Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
BAB 87


__ADS_3

“Bagi aku itu gak ribet. Kalau karyawan Papa masih mau bekerja di perusahaan. Artinya, mereka akan siap mengurus segala hal untuk kepindahan mereka ke sini. Kalau gak mau, ya sudah, silahkan mengundurkan diri. Kita bisa cari karyawan baru di sini, pasti banyak orang-orang yang akan melamar kerja.”


Endra menggelengkan kepala. Ia tak percaya kalau sang putri yang terbilang cerdas bisa mempunyai pemikiran sesempit itu.


“La, kamu jangan memikirkan diri sendiri,” ucap Davira.


“Maksud, Mama, aku egois! Egois dari mananya?”


“Kalau kamu yang pindah ke Jakarta tentu akan sangat mudah prosesnya. Coba kamu bayangkan kalau seluruh karyawan kita harus pindah ke sini. Pastinya butuh waktu yang panjang, sayang. Lalu bagaimana dengan pekerjaan mereka? Akan terbengkalai gara-gara mengurus proses pindahan. Bisa-bisa perusahaan kita jadi kacau,” terang Ningsih.Wanita itu berusaha tetap tenang tak seperti suaminya tadi yang bicara pakai urat leher. 


“Pokoknya aku gak peduli. Pindahin kantor pusat kesini dan aku siap menggantikan Papa. Kalau gak-”


“Kalau gak apa?” potong Endra.


“Silahkan Papa urus sendiri bisnis itu.”


Endra pun berdiri dari duduknya. “Baik. Papa akan urus sendiri bisnis ini sampai Papa mati.” Lalu pria itu segera pergi dari sana membawa rasa marah dan kesal di dada.


Larisa hanya diam di posisinya. Ia sama sekali tak merasa bersalah karena baginya keputusan itu adalah hal yang paling benar.


“Memangnya apa sih alasan kamu untuk gak mau pindah ke Jakarta? Kamu masih takut ketemu Bayu?” Davira sebenarnya juga merasa kesal dengan sikap Larisa. Namun, ia mencoba untuk bicara baik-baik agar sang putri bisa merubah pikirannya.

__ADS_1


“Aku gak mau hidup aku yang sudah bahagia ini hancur jika tiba di sana.”


“Kamu yakin itu alasannya? Gak masuk akal sekali.” 


“Terserah, Mama mau bilang apa,” jawab Larisa dongkol.


Davira pun cuma bisa geleng-geleng kepala.


Menurut Larisa kedua orang tua itu memaksanya untuk mengikuti kemauan mereka tanpa memahami isi hatinya. “Lagian waktu Kyra lahir aku juga sudah bilang sama Mama dan Papa, kalau aku gak berminat lagi jadi penerus bisnisnya Papa.”


“Iya, kami tau itu. Tapi gak mungkin bisnis yang sudah kami bangun dari nol dengan susah payah malah di kelola oleh orang lain.”


“Makanya aku kasih solusi, tapi Papa malah menolak dan bahkan Mama mengatakan kalau aku egois.”


“Baik kalau begitu. Kalau kamu memang gak mau pindah ke Jakarta, gak papa. Biar kami yang mengurus perusahaan sampai ajal menjemput. Setelah itu silahkan kamu urus perusahaan dengan sesuka hati.” Sang Mama pun beranjak dari sana.


Emosi sudah menguasai membuat pembicaraan itu tak menemukan titik terang. Kedua belah pihak saling memaksakan pendapat mereka, bukannya malah mencari jalan lain. Akhirnya tak ada kesepakatan yang di dapat .


Larisa tetap pada pendiriannya untuk tak mau pindah ke Jakarta dan artinya ia tak akan membantu sang Papa mengurus perusahaan. Endra dan Davira pun memilih untuk terus bekerja di usia senja meski sebenarnya mereka sudah tak sanggup lagi.


Akibat hal itu sepertinya hubungan Larisa dengan kedua orang tuanya menjadi kurang baik.Bahkan kini pagi-pagi sekali Endra dan Davira sudah siap-siap untuk pulang ke Jakarta. Larisa sendiri tak kunjung turun dari kamar setelah perdebatan mereka tadi malam.

__ADS_1


“Biar nanti saya coba bujuk Larisa, Pa,” kata Abi.


“Gak usah! Papa gak mau nantinya dia malah terpaksa.”


“Tapi, Pa-.”


“Sudah lah, Bi. Biarkan Larisa sendiri dulu dan memikirkan kembali keputusannya. Mama gak mau nanti gara-gara masalah ini kalian berdua malah bertengkar,” sela Davira.


“Pokoknya nanti aku akan ajak Larisa bicara baik-baik dan kita bicarakan lagi untuk mencari jalan tengah.”


Endra memeluk menantunya. “Terimakasih. Jaga Larisa dan Kyra kami pulang dulu.”


“Kita antar Oma sama Opa ke bandara?” tanya Abi pada putrinya.


Kyra mengangguk setuju.


“Gak usah! Kalian disini saja temani Larisa. Papa takut nanti dia malah berpikir kalau kamu berpihak pada kami. Papa gak mau merusak rumah tangga kalian gara-gara masalah ini,” kata Endra.


“Cucu Oma di villa aja sama Papa, Mama, ya. Bulan besok Oma sama Opa pasti kesini lagi, kok.” Davira memeluk sang cucu sebelum berpisah.


“Oke. Oma sama Opa hati-hati di jalan, ya.”

__ADS_1


“Insyaallah.”


Mereka pun berpelukan setelah itu Endra dan Davira segera masuk kedalam mobil. Larisa hanya berdiri di atas roof top menatap kepergian dua orang tua itu. Ia bukan tipe anak pendendam, hanya saja rasa marah dan kesal membuatnya tak mau menemui Endra dan Davira.


__ADS_2