Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 58


__ADS_3

Sejak Davira memberikan kabar pada putrinya kalau surat yang dititipkan itu sudah di terima oleh Ningsih, Larisa tak berharap banyak. Hanya doa yang terus ia panjatkan pada yang maha esa, agar dapat meluluhkan hati Ibu dari suaminya. 


Bahkan sudah tiga minggu berlalu sejak sang Mama pulang ke Jakarta, tak ada tanda-tanda Ningsih menghubungi sang suami. Membuat Larisa merasa gagal memberikan kebahagiaan lain untuk Abi.


Di Jakarta sendiri, surat dari Larisa masih saja terletak di atas meja kerja Ningsih. Wanita itu seakan enggan untuk membacanya. Namun, entah kenapa malam ini hatinya tergerak untuk membuka amplop putih itu. Lama dipandanginya hingga ia mulai merobek sedikit ujung amplop dan membuka isinya.


Assalamualaikum Mama mertua.


Bagaimana kabar Mama disana? Aku harap baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Sebelumnya aku minta maaf kalau hanya bisa menghubungi Mama lewat secarik surat dan goresan tinta hitam ini, karena kondisi aku gak memungkinkan untuk datang kesana.


Ma, aku ingin mengucapkan terimakasih banyak karena Mama sudah melahirkan seorang laki-laki nan memiliki hati yang sangat lapang untuk berkorban demi aku, seluas samudra dalam menerima segala kekurangan aku, sekuat baja menjalani cobaan hidup bersama aku, setegar batu karang dalam mencintai aku dan bahkan sabarnya tak memiliki batas. 


Terimakasih sudah mendidiknya menjadi pria yang begitu sempurna. Pastinya Mama akan sangat bangga mempunyai seorang anak seperti Kak Abi, yang mungkin hanya ada satu di mungka bumi ini. Bisa meminang aku, seorang wanita yang tak sempurna, bahkan rasanya aku tak pantas untuk bersanding dengannya. 


Tapi apa yang sudah dilakukan Kak Abi untuk aku, membuat aku merasa harus berjuang agar bisa memantaskan diri menjadi istrinya. Oleh karena itu aku meminta restu dari Mama untuk bisa mendampingi Kak Abi sampai ajal menjemput, untuk bisa memberikan kebahagian yang tak terhingga pada putra Mama, untuk memberikan segala cinta yang ada termasuk membawa Mama kembali padanya. Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawa ini demi Kak Abi, maka aku pun siap. Jika itu dapat menjadi bukti betapa besarnya cinta ini untuknya.


Mama adalah wanita yang sangat dicintai Kak Abi sebelum aku. Dia selalu mengikuti apa yang Mama katakan dari dulu hingga kemarin, meski kadang itu bukanlah hal yang ingin dilakukannya. Sekarang, dia hanya ingin memilih kebahagiaannya sendiri.


Hingga membuat Mama merasa kecewa, marah, hingga sedih. Namun, apa Mama tahu? Dia tak berniat untuk melakukan hal itu. Setiap hari dia selalu menghubungi Mama, menunggu balasan pesan atau panggilan dari Mama. Dia ingin mencoba mengobati luka di hati Mama, tetapi tak pernah mendapatkan kesempatan.


Sampai kapanpun posisi Mama gak akan pernah tergantikan oleh aku di hatinya Kak Abi. Kita memiliki ruangnya masing-masing. Jadi, aku mohon maafkanlah kesalahan kecil yang sudah dilakukannya.


Oh, ya, Ma, selamat, ya, kalau sebentar lagi Mama akan menjadi seorang nenek. Sekarang aku tengah mengandung buah cinta kami. Mohon doanya agar aku dan calon cucu Mama sehat selalu sampai waktu persalinan tiba. Yang pastinya kami sangat bahagia namun, masih saja terasa kurang tanpa kehadiran Mama. Maka dari itu datanglah, agar kebahagian ini semakin terasa lengkap.


