
“Kapan rencananya kalian akan menikah?” tanya Abi pada Boni yang sedang mengemudi.
“Setelah kalian pulang dari puncak, gue akan menemui orang tua Kania,” jelas Boni.
Abi mengangguk.
“Kalau gue pengennya secepat mungkin.”
“Gak papa. Bagus itu,” timpal Larisa.
“Gimana menurut kamu, Nia?” tanya Abi.
Kania menghembuskan nafas kasar. “Susah kayaknya. Perjanjian kerja aku dengan pihak hotel pasti akan sangat rumit untuk diselesaikan.”
“Kalau bisa selesai dengan cepat gimana?” tanya Larisa.
“Ya, bagus dong. Artinya gue bisa langsung nikah. Tapi nanti gue coba bicarakan dulu sama pihak hotel.”
Akhirnya mereka pun sampai di parkiran bandara. Boni dan Kania dengan setia mengantar pasutri itu sampai pintu masuk terminal.
“Makasih sudah antar kami,” kata Abi berpelukan dengan Boni.
“It’s oke. Gue senang bisa bantu kalian.”
Larisa dan Kania pun berpelukan. “Sory, ya, gue bikin lo repot belakangan ini,” kata Larisa.
“Gapapa. Nanti ada waktunya juga gue bakalan bikin lo repot,” kekeh Kania.
Usai berpisah dengan sahabat mereka, Abi dan Larisa pun melakukan boarding pas dan mereka segera masuk ke dalam pesawat.
...🐤🐤🐤🐤...
Mengudara kurang lebih dua jam mereka pun sampai di Bandara internasional Soekarno-Hatta. Ini pertama kalinya Larisa menginjakkan kaki di sana sejak ia pindah ke Bali. Ada sedikit rasa rindu untuk mengunjungi rumah kedua orang tua dan mertuanya yang ada di sini. Namun, entah kenapa hatinya sangat berat jika ingin ke sana.
“Itu mobil jemputan Kita,” kata Abi.
Supir dari pihak resort pun membantu Abi memasukkan barang-barang mereka ke dalam bagasi mobil.
“Langsung berangkat ke resort atau mau jalan-jalan dulu, Pak?” tanya supir.
“Gimana, sayang?” tanya Abi pada istrinya.
“Langsung aja, Pak. Tapi nanti di perjalanan kalau ada tempat makan enak kita brhenti, ya.”
Supir itupun mengangguk. Mobil yang mereka tumpangi segera keluar dari bandar menuju Bogor. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua jam, akhirnya tepat pukul dua sore mereka pun sampai di resort yang sudah di pesan oleh Ningsih. Tempat mereka menghabiskan waktu selama tiga hari kedepan.
“Akhirnya, aku bisa melihat pegunungan yang hijau dan menghirup udara segar,” ujar Larisa.
Sampai disana mereka diantar oleh petugas resort menuju kamar. Pasutri itu mendapatkan kamar dengan view terbaik ditambah pemandangan pegunungan tentunya. Mereka juga dapat kejutan manis saat tiba di kamar yaitu sebuah kue bertuliskan HAPPY WEDDING juga handuk yang menyerupai sepasang angsa di hias cantik di atas tempat tidur.
Larisa bergegas membuka pintu kaca yang ada di kamar mereka nan mengarah langsung ke balkon. Matanya langsung dimanjakan dengan pegunungan yang cantik dan pepohonan hijau.
Tiba-tiba Abi pun datang dan memeluk sang istri dari belakang. “Do you like it?”
Istrinya mengangguk cepat. “Suka! Aku sama baby girl happy banget.”
Abi pun juga ikut merasa senang. Mereka berdua berdiri di atas balkon cukup lama sambil menikmati pemandangan sekeliling resort dan hembusan angin yang cukup sejuk membuat keduanya mulai merasa kedinginan.
“Masuk, yuk. Udaranya dingin,” kata Abi.
“Bentar lagi. Aku masih mau disini,” jelas Larisa.
“Oke. Tunggu Kakak ambil selimut buat kita.”
Tak lama Abi pun kembali melilitkan selimut di tubuh istrinya.
“Suasananya tenang, ya Kak. Bikin aku jadi betah,” ungkap Larisa.
“Mau pindah ke sini?”
__ADS_1
“Gak lah. Kita tetap tinggal di Bali aja. Tapi sekali-kali kita kesini buat nenangin pikiran.”
“Apapun itu asalkan kamu senang, Kakak juga senang.” Lalu Abi membalik tubuh Larisa untuk menghadap padanya. Dibelai pipi sang istri yang terasa dingin di tangan. Mata keduanya pun saling menatap dalam satu sama lain, seolah tengah mengungkapkan isi hati mereka.
