Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 43


__ADS_3

Abi mengakhiri panggilan itu dan ia segera keluar dari kamar. Pas membuka pintu ternyata sang istri sudah berdiri di sana. Larisa langsung mendorongnya dan merebut ponsel yang ada di tangan. 


“Telponan sama siapa?” tanya Larisa terdengar marah. Ia langsung memeriksa panggilan terakhir di ponsel Abi.


“La, dengerin penjelasan, Kakak dulu," ucap Abi.


“Kakak, masih berhubungan sama Viona? Iya? Kakak, bohong sama aku?” Suara Larisa mulai meninggi.


“La, dengerin penjelasan, Kakak dulu.” Abi berusaha tenang dan iya membujuk sang istri untuk tak langsung emosi.


Tapi sepertinya wanita itu sudah terlanjur marah besar. Ia membanting ponsel Abi ke atas lantai. “Kenapa mesti sembunyi dari aku, hah? Apa, Kakak, gak bisa telpon dia di depan aku? Kalau kayak gini artinya, Kakak, bohong sama aku.”


“La, Kakak cuma gak mau nantinya kamu marah.”


“Iya, pasti aku marah karena, Kakak, masih berhubungan sama dia. Tapi aku makin marah kalau, Kakak, diam-diam ternyata tetap berhubungan sama dia.”


Abi meraih sang istri untuk lebih dekat tapi Larisa selalu menepis tangannya. 


“Kakak gak pernah lagi berhubungan sama dia. Bahkan saat dia datang ke klinik, langsung Kakak hindari. Tiga hari yang lalu dia kirim email ke Kakak. Ada beberapa hal yang dia gak paham jadi minta penjelasan dari Kakak. Gak enak, La, sudah dari kemarin dia terus hubungi Kakak, tapi gak pernah Kakak jawab. Pas tadi ke kamar dia telpon lagi, makanya Kakak angkat,” jelas Abi.


“Pokoknya aku gak suka dan aku kecewa sama, Kakak.” Larisa keluar dari kamar Abi dengan penuh amarah. Abi pun mengejarnya karena takut sang istri akan melakukan hal-hal yang tak terduga.


“Kakak, kan pernah jelasin ke kamu kalau Kakak gak akan pernah melukai dan menyakiti kamu. Ini cuma salah paham, sayang, please maafin, Kakak.” mohon Abi dari belakang sambil mengejar istrinya.


“Jangan panggil aku sayang kalau, Kakak, bohong dan terus berhubungan dengan wanita itu.”


“Ada apa ini? Kenapa kalian tiba-tiba ribut? tanya Davira menghampiri.


“Dia itu sama aja kayak Bayu, dasar BAJINGAN,” umpat Larisa menunjuk Abi.


“LARISA,” bentak Endra. “Yang sopan kamu kalau ngomong. Dia itu-”


“Pah,” potong Abi cepat. 


Davira menahan suaminya untuk tak ikut campur. “Biarkan mereka menyelesaikan masalah ini.” Davira membawa sang suami pergi dari sana.


Wanita sedang berkabut amarah itu pun akhirnya menumpahkan air mata yang sejak tadi di tahannya. Abi segera memeluk sang istri. Larisa terus berontak dan memukulnya, tapi Abi tak melepaskan pelukan itu sampai yang dipeluk mengalah.

__ADS_1


“Aku benci di bohongi, karena aku gak mau dianggap bodoh,” kata Larisa dengan tangisnya.


“Sssuuttt … Kamu gak bodoh, sayang. Kakak juga gak bermaksud bohong sama kamu. Rencananya habis dari kamar Kakak akan cerita ke kamu. Tapi kamu keburu datang,” jelas Abi sambil mengelus punggung istrinya.


“Tapi kenapa, Kakak, masih berhubungan sama dia.”


“Kakak, sudah jelaskan tadi. Kakak gak pernah lagi berhubungan sama dia sejak kamu minta. Jangan langsung ikuti emosi, dengarkan dulu penjelasan dari Kakak. Belajarlah, La, demi hubungan kita. Terima rasa sakit yang dulu melukai kamu, tapi jangan sampai rasa sakit itu menjadi bumerang.”


Wanita itu pun sadar dan ia meminta maaf sudah terlanjur berkata kasar pada sang kekasih. 


