Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 112


__ADS_3

Abi pun kini paham dengan jalan pikiran Larisa. “Maksud kamu, Bayu mendapatkan hukuman dari Allah atas perbuatannya lewat anaknya yang mengalami keterbelakangan mental?!”


Larisa mengangguk.


“Kalau itu di bilang hukuman dari Allah untuknya, Kakak gak tau, ya. Tapi bisa jadi kondisi putranya itu membuat dia menyadari kesalahan dan benar-benar ingin menebusnya.”


“Lalu aku harus bersikap seperti apa?”


“Kakak kan sudah bilang, bersikap profesional. Jika dia bertanya, ya dijawab. Jangan menghukum seseorang atas kesalahan yang sudah kamu maafkan, biarkan saja yang maha kuasa memberikan hukuman.”


Larisa menghembuskan nafas panjang. 


“Selagi dia gak macam-macam kamu gak perlu menghindar. Kasih dia kesempatan untuk membuktikan kalau dia benar-benar sudah berubah.”


“Tapi kenapa aku gak yakin, ya, melihat sikapnya tadi pada Luna, aku merasa dia masih Bayu yang dulu.”


“Kita gak tau bagaimana hati seseorang itu. Berdoa saja pada Allah, kalau memang dia orang yang jahat, maka jauhkan kita dirinya.”


Larisa kembali menghambur ke dada suaminya. “Sekali lagi maafin aku, ya. Gak cerita sama Kakak.”


Laki-laki itu mengusap punggung sang istri. “Gak papa, Kakak mengerti. Mungkin kamu berpikir bisa mengatasinya sendirian.”


“Aku jadi ngantuk, kita tidur siang, yuk!”


“Kakak lihat Kyra dulu, ya.”


“Oke, aku juga mau ganti baju dulu.”


Abi pun keluar dari kamarnya menuju kamar sang putri. Ternyata sampai disana Kyra pun sudah terlelap saking capeknya habis bermain tadi. 


“Gimana Larisa?” tanya Davira. Ia baru saja keluar dari kamar sang cucu ketika Abi tiba.


“Cuma kecapekan saja, kok, Ma. Kalau gitu aku balik kamar lagi aja,” jawab Abi.


Davira hanya mengangguk.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Karena besok masih libur, sorenya Abi, Larisa dan Kyra berangkat menuju rumah Ningsih. Mereka akan menginap, menghabiskan malam ini hingga hari minggu di sana. Baru sorenya kembali ke rumah Endra. Selama perjalanan mereka mengiringi sang putri yang sedang menyanyikan lagu kesukaannya. 


Hingga tiba di rumah Ningsih, mereka disambut dengan penuh kegembiraan.


“Eyang,” seru Kyra.


“Cucu Eyang akhirnya sampai juga.” Wanita itu segera memeluk sang cucu.


Larisa dan Abi yang turun terakhir menyalami punggung tangan orang tuanya.


“Mama pikir kalian gak jadi kesini,” ujar Ningsih.


“Jadilah, Ma. Cuma tadi kita ngajak Kyra main dulu, pas pulang dan tiba dirumah dia malah tidur,” jawab Larisa.


“Ayo, masuk. Gak baik kamu lama-lama berdiri di luar, apalagi sudah sore.”


Mereka bertiga berjalan beriringan memasuki rumah. Sedangkan Abi mengambil barang belanjaan yang tadi sempat mereka beli saat di perjalanan.


“Alhamdulillah, lancar, Ma. Aku gak mengalami kendala di kehamilan kedua ini. Tapi kayaknya Kak Abi deh, yang malah jadi aneh,” jawab Larisa.


“Aneh gimana?”


“Dia jadi malesan sekarang, terkadang juga suka minta yang aneh-aneh gitu.”


“Ngidam maksud kamu.”


Larisa mengangguk. “Jadi posesif juga sih.”


Ningsih pun tertawa. “Memang di dunia medis ada istilahnya itu. Mama lupa apa namanya.


“Aku juga sudah baca di google, katanya memang ada suami yang merasakan gejala kehamilan saat istrinya hamil.”


“Ngomongin aku, ya,” timpal Abi.

__ADS_1


“PD amat kamu,” jawab Davira.


“Aku tanya Kyra nih, pasti dia jawab tebakan aku benar.”


“Iya, kita lagi ngobrolin, Kakak, yang aneh sejak aku hamil,” jawab Larisa.


“Itu artinya kita saling berbagi, sayang. Kamu yang hamil Kakak yang tanggung gak enaknya.”


“Kamu mual juga, Bi?” Ningsih pun penasaran.


“Sekali-kali, Ma, kalau nyium bau yang kurang enak banget.”


“Gak ke Dokter gitu?”


“Gak perlu lah, Larisa kadang suka bikinin teh jahe atau mint gitu. Jadinya aku ngerasa lebih baik.”


Ningsih hanya mengangguk. “Kyra, nanti tidur sama Eyang, ya?”


“Oke, Eyang.” Gadis kecil itu menjawab sambil mewarnai buku gambar yang baru saja tadi dibelinya di supermarket.


“Kalau gitu aku sama Larisa ke kamar dulu, ya, Ma. Mau ganti baju sekalian siap-siap mau solat,” ujar Abi.


“Iya, habis itu langsung ke tempat solat, kita solat sama-sama.”


Mereka semua beranjak dari sofa.


...****************...


Hai 👋👋👋 kita ketemu lagi...


Hari ini aku bawa rekomendasi...


jangan bosan ya.. author harap kalian mau mampir dan meninggalkan jejak 😊


__ADS_1


__ADS_2