Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 45


__ADS_3

Sampai di rumah Abi langsung disambut oleh istrinya dengan senyuman manis. “Mau langsung mandi atau istirahat dulu?” tanya Larisa.


“Mandi,” jawab Abi singkat.


Larisa pun menyiapkan pakaian ganti untuknya. “Aku tunggu di meja makan.”


Pria itu hanya mengangguk. Larisa tau pacarnya masih dalam mode merajuk jadi sebisa mungkin ia akan membujuk Abi agar tak marah lagi dan mau memaafkannya. Di meja makan Abi bersikap seperti biasa hanya saja ia tak banyak mengobrol dengan sang istri. Membuat Larisa sadar kalau ia tak bisa di diamkan lama oleh pria itu.


Selesai makan Abi menuju ruang tengah sedangkan Larisa bergegas ke kamar mengambil hadiah yang tadi dibelinya.


“Kak?” panggil Larisa.


“Hhhmm,” jawab Abi tapi matanya masih fokus ke layar TV.


“Masih marah sama aku?” Wanita itu duduk di samping pacarnya.


“Gak.”


“Terus kenapa dari tadi, Kakak, banyak diam?”


“Gak ada bahan obrolan aja.”


Larisa tertawa melihat tingkah Abi yang seperti ini membuatnya merasa gemas. Ternyata pria yang selama ini selalu bersikap dewasa bisa ngambek juga dan bahkan terlihat sedikit kekanak-kanakan.


“Kenapa ketawa?” tanya Abi.


“Kakak, lucu.”


Abi memonyongkan bibirnya seperti yang dilakukan Larisa ketika merasa kesal padanya.


Tiba-tiba Larisa memberikan sebuah kecupan singkat di sana. “Maaf, ya, aku sudah kelewatan.” Katanya setelah melepaskan bibir Abi.


Abi langsung mengangkat tubuh Larisa ke atas pangkuan. Ternyata ia sangat merindukan wanita itu karena beberapa hari ini ia lebih suka mengurung diri di kamar membuat sedikit jarak di antara mereka.


Laki-laki itu membalas hal yang dilakukan Larisa tadi. Keduanya saling menikmati benda kenyal itu. Cukup lama bahkan suara decapan yang tercipta terdengar cukup keras. Abi pun sampai menekan tubuh sang istri agar lebih menempel dengannya.


Larisa merasakan kalau ia mulai sulit bernafas karena Abi sepertinya semakin menuntut. Ia pun memukul bahu sang kekasih agar menghentikan hal yang dimulainya tadi.


“Kakak, aku gak bisa nafas.”


“Hahaha … maaf, Kakak terlalu terbawa suasana.” Abi menyeka bibir istrinya yang basah dengan ibu jari. “Kakak, juga minta maaf, ya, karena belakangan sedikit menghindari kamu.”


“Kakak, gak salah, kok. Aku yang terlalu berlebihan. Gak mendengarkan penjelasan dari, Kakak.”


“Anggap aja masalah kemarin adalah pelajaran buat kita. Kalau lagi ada masalah biasakan jangan langsung marah. Coba minta atau dengarkan penjelasan terlebih dahulu agar tak terjadi kesalahpahaman.”


Larisa mengangguk. Ia pun memberikan kado kecil yang sudah disiapkan dari tadi.

__ADS_1


“Apa ini?” tanya Abi.


“Anggap aja tanda permintaan maaf dari aku.”


Abi membuka bungkus kado itu. “Ponsel?”


“Ganti ponsel, Kakak, yang rusak karena aku banting.”


“Beli pakai apa?”


“Pakai uang aku sendiri dong. Hasil dari YouTube." Larisa terkekeh.


Abi tersenyum senang ia pun memeluk sang istri. “Makasih, ya.”


Larisa juga merasa senang. “Kita ke kamar. Waktunya tidur.”


“Oke.” Abi langsung mengangkat Larisa menuju kamarnya. Malam ini ia ingin bersama sang istri untuk melepaskan rindu.


Sampai di kamar mereka berbaring saling menghadap satu sama lain. Abi menyelipkan anak rambut istrinya di balik telinga. “Makasih, ya semalam sudah rawat, Kakak.”


Larisa pun membelai pipi Abi. “Kakak, sakit karena aku. Pasti gara-gara mikirin cara biar aku percaya sama, Kakak.”


Abi membawa sang istri ke dalam dekapannya. “Kakak cuma gak bisa tidur setelah kita debat malam itu. Kakak khawatir sama kondisi kamu.”


“Kakak, tenang aja. Mulai sekarang aku akan berusaha mengontrol emosi. Aku juga akan percaya sepenuhnya sama, Kakak.”


Berkali-kali dilabuh kan kecupan penuh kasih sayang oleh Abi di kepala istrinya. “Kakak sayang sama kamu.”


“Love you to istri ku.” Abi keceplosan.


“Hah, istri?”