“Kayaknya aku masih gila deh, Kak.”


“Gak, kok. Kakak paham sama kondisi kamu. Makanya kamu harus bisa mengendalikan emosi dan amarah, ya.”


Larisa mengangguk. 


“Sekarang Kakak antar ke kamar. Kamu cuci mungka ganti baju dan istirahat.”


Abi menemani istrinya itu sampai matanya terpejam menuju alam mimpi. Setelah itu ia kembali ke ruang tengah karena pasti sang mertua sudah menunggu penjelasan darinya.


Benar, ternyata Endra dan Davira masih duduk di sana. Ia pun mulai menjelaskan hal yang dialami oleh putri mereka.


“Saya gak mau kalian khawatir.”


“Apa itu nanti bisa bikin Larisa depresi lagi?” Davira tampak cemas.


“Gak, Ma. Kalau dibiarkan nantinya Larisa gak akan bisa menjalin sebuah hubungan lagi.”


“Terus gimana sekarang?”


“Mama, tenang aja. Larisa butuh waktu kok. Aku yakin dia bisa mengatasinya.”


Endra menghembuskan nafas kasar. “Sebaiknya kamu ceraikan saja putri saya.”


“Pah, kenapa Papa malah membuat saya kecewa. Seharusnya, Papa menyemangati saya bukannya malah menjatuhkan seperti ini.” Nada bicara Abi terdengar marah.


“Kami hanya gak mau kamu terlalu banyak berkorban dalam rumah tangga ini.”

__ADS_1


“Saat saya memutuskan untuk menikahi Larisa, artinya saya sudah tahu akan resikonya dan saya siap menanggung itu semua. Jadi, sekarang Mama dan Papa cukup doakan Larisa dan terus dukung saya.”


Endra dan Davira mengangguk.


“Maaf saya duluan ke kamar.” Abi pun pergi dari sana membawa rasa kesalnya karena sang mertua selalu saja ingin mengakhiri rumah tangganya jika keadaan Larisa tak begitu baik.


“Sepertinya Abi marah sama, Papa, Ma,” kata Endra pada istrinya.


“Iya lah. Mama juga kesal sama, Papa, yang dikit-dikit minta dia menceraikan putri kita. Memangnya, Papa, bisa jamin bakalan ada lagi pria sebaik Abi?”


“Papa cuma kasihan sama dia, Ma. Papa juga takut nanti Abi bakalan menyerah karena gak sanggup lagi.”


“Sudah sampai di sini Mama yakin kalau Abi gak akan menyerah. Kalau dia gak kuat, pasti dari awal dia sudah pergi.”


Endra membuang nafas panjang.


“Besok Mama akan coba bicara sama Larisa. Sebaiknya sekarang kita istirahat juga, sudah malam.”


Mereka pun berpindah dari ruang tengah menuju lantai dua.


...🐽🐽🐽🐽...


Pagi ini suasana di meja makan sedikit terasa canggung.  Semuanya pada diam dan lebih memilih untuk segera menghabiskan makanan yang ada di piring masing-masing. Setelah itu Abi kembali ke kamarnya. Ia ingin membalas email Viona kemarin dan setelah itu ia akan mengatakan kalau ini adalah bantuan terakhir. Sekaligus meminta maaf karena tak bisa menepati janjinya.


Larisa membantu sang Mama membereskan meja makan. Setelah itu ia diajak Davira menuju bangku di halaman.


“Mama, tau kamu mungkin sulit untuk bisa percaya lagi dalam sebuah hubungan. Tapi itu bukan berarti kamu bisa seenaknya bersikap seolah-olah kamu harus dimengerti oleh pasangan, sebab kamu baru saja terluka.”


Larisa mencoba menyimak setiap kata yang keluar dari mulut wanita yang melahirkannya itu. Iya yakin nasehat yang diberikan Davira kadang mampu menenangkan hati serta pikirannya.


“Jika ada hal yang mengganjal di hati kamu, sampaikan secara baik-baik. Dengarkan penjelasan dari pasangan setelah itu kamu bisa cerna pakai logika.” Davira meraih tangan sang putri dan menggenggamnya. “La, Abi itu pria yang baik dan Mama yakin kalau dia gak akan menghianati kamu. