Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 21


__ADS_3

"Terus gimana perkembangan Larisa sekarang? Papa lihat dia sudah kembali normal?”


“Dia memang terlihat normal. Sudah banyak bercerita dan berinteraksi dengan kita. Cuma dia masih belum berani keluar dari zona nyamannya yaitu villa. Larisa tak suka jika diajak jalan keluar atau berada di keramaian," jelas Abi.


“Kalau di rumah selain les dia ngapain aja?” tanya Davira.


“Setelah saya berangkat kerja dia olahraga yoga, Ma. Sekarang juga mulai ngurusin taman di halaman. Besok, Mama sama Papa bisa lihat sendiri. Saya juga saranin baca-baca buku tentang kesehatan mental lalu dia bikin vlog yang isinya pemahaman dia setelah membaca buku itu.” 


“Larisa masih minum obat?” tanya Endra lagi.


“Hhmm sekarang masih, Pah. Palingan habisin sisa obat aja, setelah ini saya gak akan resepin dia obat lagi.”


Davira dan Enda mengangguk Paham. Keputusan Abi membawa putri mereka tinggal disini merupakan hal yang tepat


“Oh, ya.Besok kita ke pondok pesantren tempat guru spiritualnya Larisa, ya. Tadi saya sudah janjian sama beliau.”


“Oke, Papa sama Mama juga pengen ketemu. Selama ini kita kan cuma dengar cerita dari kamu aja,” jawab Endra.


“Oh ya, Bi. Gimana kabar Mama kamu?” tanya Davira merasa tak enak.


Abi menggelengkan kepalanya. “Gak tau, Ma. Setiap saya kirim pesan cuma di baca dan gak di balas. Di telpon juga gak di angkat.”


“Kemarin sebelum kami berangkat, Papa sempat mampir ke rumah Mama kamu. Kata ART disana Mama kamu lagi di RSJ jadi, Papa cuma titip alamat kalian di sini sekalian bilang kalau kita mau berangkat ke Bali,” terang Endra.


“Mama juga sempat kirim pesan dan telpon dia, tapi gak di balas dan di angkat," tambah Davira.


“Gak, papa, Mah, Pah. Mungkin Mama masih marah sama saya. Beliau juga butuh waktu untuk bisa menerima pilihan ini.”


“Bi, maafin kita ya. Gara-gara kami hubungan kalian jadi buruk begini,” pinta Davira.


“Bukan salah kalian kok. Ini sudah menjadi keputusan saya, jadi Mama Ningsih seharusnya bisa menerima dan mendukung. Artinya tergantung sama Mama, kalau dia bisa menerima mungkin hubungan kami akan baik-baik saja,” tukas Abi.


“Terus gimana hubungan kamu sana Larisa?” Davira mengalihkan pembicaraan karena Abi tampak sedikit sedih.


Abi tersenyum malu. “Saya sih mulai mendekati Larisa, Mah. Sering kasih dia kejutan kecil dan godain dia. Cuma, ya, saya gak mau buru-buru, ngalir ajalah.”


“Kamu gak minta dia ngurusin kamu gitu?”


“Oh kalau itu sih saya minta, Ma. Cuma hal-hal kecil aja. Kayak bikinin teh tiap pagi bahkan sekarang pas pulang kerja dia juga nawarin. Terus bantu pakaiin dasi pas mau berangkat kerja. Sebenarnya sih itu gak perlu, tapi saya bingung aja mau minta bantuan apa sama dia. Oh satu lagi, saya juga minta siapkan baju ganti sepulang kerja. Tujuannya agar dia merasa dibutuhkan biar hidupnya itu terasa ada artinya bagi seseorang.”


“Kamu benar-benar jatuh cinta, ya, sama anak, Mama? Wajah kamu jadi berseri seri pas kita bahas dia.”


Abi tersenyum lebar. “Ah, Mama tau aja.”


“Bi, kalau nanti Larisa sudah sembuh dan dia gak sadar akan hubungan kalian sebaiknya kamu ceraikan dia, ya,” kata Endra.

__ADS_1


Raut wajah Abi langsung berubah serius. “Kenapa gitu, Pah?”


“Maaf sebelumnya, Bi. Papa, gak bermaksud memanfaatkan kamu sekarang lalu pas tak butuh lagi kamu kami campakkan. Hanya saja, Papa masih merasa tak enak dengan Mama kamu. Sebaiknya kamu ceraikan Larisa dan cari wanita lain yang sepadan dengan kamu,” jelas Endra.


“Pah, kamu gak lihat bagaimana bahagianya Abi saat menceritakan tentang hubungannya dengan Larisa. Dia begitu mencintai putri kita, lalu apa salahnya kita dukung dia. Seharusnya kita yakinkan Buk Ningsih untuk bisa menerima Larisa. Bukan malah meminta Abi menceraikan dia,” marah Davira. "Mama juga yakin kalau Larisa nantinya akan bahagia sama Abi."