Keduanya tersenyum manis hingga akhirnya mereka menyatukan bibir. Abi pun sedikit menekan tubuh istrinya untuk mengikis jarak di antara mereka. Tak lama ia melepaskan tautan itu. “Kita masuk, bibir kamu sudah sedingin es.”
Larisa mengangguk setuju. Sampai di dalam kamar, AC pun dimatikan oleh Abi karena tak ingin istrinya nanti malah jadi masuk angin akibat kedinginan.
“Kakak telpon Mama sama Papa dulu. Ngasih tau kalau kita sudah sampai, kamu kalau mau istirahat, tidur aja dulu,” kata Abi.
“Iya, angin sepoy-sepoy tadi bikin mata aku berat.” Larisa segera merangkak ke atas kasur.
Abi menyelimuti tubuh Larisa dan terakhir mengecup keningnya.
...🐺🐺🐺🐺...
Sore hari, Larisa dan Abi memutuskan untuk menghabiskan waktu di Skydeck resort. Tempat favorit di resort itu untuk mengambil beberapa foto dengan latar belakang gunung dan pepohonan yang berwarna hijau.
Senja pun mulai menyapa membuat langit tampak kemerahan di ujung sana. Larisa pun mengabadikan momen itu dengan kameranya. Sesekali Abi juga mengambil gambar sang istri dengan berlatarkan langit sore.
“Bagus gak?” tanya Abi. Ia memperlihatkan hasil bidikan cameranya pada sang istri.
“Bagus banget,” seru Larisa senang. “Seharusnya kita foto berdua.”
“Tunggu di sini, Kakak minta bantuan pengunjung lain dulu.”
Akhirnya ada juga orang yang mau membantu pasutri itu untuk memotret mereka berdua. Abi dan Larisa merasa puas dengan hasil jepretan orang itu, mereka mengucapkan terimakasih lalu segera kembali ke kamar untuk menunaikan sholat magrib.
Pas makan malam mereka diundang oleh salah satu restoran yang ada di resort itu. Abi dan Larisa menikmati makan malam mereka di depan perapian. Membuat keduanya merasa hangat ketika bersantap di tengah suhu kota Bogor yang sangat sejuk di malam hari. Ditambah Ibu hamil itu boleh memesan satu makanan khusu yang sangat ingin di makannya. Chef di restoran akan siap membuatkan untuknya.
Usai menyantap hidangan yang sangat lezat pasutri itu kembali ke kamar mereka.
“Aku harus bilang makasih banyak sama Mama Ningsih. Resort pilihannya benar-benar bagus dan pelayanannya juga oke banget,” kata Larisa.
“Sebenarnya resort ini masih milik keluarga Papa Kakak, sayang,” jelas Abi.
“Buat apa? Tujuan kita kesini kan mau honeymoon sama babymoon. Jadi, ya nikmati saja.”
“Iya, juga sih. Tadi pas masuk gerbang aku lihat ada lapangan golf. Besok kita main golf, ya?!”
“Emang bisa?”
“Gak sih. Kakak, bisa?”
“Dikit. Dulu sering temanin Papa main. Waktu itu belum ada resort di sini.”
Larisa hanya mengangguk ia pun segera naik ke atas kasur ingin membungkus dirinya dengan selimut tebal, karena udara di malam hari sangat dingin. “Kakak, ngapain buka baju? Gak dingin emang?”
“Ini mau di panasin bareng Ibu hamil dalam selimut,” goda Abi.
“Kakak, ih. Dingin banget, aku males ah.”
“Nanti Kakak hangatin, yuk.” Abi segera masuk kedalam selimut dan menindih istrinya. Larisa pun sampai tertawa karena suaminya itu tiba-tiba saja jadi ganas tak seperti biasanya.
...🐞🐞🐞🐞...
Pagi harinya usai menunaikan sholat subuh Abi dan Larisa beranjak ke balkon. Mereka menikmati pemandangan pagi ini yang sangat jarang bisa mereka lihat setiap hari. Matahari tampak malu-malu menampakkan dirinya di balik pegunungan. Membuat keduanya berdecak kagum dengan ciptaan sang maha kuasa.
Meski udara terasa sangat dingin menusuk hingga ke tulang. Namun, mereka tak mau melewatkan momen itu begitu saja. Kalau di Bali mereka bisa kapan saja kalau ingin melihat matahari terbenam. Tetapi untuk bisa menikmati matahari terbit seindah ini, hanya bisa mereka dapatkan di sini untuk beberapa hari kedepan.
“Mataharinya cantik, kayak istri Kakak,” kata Abi yang memeluk Larisa.
“Gak. Mataharinya jauh lebih cantik dari aku.”
