
"Pokoknya mulai besok aku bakalan nganterin makan siang ke klinik. Sekalian nemenin , Kakak, makan,” jelas Larisa saat mereka sedang duduk di ruang tengah habis menikmati makan malam.
“Oke, terserah kamu. Kakak malahan akan sangat senang jika setiap hari bisa di temani makan di klinik.”
“Terus aku juga gak mau, Kakak, ketemu lagi sama wanita tadi.”
“La, gak segampang itu dong. Kakak sudah janji buat bantuin dia.”
“Gampang kok, tinggal bilang aja kalau aku gak suka.”
Karena Abi tak ingin kepercayaan sang istri padanya hilang. Jadi, sebisa mungkin ia akan menuruti apa yang dikatakan Larisa. Kini ia harus mencari alasan yang tepat untuk menghindari Viona.
“Sekarang bisa kita bicara?” tanya Abi.
Larisa mengangguk.
“Coba jelaskan atau gambarkan tentang yang kamu rasakan?”
Larisa menarik nafas dalam dan menghembuskannya. “Aku tuh, takut kalau nanti, Kakak selingkuh. Pokoknya aku gak mau sakit hati lagi, aku gak mau kecewa lagi dan aku gak mau dikhianati lagi.”
“Sekarang Kakak mau tanya. Bagaimana caranya kamu bisa menerima atau ikhlas melepas Bayu usai sembuh dari depresi?”
“Ya, kan kata Abah hidup kita ini sudah ada yang ngatur. Sudah ada jalannya, jadi aku berserah diri sama Allah.”
“Terus, kenapa kamu begitu takut terluka lagi? Bukankah artinya kalau kamu ikhlas dalam menjalani hidup, itu tandanya kamu siap bahagia dan juga siap sakit.”
“Tapi, Kak … “
“La, dalam sebuah hubungan, kita gak akan selalu bahagia selamanya. Akan ada kala dimana kita juga akan terluka, kecewa juga sedih. Persoalannya bukan melulu tentang pengkhianatan, tapi tentang banyak hal. Jadi, kamu harus bisa menerima rasa sakit itu dan setelahnya cobalah untuk mengobati agar lebih baik.”
“Rasanya sangat sulit.”
“Coba kamu jelaskan dimana letak kesulitannya!”
“Pokoknya susah. Bahkan untuk aku memutuskan kuliah lagi juga terasa sulit sebab aku takut untuk membuka diri pada orang-orang baru.”
Abi mendekati sang istri dan membelai kepalanya dengan lembut. “La, Kakak pernah mengajari kamu cara untuk mengendalikan emosi serta diri ketika pikiran-pikiran negatif itu muncul. Kenapa gak coba kamu lakukan lagi sekarang.”
Gadis itu hanya diam dan tertunduk.
“Jangan biarkan pikiran buruk itu menguasai kamu. Memang kita gak akan pernah tahu apakah seseorang itu punya maksud yang baik atau tidak pada kita. Tapi kamu juga gak boleh curiga berlebihan, sayang.”
“Oke, mungkin untuk hal itu aku bisa atasi. Aku akan coba membuka diri pada orang lain. Ngilangin pikiran buruk tentang mereka. Tapi bagaimana dengan, Kakak?”
“Maksudnya?”
“Apa aku bisa percaya sepenuhnya sama, Kakak kalau gak akan menghianati aku? Jujur hal itu yang paling aku takutkan. Kalau untuk rasa sakit dan kecewa karena alasan yang lain, mungkin aku bisa terima. Tapi kalau untuk di khianati lagi aku benar-benar gak bisa.”
__ADS_1
“Apa yang harus Kakak lakukan agar kamu yakin?”
“Jauhi Viona dan teman wanita lainnya.”
“Terus, bagaimana dengan rekan kerja Kakak yang ada di klinik?”
“Bersikap profesional, bicara jika itu adalah hal yang menyangkut pekerjaan.”
“Tapi, Kakak juga minta satu hal. Kamu gak boleh negatif thinking selama Kakak gak di rumah. Contohnya saja sekarang, kamu masih menduga-duga yang gak-gak kan tentang Kakak dan viona.”
“Iya lah. Orang kata suster aja dia datang tiap minggu. Kakak, kenapa gak pernah ngomong sama aku?”
Sebenarnya hal itu gak penting bagi Abi. Tapi ya sudahlah, ia harus mengalah. Dalam hal ini, kita tak bisa menuntut orang-orang seperti Larisa bisa mengerti akan keadaan kita. Justru kitalah yang harus mengerti dia, harus mengalah juga harus bisa bertahan kalau memang masih ingin ada di sampingnya.