“Tapi, Mah-”


“Pa, sampai kapanpun saya gak akan menceraikan istri saya kalau dia sendiri yang minta cerai. Soal Mama Ningsing benar apa yang dikatakan Mama Davira. Kita yakinkan dia kalau Larisa juga pantas bersanding dengan saya,” tambah Abi.


“Ayolah, Pa. Jika kita berjuang bersama, Mama yakin Buk Ningsih pasti bisa menerima ini semua. Toh anaknya juga bahagiakan, gak ada lagi alasan dia untuk tak merestui hubungan mereka,” bujuk Davira.


Endra berpikir sejenak. “Oke, tapi kita tunggu Larisa sembuh dan dia membalas perasaan suaminya. Setelah itu kita gelar acara pernikahan.”


Abi dan Davira tersenyum lega akhirnya Endra ingin berjuang bersama.


“Makasih, Ma, Pa,” kata Abi mencium tangan kedua mertuanya.


“Ya sudah. Kita istirahat. Sudah malam ini,” ajak Endra.


“Besok pagi selesai sholat subuh saya mau Lari di bawah. Apa, Papa, mau ikut?” tawar Abi.


“Boleh. Di tepi pantai kan?”


“Kita turun jam tujuh saja kalau begitu.”


“Siap, Pa.”


...🥐🥐🥐🥐...


“Morning, sayang,” sapa Davira ketika sang putri turun dari lantai dua.


“Papa sama Kak Abi mana?" tanya Larisa duduk di meja makan.


“Lari pagi di bawah.”


“Di pantai?”


“Iya.”


“Kok aku gak di bagunin sih, Mah?”


“Bukannya kamu bilang lagi gak solat, makanya gak Mama bagunin.”


“Iya, tapi biasanya pagi-pagi aku bakalan olahraga sama Kak Abi.”

__ADS_1


“Oh, mungkin nanti kali, pas mereka pulang Lari.”


“Ma?”


“Hmm,” Davira sedang menyiapkan sarapan pagi di meja makan.


“Aku mau tanya, boleh?”


“Tanya apa, sayang?”


“Sini,” ajak Larisa untuk mendekat.


Davira pun duduk di samping putrinya.


“Waktu aku belajar berenang sama Kak Abi aku ngerasain ada sesuatu yang keras di bawah sininya Kak Abi,” Larisa menunjuk bagian intimnya. “Itu punya Laki-laki, ya, Ma? Artinya lagi on kan, Ma?”


Davira sempat bingung haruskah ia tertawa atau serius. “La, kamu kan sudah dewasa, gak ada salahnya kamu tahu akan hal ini. Ia itu tandanya naluri lelakinya sedang bangkit, tapi, Mama rasa gak ada salahnya kamu tanyakan sama Abi.”


“Aku sempat tanya, tapi Kak Abi kayak menghindari gitu.”


“Terus?”


“Ya terus aku gak tanya-tanya lagi. Oh ya, Ma, Kak Abi sering minta aku cium dia di bibirnya. Wajar gak sih, Ma?”


“Kalian laki-laki dan perempuan dewasa, Mama rasa itu hal yang wajar.”


“Mama, gak khawatir kalau nantinya Kak Abi minta hal yang lebih sama aku?”


“Gak,” jawab Davira enteng.


“Kenapa?”


“La, sekarang Mama gak bisa jelasin apa-apa. Abi yang berhak membicarakannya dengan kamu, itupun kalau kamu sudah benar-benar sembuh.”


“Aku sudah sembuh, Ma.”


Davira menggeleng lalu memegang kedua bahu putrinya. “Kalau kamu merasa sudah sembuh, kenapa masih mengurung diri di villa ini? Seharusnya kamu melihat dunia luar, mulai membuka diri pada orang-orang baru.”


“Aku takut kecewa aja, Mah.”


“La, setiap orang itu punya sisi baik dan buruknya, begitu pula kamu. Tapi kita gak boleh menghindar karena sebagai manusia kita adalah makhluk sosial. Baik sama orang boleh tapi jangan terlalu percaya karena kita gak tau hati seseorang itu terhadap kita.” Davira memberikan sedikit nasehat pada putrinya.


“Kalau Kak Abi gimana? Aku bahkan sudah terlanjur percaya penuh sama dia”


“La, jadikan kejadian kemarin sebagai pengalaman untuk kamu bisa menilai seseorang, apakah dia beneran tulus atau tidak. Untuk jawaban dari pertanyaan kamu itu, Mama yakin hati kamu pasti bisa memberikannya.”

__ADS_1


__ADS_2