“Nanti Kakak mau cari nama buat baby girl yang artinya tentang matahari terbit.”
__ADS_1
“Ide bagus, aku setuju.”
“Nanti kita cari sama-sama.” Abi pun semakin mengeratkan pelukannya pada Larisa. Mereka masih betah menunggu sinar surya itu merangkak naik untuk menyinari dan memberikan kehangatannya pada isi bumi.
...🐙🐙🐙🐙...
Abi menyempatkan diri untuk berolahraga sebentar di tempat gym dalam resort itu. Sedangkan Larisa memilih melakukan yoga di depan balkon kamar sambil menikmati hangatnya mentari pagi. Usai olahraga keduanya menuju restoran yang ada di lantai tiga. Di sana mereka tinggal memilih menu sarapan sesuai selera.
“Jadi main golf?” tanya Abi.
“Iya dong. Aku mau coba,” jawab Larisa.
“Habis ini kita ganti baju.
“Oke.”
Dari restoran mereka kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Keduanya kompak mengunakan kaos polo berwarna hitam dan di padukan dengan celana pendek berwarna putih. Meski perut Larisa sudah membesar celana yang dipakainya cukup longgar dan tak membuat ia merasakan sesak. Terakhir Abi memakaikan topi pada sang istri untuk melindungi wajahnya dari sinar matahari langsung.
Sebenarnya Abi ingin mengajari istrinya itu bermain golf di Driving Area , tapi wanita itu bersikukuh ingin langsung terjun kelapangan. Akhirnya Abi memutuskan menyewa satu Caddie untuk membantu mereka di sana.
Dari lobby resort mereka berangkat menuju lahan golf menggunakan golf car. Dari kejauhan mereka sudah disuguhkan pemandangan hijau dari hamparan rumput nan luas bikin mata terasa sejuk.
Sampai ditempat tujuan Abi mulai mengayunkan stik golf. Ia kembali mengasah kemampuannya karena sudah lama tak menjajal olahraga mahal ini. Larisa bertepuk tangan saat suaminya berhasil mencetak satu score.
“Kakak, pintar banget mainnya. Katanya kemarin cuma bisa dikit.”
“Hahaha … Kakak pikir udah gak bisa main lagi. Soalnya udah lama gak pegang stik golf.”
“Ajari aku,” rengek Larisa. Ia mengambil posisi di depan suaminya lalu Abi pun mengayunkan stik golf bersama sang istri yang pertama kali mencoba permainan ini dan score kedua berhasil mereka dapatkan. Wanita hamil itu sampai meloncat kegirangan, tapi Abi berusaha menahan tubuh istrinya.
“Kamu lagi hamil, sayang.”
“Hehehe … maaf aku lupa.”
Abi membungkuk mensejajarkan kepalanya depan perut Larisa. “Baby girl Papa baik-baik aja kan?”
Larisa pun mengelus perutnya. “Maafin Mama, ya, sayang, Mama lupa saking girangnya.”
Abi kembali menegakkan badan dan mengelus perut sang istri. “Gak sakit kan?”
“Gak, Kak. Maaf, ya, aku lupa.”
“Gak papa. Yuk, main lagi tapi jangan loncat lagi, ya.”
...----------------...
Selagi nunggu cerita ini up date, kalian bisa mampir di karya temanku.Dijamin kalian akan mendapatkan sensi baru. Mohon juga dukungannya ya, like👍komen🖊 hadiah 🎁 dan vote 🔖dari kalian semua.
Nih, aku kasih sedikit bocoran ceritanya biar kalian semua pemasaran 😆☺
🌹🌹
Perjuangan Abimanyu untuk mendapatkan kembali cinta Renata, sang istri yang telah berulang kali disakitinya.
Tidak mencintai gadis yang menjadi wasiat terakhir ibunya membuat Abimanyu seringkali menyiksa dan menyakiti hati Renata hingga berkali-kali.
Akankah Bima bisa kembali mendapatkan cinta istrinya? Sementara hati Renata telah mati rasa akibat perbuatan Abimanyu yang telah menyebabkan buah hati dan ibunya meninggal dunia.
"Mas Bima-"
"Panggil aku Tuan seperti biasanya, karena kau hanyalah seorang pembantu di sini!"
"Ta-tapi Mas, kata Nyonya-"
"Ibuku sudah meninggal. Aku menikahimu karena keinginan ibuku, Jai kau jangan berharap dan bermimpi kalau aku akan menuruti keinginan ibuku untuk menjagamu!"
"I-iya, Tu-Tuan ...."
__ADS_1
Yuk, capcus segera menuju novelnya. Pasti sangat di tunggu oleh temanku. 😉