Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 40


__ADS_3

"Nah, anehnya itu, mereka kayak gak khawatir sama sekali. Mama juga bilang kita boleh melakukan hal apa saja yang kita mau. Aneh gak tuh?!” ungkap Larisa.


“Itu Tante Davira pas ngomong gak mikir apa ya? Di saat orang tua di luar sana khawatir sama anak gadisnya, eh dia malah santai aja dan sepertinya menyarankan gitu,” kata Kania.


“Itu bikin gue ngerasa ada yang aneh sama mereka.”


“Yaudah sih, mungkin maksudnya mereka percaya sama kalian. Jadi, silahkan lakukan apa yang kalian mau asalkan tau batasannya.”


Larisa mengangguk. “Mungkin juga.”


“Tapi lo harus jaga diri, Sa. Jangan mau dimodusin sama Kak Abi. Awal-awal pelukan, ciuman, bobok bareng ntar kebablasan. Apalagi Kak Abi itu kan pernah tinggal di luar negri. Lo gak tau kan gimana dia menjalani hubungan asmaranya di sana.”


“Sekarang gue bukan lagi Larisa yang bisa dibodohi sama cowok. Dulu gue dimanfaatin Bayu soal uang, sekarang gue gak mau di manfaatin Kak Abi soal nafsu yang berkedok cinta.”


Kania memberikan dua jempolnya kehadapan sang sahabat. “Tapi kalau dia memang cinta sama lo, dia gak akan melakukan hal itu. Sebisa mungkin lo akan dijaganya. Ya, udah kalau gitu gue balik ke hotel, ya.”


“Oke.”


Mereka sama-sama bangkit dari sofa.


...🐼🐼🐼🐼...


“Sekarang kamu mau tahu hal apa soal, Kakak?” tanya Abi pada istrinya.


Mereka baru saja selesai makan malam dan kini tengah menikmati waktu santai di ruang tengah sambil menonton acara di televisi. Larisa yang duduk menyandar di dada suaminya tampak sedang berpikir.


“Apa alasan, Kakak, bisa suka dan cinta sama aku?”


Abi berpikir sejenak. ”Kakak, pernah baca novel TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK. Ada satu kalimat yang selalu kakak ingat, bunyinya gini, ‘Cinta itu punya banyak pintu dan pintu yang terbaik adalah lewat rasa kasihan.’ Awalnya Kakak sempat mikir masak sih kita bisa mencintai seseorang hanya karena kita kasihan sama dia. Lalu saat Kakak ketemu kamu dan Kakak teringat akan Mina dari sana timbullah rasa belas kasihan yang sangat teramat dalam. Apa lagi pas melihat kamu kambuh setelah ketemu Bayu. Membuat Kakak merasa iba dan gak tega melihat kamu menderita.” 


“Artinya, Kakak, cuma kasihan sama aku?”


Abi membelai kepala istrinya. “Dengerin dulu Kakak cerita sampai selesai.”


Larisa pun tak jadi protes.


“Makanya Kakak putusin untuk membawa kamu ke sini agar jauh dari Bayu. Lalu saat pertama kali Kakak ketemu Abah, Kakak tanyalah sama beliau apakah yang Kakak rasakan ini benar-benar cinta meskipun itu berlandaskan rasa kasihan? Lalu Abah menjawab, ‘Dikasihani itu adalah cara mencintai yang luar biasa, kenapa? Karena dia gak berkaitan dengan hal fisik sama sekali. Di Kasihani itu sendiri adalah perwujudan cinta Allah kepada manusia.’ Setelah itu, Kakak yakin kalau apa yang Kakak rasakan adalah benar-benar cinta yang tulus datangnya dari Allah SWT.”


“Artinya?”


“Gini, ada orang yang jatuh cinta pada pasangannya mungkin karena rupanya yang cantik atau tampan. Ada juga yang karena harta bendanya, ada juga yang mungkin karena sifatnya yang baik. Itu semua berkaitan dengan hal fisik. Suatu saat cantik atau tampan bisa saja luntur, harta dan benda bisa saja hilang, sifat manusia kadang juga bisa berubah. Artinya, Kakak mencintai kamu karena rasa yang berkaitan dengan Allah. Sampai kapan pun Kakak gak akan pernah bisa melukai atau menyakiti kamu.”


Larissa pun sampai terharu, matanya berkaca-kaca mendengarkan hal itu. Mungkin inilah hal yang paling tulus yang pernah ia dengar dalam hidupnya. Ia pun langsung menghambur ke dalam pelukan pria itu.


“Sekarang kamu percaya sama Kakak kan?”


Larisa mengangguk. “Apa dulu waktu di luar negri, Kakak juga sempat suka sama pasien?”


“Hhhmm gak! Ini yang pertama kali.”

__ADS_1


“Terus, Kakak, dulu pasti punya pacarkan di sana?”


“Ya, pernah, tapi gak bertahan lama. Palingan cuma beberapa bulan.”


“Kenapa?”


