginep, ya! Mama sudah siapkan kamar buat kalian,” jawab Ningsih.
Abi mengangguk. “Mungkin besok kami akan ke rumah.”
“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, ya, Besan. Soalnya harus segera ke Rumah Sakit.”
“Oh, oke. Hati-hati kalau begitu. Besok kami akan ke rumahnya, Ibuk,” jawab Endra.
“Eyang berangkat kerja dulu, ya, sayang. Besok kita main di rumahnya Eyang.”
Kyra pun mengangguk dan tersenyum manis.
Abi pun mengantar kepergian sang Mama ke depan rumah.
“Yuk, siap-siap. Kita mau lihat kantornya Opa.” Davira mengajak Kyra menuju kamarnya.
__ADS_1
Sedangkan Abi dan Larisa juga menuju kamar untuk berganti pakaian.