Diraihnya jari-jemari Larisa dan dilabuhkan beberapa kecupan di sana. “Kakak, minta maaf, ya.”
Akhirnya Larisa pun menurunkan egonya.
“Sebaiknya kamu mulai pilih jurusan dan daftar kuliah. Kalau kamu sibuk, Kakak rasa pikiran negatif itu akan teralihkan dengan sendirinya.”
“Oke, tapi aku mau belajar dulu sebelum menentukan jurusan apa.”
“Mau ikut les apa? Biar Kakak cariin guru yang terbaik.”
“Gak usah, aku mungkin butuh berapa buku aja untuk mengingat kembali pelajaran lama.”
“Pas Kakak libur kita ke toko buku untuk membeli buku-buku yang kamu butuhkan.”
...🐥🐥🐥🐥...
Larisa pun akhirnya memutuskan akan kuliah dalam waktu dekat. Ia juga sudah menentukan jurusan serta fakultas tempatnya melanjutkan S2 nanti. Wanita itu juga mulia sibuk menggali kembali ilmu-ilmu yang sudah lama terpendam dalam memorinya. Ia tak mau nanti pas masuk kuliah malah terlihat seperti orang bodoh.
Kalau untuk phobianya mungkin pada orang lain sudah mulai bisa diatasi. Sebab Kania suka mengajak Larisa bertemu dengan teman-teman kampusnya atau juga teman sekantor. Namun, tidak pada Abi, ia akan selalu datang ke klinik setiap jam makan siang. Pulang kerja ia akan selalu memeriksa ponsel kekasihnya itu.
“Berlebihan amat cemburunya, Neng,” goda Abi.
“Biarin. Kalau gak suka kita putus,” ancam Larisa.
“Iya deh. Terserah kamu aja. Kalau Kakak mah senang.”
“Kok gitu?”
“Berasa dimiliki hehehe … “
Larisa mencibir. “Makan malam yuk.”
“Oke.”
__ADS_1
...🐺🐺🐺🐺...
Kemarin malam Endra dan Davira baru saja sampai di Bali. Pagi ini mereka tengah mengobrol di ruang tengah membahas keinginan sang putri untuk kuliah lagi.
“Jadi kapan kamu melakukan pendaftaran?” tanya Davira pada putrinya.
“Mungkin sekitar satu bulan lagi. Kata Kania sekarang orang-orang pada mau ujian akhir semester, kalau daftar sekarang gak bakalan diproses,” jawab Larisa.
“Yakin, kamu sudah siap?” tanya Endra.
“Makin ke sini aku makin siap. Apalagi nanti aku bakalan satu kampus sama Kania.”
“Kalau menurut kamu gimana, Bi,” tanya Endra.
“Memang aku yang nyaranin Larisa buat kembali kuliah, Pa. Semakin lama dia di villa akan semakin tinggi tembok pembatas yang diciptakannya untuk orang-orang baru dalam hidupnya.”
“Kalau memang itu kata Abi, Papa sama Mama setuju. Soal biaya, biar Papa yang tanggung.”
“Gak usah, Pa. Saya mampu kok menghidupi dan membiayai, Larisa,” jelas Abi.
Endra sadar kalau kini sang putri bukan lagi tanggung jawabnya. Walaupun ia bersikeras untuk mengambil alih hal itu, takutnya sang menantu akan tersinggung. “Maaf, Bi, Papa lupa.”
“It’s oke Pa.”
...🐙🐙🐙🐙...
Malamnya Larisa tengah asik menonton TV di ruang tengah bersama sang Mama dan Papanya, sedangkan Abi dari tadi gak balik-balik dari kamar. Ia pun ingin tau sedang apa sang kekasih kenapa belum kembali juga.
“Ma, Pa, aku lihat Kak abi dulu, ya,” izinnya berdiri dari sofa.
“Iya, sayang,” jawab Davira.
Sampai di depan kamar Abi, ia mendengar pria itu sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Sepertinya lewat sambungan telepon.
📞Iya sorry banget belakangan benar-benar sibuk. Jadi gak ada waktu buat bantuin.
Larisa menyimak obrolan Abi, meski ia tak tahu siapa lawan bicaranya.
📞Besok aku kirim lewat email tentang yang kamu minta kemarin.
📞Oke, selamat malam. Bye.
Abi mengakhiri panggilan itu dan ia segera keluar dari kamar. Pas membuka pintu ternyata sang istri sudah berdiri di sana. Larisa langsung mendorongnya dan merebut ponsel yang ada di tangannya.
...----------------...
Kira-kira Abi telponan sama siapa, ya?
__ADS_1
Ada yang tau?
Komen 🖊 dong..