“Yang pasti karena perbedaan prinsip dan budaya. Kalau di luar negeri sana melakukan hubungan badan dalam pacaran itu hal yang biasa. Karena bagi mereka hal itu suatu bentuk ungkapan rasa sayang atau bukti kalau mereka saling mencintai. Sedangkan dalam budaya kita apalagi dalam agama yang kita anut hal itu sangat di tentang. Jadi, Kakak punya prinsip gak akan melakukan hal itu.”


“Terus?”


“Ya, pacar Kakak marah dong. Kakak coba kasih dia penjelasan, tapi memang hal itu gak masuk akal bagi mereka. Akhirnya kita putus.”


“Terus kalau ciuman? Pasti pernah dong! Kakak, aja ahli kayaknya.”


“Hahahaha … hanya sebatas itu.”


“Kalau di sini, Kakak punya mantan gak?”


“Dulu waktu SMP sama SMA pernah pacaran. Tapi itu cuma cinta monyet aja sih. Pas kuliah Kakak milih fokus belajar. Kalau dekat sama cewek ada beberapa tapi gak sempat jadian.”


Larisa mengangguk paham.


“Kalau kamu sendiri gimana?”


“Apanya?”


Wanita itu mengangguk. “Dari SD, SMP, sampai SMA aku tuh kutu buku. Tujuan ke sekolah, ya, buat belajar. Pulang sampai rumah les lagi soal pelajaran untuk besok. Nah, pas kuliah Papa sama Mama baru tuh mulai memberikan aku kebebasan. Pertama kali suka sama cowok tuh ya sama dia.”


“Terus?”


“Kami PDKT terus jadian dan akhirnya bertahan sampai mau menikah. Dulu tuh aku emang bodoh banget, gampang aja percaya sama dia. Eh, ternyata … “


“Pacarannya ngapain aja?”


“Gak ada. Palingan jalan, makan, nonton itu aja sih. Selebihnya aku sibuk belajar.”


“Jadi, ciuman kemarin yang pertama dong?”


Larisa menutup wajahnya dengan bantal sofa. “Jangan dibahas. Malu!”


Abi tersenyum bangga, ternyata dia mendapatkan wanita yang masih fresh.


“Kak?”


“Apa, sayang ku?”


“Iih, jawabnya biasa aja.” Larisa mencubit perut Abi.


“Loh, emang sayangnya Kakak kan?”

__ADS_1


Gadis itu menekuk wajahnya.


“Iya deh. Apa, La?”


“Pasien, Kakak, di klinik kan banyak tuh pasti ada yang cantik juga kan.”


“Iya, terus?”


“Nanti, Kakak, malah suka lagi sama salah satunya.”


“Hahaha … gak lah! Kamu pikir Kakak ini laki-laki apaan? Mata keranjang gitu, setiap liat yang bening langsung suka. Kakak itu kerja di klinik profesional, sayang. Kalau soal hati mah udah ada yang punya.”


Larisa tersipu malu.


“Sudah malam, kita tidur, yuk!”


Keduanya berjalan beriringan menuju kamar. “Mulai sekarang kita tidur sendiri-sendiri lagi, ya,” kata Larisa.


Wajah Abi sempat tampak kecewa, tapi ia menghargai keputusan istrinya itu. Mungkin Larisa hanya ingin menjaga batasan meski sebenarnya mereka adalah pasangan yang halal. Abi tak mau mengungkapkannya sekarang.


“Oke. Good nite, muach.” Abi meninggalkan sebuah kecupan di kening istrinya saat mereka berpisah di depan kamar.


“Malam juga, Kak.”


...🐨🐨🐨🐨...


Larisa mulai melihat-lihat dan mencari tahu tentang beberapa fakultas ternama di Bali. Meski belum menentukan pilihan akankah dia melanjutkan S2 dalam waktu dekat ini. Ditemani Kania ia pun sudah menulis di catatan nya beberapa fakultas yang menjadi pilihannya.


“Jadi, kapan lo kuliah?”tanya Kania.


“Belum tau.”


“Kenapa?”


“Gue lagi pengen menikmati hidup dulu. Menikmati dan menata kembali yang dulu sempat hancur berantakan.”


Kania mengangguk paham. “Benar! lo harus kembalikan dulu semangat, keceriaan dan kebahagiaan lo sepenuhnya. Setelah itu baru mulai tata satu persatu tujuan hidup lo.”


......................


Kata-kata Abi dan Abah di atas, soal cinta karena dikasihani itu aku ambil dari kata-kata Ustad Felix Siauw.


Menurut aku Dikasihani itu adalah sebuah rasa yg sangat dalam dari rasa Simpati, Empati dan Iba.


Simpati hanya menunjukkan rasa kepedulian pada apa yang di alami orang lain. Sedangkan Empati mampu menempatkan diri pada posisi orang yang sedang mengalami kesedihan serta ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Terakhir Iba, merasa terdorong untuk meringankan penderitaan orang lain. Nah sedangkan kasihan sendiri adalah gabungan dari ketiga hal tersebut, yang akhirnya membuat kita bertindak jauh untuk membuat orang yang menderita itu bahagia. Mungkin itulah yang dimaksud mencintai berlandaskan rasa kasihan.


Kalau menurut kalian sendiri gimana?


Komen, ya...!

__ADS_1


__ADS_2