Aku juga menyelipkan satu foto USG dalam amplop ini. Semoga Mama suka.


Hanya ini yang ingin aku sampaikan. Maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan, karena aku bukanlah seorang penulis yang pintar dalam merangkai kata-kata. Kami bertiga sangat menantikan kehadiran Mama. 


Salam hangat dari aku, Kak Abi dan calon cucu Mama. 

__ADS_1


Ningsih membuka lagi amplop tadi dan ia menemukan selembar foto USG. Gambar berwarna hitam putih itu tapak tak begitu jelas. Namun, ia masih dapat menangkap dengan matanya, seonggok kecil makhluk yang akan memanggilnya nenek jika sudah lahir ke mungka bumi nanti. 


Didekapnya surat tadi serta lembaran foto itu di dada. Membuat ia tak dapat menahan tangisan haru di malam ini. 


...🐧🐧🐧🐧...


Pulang dari klinik Abi bergegas menemui sang istri di kamar. Mereka akan pergi ke Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan yang kini sudah jalan tiga bulan. 


“Sudah siap aja?” tanya Abi.


“Aku udah baik-baik aja, Kak. Jadi aku bisa siap-siap sendiri," jawab Larisa


“Kalau gitu kita berangkat sekarang?”


“Kakak, gak ganti baju dulu?”


“Gak usah, yuk.”


Sampai di Rumah Sakit mereka tak perlu mengantri lagi karena Abi sudah mengambil antrian dari pagi. 


“Bagaimana, Dok?” tanya Abi pada dokter kandungan.


“Bagus, bayinya sehat, berat badannya juga naik.Tekanan darah ibunya juga sudah normal, HB nya juga pas untuk ibu hamil,” jelas dokter wanita itu.


“Gak perlu bedrest lagi dong, Dok?” tanya Larisa.


“Gak perlu. Ibu bisa beraktifitas seperti biasa, asalkan dibatasi, ya. Kalau capek istirahat dulu.”


“Boleh saya melakukan perjalanan jauh?”

__ADS_1


“Boleh. Mau babymoon?”


Larisa hanya tersenyum.


“Gak papa, asalkan jangan sampai kecapekan. Nanti saya kasih vitamin biar Ibu sama bayinya kuat untuk jalan-jalan.”


“Terimakasih, Dok.”


“Sama-sama. Kita ketemu bulan depan, ya.”


Abi dan Larisa pun segera pamit dan keluar dari ruangan dokter. Mereka menebus vitamin yang ada diresep ke apotik setelahnya kembali pulang.


“Kamu benar mau babymoon?” tanya Abi sambil fokus mengemudi.


“Rencananya,” jawab Larisa.


“Sebaiknya kita tunggu beberapa bulan lagi, ya. Sampai kandungan kamu benar-benar kuat.”


“Tap, Kak, aku ma-.”


“La, Kakak gak mau ambil resiko. Kamu baru aja sehat, loh. Jangan sekarang,” tegas Abi.


Larisa tak bisa membantah akhirnya ia menuruti omongan Abi. Sebenarnya ia ingin ke Jakarta untuk menemui mama mertua. Karena sepertinya surat yang ia tulis tak memberikan harapan banyak untuk membawa Ningsih kemari dan memberikan restu pada pernikahan mereka.


...🍰🍰🍰🍰...


Sampai di villa Larisa hanya diam dan memilih duduk santai di halaman sendirian, ketimbang menemani Abi yang asik menonton TV di dalam.


Ia hanya kesal karena suaminya terlalu berlebihan jika sudah menyangkut kehamilannya. Padahal ia yakin kalau kandungannya sudah kuat dan mereka bisa melakukan perjalanan ke Jakarta. Untuk menemu Ningsing dan meminta restu agar pernikahan mereka nantinya selalu diiringi oleh kebahagiaan.

__ADS_1


Namun sepertinya Abi tak paham akan keresahan hatinya, membuat ia merasa kesal.


__ADS_2