“Kata-kata itu doa. Lagian Kakak ngerasa kita kayak suami istri, udah tidur bareng. Kawin aja yang belum,” jelas Abi.


Larisa mencubit lengan pacarnya. “Jangan macam-macam, ya, Kak.”


“Hahaha … . Yuk, tidur.”


Mereka berdua saling memejamkan mata. Pasangan itu terlelap dengan hati lapang karena masalah di antara mereka sudah terselesaikan dengan baik. Malam ini terasa tentram dan damai bahkan keduanya terlelap begitu nyenyak nya sampai pagi datang terasa begitu cepat. 


...🍥🍥🍥🍥...


Hari-hari terasa berlalu dengan cepat. Semuanya berjalan dengan baik. Hubungan mereka juga tak lagi bermasalah meski kadang Larisa merasa sedikit kesepian. Karena Abi semakin sibuk di kliniknya. Bahkan jadwal praktek Abi sekarang di perpanjang sampai jam lima sore. Namun, sang pacar akan menebus waktunya di hari libur, mereka selalu jalan-jalan menjelajahi destinasi wisata yang ada di Bali.


“Kayaknya, Kakak butuh Dokter baru untuk ditempatkan di klinik,” kata Abi pada istrinya. Mereka tengah menikmati sore di halaman rumah sambil bersantai.


“Bukannya ada psikolog dan dokter lainnya?” tanya Larisa.

__ADS_1


“Psikolog yang ada itu cuma sebagai pendamping Kakak sayang. Kebanyakan dari mereka pada baru lulus kuliah, jadi belum punya izin untuk bisa praktek sendiri. Jadi, Kakak sengaja ajak mereka bergabung.”


“Artinya mereka gak bisa menangani pasien sendiri?”


“Gak, lah. Setiap pasien yang datang langsung konsultasi dulu dengan, Kakak. Habis itu baru, Kakak kasih ke mereka untuk ditangani sesuai dengan arahan dan penjelasan, Kakak.”


 “Terus?”


“Setiap bulannya kami akan meeting membahas tentang perkembangan pasien.”


“Jadi, Kakak, gak menangani pasien itu secara langsung?”


“Ya, gak dong sayang. Cara kerja Kakak sama kayak di Ausi dulu. Cuma kamu satu-satunya pasien yang Kakak tangani secara pribadi. Kalau semua pasien Kakak tangani sendiri, bisa langsung mati berdiri Kakak saking banyaknya.”


“Jadi, artinya setiap pasien yang datang akan menjelaskan permasalahan mereka pada, Kakak, setelah itu Kakak akan alihkan ke dokter pendamping. Mereka akan menangani pasien itu sesuai arahan dari Kakak.”


“Betul sekali. Setelah itu mereka akan memberikan laporan dari setiap pasien pada Kakak. Dari sana Kakak bisa menentukan tindakan apalagi yang akan dilakukan selanjutnya untuk pasien itu, termasuk resep obat apa yang akan Kakak berikan.”


“Setau aku, ya, biasanya psikolog atau psikiater di sini tuh cuma ada satu dokter dan beberapa suster buat bantu.”


“Awalnya Kakak juga pengen gitu. Tapi pas Kakak sadar ternyata disini banyak sekali pengangguran setelah kelulusan terutama jurusan kejiwaan akhirnya, Kakak putuskan untuk memberikan mereka pekerjaan. Sekalian bagi-bagi pengalaman. Tapi, Kakak gak menjanjikan gaji yang besar.”


“Kenapa, Kakak gak bikin RSJ aja?”


“Pengennya, tapi itu pasti butuh modal yang banyak, sayang. Kakak lagi ngumpulin uangnya.”


“Ooh, jadi sekarang, Kakak, pengen nambah Dokter lagi buat bantuin, Kakak, untuk mendampingi psikolog dan psikiater magang itu?”


“Iya, jadi, Kakak gak sibuk-sibuk banget. Kakak juga butuh spesialis anak. Kemarin ada beberapa anak-anak yang datang dan Kakak coba bantu sebisanya. Tapi tetap, Kakak saranin mereka menemui dokter jiwa khusus anak-anak.”


“Emang ada? Aku baru tau loh.”


“Adalah, masalah anak-anak dengan orang dewasa itu berbeda, sayang, dan cara pendekatannya juga berbeda.”


“Terus, Kakak, udah nemu dokter yang mau kerja sama dengan, Kakak?”


“Belum sih. Nanti lah, Kakak coba hubungi teman-teman lama yang satu kampus dulu.”


Larisa menghembuskan nafas panjang. “Maaf, ya, aku gak bisa bantu apa-apa. Tapi apapun itu aku selalu dukung, Kakak, kok.”


“Doa in aja klinik Kakak bisa berkembang jadi RSJ swasta.”


“Aamiin.”


...****************...


Udah, ya, Tiga bab 1200 kata..

__ADS_1


Kita lanjut besok lagi.. 👋👋👋


Jangan lupa like 👍 komen 🖊 dan hadiah 🎁


__ADS_2