
Dari mushola kecil yang ada di sudut rumah, mereka pun beranjak menuju meja makan. Obrolan ringan mengiringi santap malam kali ini.
“Kamu kok kayak menghindari Viona gitu sih, Bi?” tanya Ningsih.
“Perasaan, Mama, aja kali,” jawab Abi.
Kening wanita tua itu mengernyit. “Masak sih? Tapi Viona sendiri juga bilang gitu sama Mama.”
“Jadi dia curhat sama, Mama?”
“Gak juga. Dia cuma nanya, kok kamu selalu menjaga jarak sama dia, padahal dia kan cuma pengen ngobrol.”
“Gak ada yang perlu di obrolin, Ma. Terus, Mama, jawab apa?”
“Ya, Mama cuma jawab, mungkin kamu emang lagi gak pengen ngobrol aja.”
Abi hanya merespon dengn anggukan kepala.
“Padahal dulu kalian dekat banget, loh,” jelas Ningsih.
“Oh, ya, Ma? Sedekat apa sih?” Larisa pun membuka suara, ia jadi penasaran.
“Sering jalan bareng, kemana-mana selalu berdua. Sampai Mama kira mereka itu dulu pacaran.”
“Terus?”
“Kata Abi sih cuma dekat aja. Tapi siapa yang tau, kan.”
Larisa membulatkan mulutnya.
“Mah, jangan mancing-mancing, deh. Nanti Larisa salah paham, loh,” kata Abi.
“Kalaupun dulu, Kakak, pacaran sama dia, ya, gak masalah. Itu kan masa lalu.”
“Pacaran itu apa sih, Ma?” timpal Kyra.
Larisa tersedak dengan pertanyaan dari anaknya. Ia lupa kalau bicara dekat Kyra itu harus hati-hati, kalau tidak maka putrinya itu akan menanyakan hal yang baru di dengarnya.
“Nanti kalau kamu sudah besar, Papa bakalan kasih tau. Sekarang belum saatnya,” jelas Abi.
__ADS_1
“Sebaiknya kita bahas soal keluarga aja dekat Kyra,” kata Ningsih.
Larisa pun setuju. Akhirnya topik pembicaraan pun diganti. Mereka lebih banyak bertanya pada gadis itu seputar sekolah baru dan teman-teman barunya. Makan malam selesai mereka beralih ke ruang tengah hanya sekedar menikmati waktu santai sambil menonton TV.
“Besok kita ke makam Papa sama Mina, ya!” ajak Ningsih.
“Oh, iya. Sejak kami disini kita belum ziarah ke makam, ya, Ma,” ingat Abi.
Ningsih hanya menipiskan bibir. “Kalian berdua terlalu sibuk sejak baru pindah kesini jadi, Mama sengaja cari waktu luang.”
“Maaf, loh, Ma,” pinta Larisa.
“Gak papa, sayang. Mama ngerti, kok.”
“Kalau gitu sekarang waktunya tidur. Kyra, beneran bobok sama Eyang?” tanya Abi.
“Iya, dari pada aku tidur sendiri,” jawab gadis kecil itu.
“Ayo, kita ke kamar Eyang,” ajak Ningsih.
“Jangan lupa gosok gigi sama cuci kaki, tangan sama muka, ya,” pesan Larisa.
Kepergian Ningsih dan Kyra, Abi dan Larisa pun menuju kamar mereka.
Sampai di kamar Larisa pun duduk di tepi kasur. “Pantasen Viona mikir kalian itu pacaran. Ternyata kalian benar-benar dekat banget, sampai Mama aja mikir Kakak sama dia pacaran.”
Abi pun ikut duduk di samping istrinya. “Udah deh, jangan bahas masa lalu.”
“Kenapa?”
“Kakak gak suka.”
“Jadi ingat kenangan lama, ya?”
“Apaan sih, yang. Kamu sengaja mancing-mancing, ya?”
Larisa pun tertawa. “Terus kalin ngapain aja? Maksudnya pernah ngapain aja?”
Dahi Abi tampak berkerut. “Maksud kamu? Kamu nuduh Kakak sama Viona ngapa-ngapain gitu?!”
__ADS_1
“Siapa tau kan. Kalau gak, mana mungkin dia anggap kalian pacaran. Pasti ada satu hal yang meyakinkan dia kalau Kakak itu cinta sama dia.”
Abi tampak kesal ia segera beranjak dan pergi ke kamar mandi.
“Kak, ih kok gitu? Kakak, ngambek?” Larisa jadi bingung dengan perubahan sikap suaminya.
“Kok malah dia yang jadi sensitif, ya?”
Balik dari kamar mandi Abi langsung saja merebahkan badannya di atas kasur, memunggungi istrinya yang masih duduk.
“Kak?” Larisa berusaha membujuk Abi. “Beneran, Kakak, ngambek? Baru kali ini, loh.”
Abi hanya diam lalu menutup kepalanya dengan selimut.
“Beneran aku di cuekin? Ya, udah kalau gitu, aku tidur sama Mama dan Kyra aja deh.”
Baru saja Larisa menurunkan satu kaki, Abi sudah menahan pinggangnya. “Jangan!”
Wanita itu mengulum senyumnya. Ia kembali naik ke atas kasur. “Jangan ambekan dong. Aku kan cuma nanya.”
“Tapi kamu nuduh Kakak.”
“Kalau gak ada apa-apa, ngapain marah.”
“Iya. Jangan pergi! Sini, kita tidur.” Abi merapikan bantal di dekatnya agar Larisa segera merebahkan badan. Setelahnya Abi pun melingkarkan tangannya di pinggang Larisa.
“Maaf, ya, kalau aku bikin, Kakak kesal,” ucap Larisa.
“Gak papa, jangan bahas-bahas lagi, ya! Kakak sama Viona gak pernah ngapa-ngapain, kok. Tapi emang kita terlalu dekat aja.”
Larisa pu mengangguk. “Tidur, tuk. Besok pagi kan kita harus berangkat ke makam.”
Mereka pun saling mengeratkan pelukan, berdua bersama memejamkan mata agar segera tertidur lelap.
Ayo dong dukungannya..
Like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 sama vote 🔖 nya mana nih?
Biar aku semangat up datenya...
__ADS_1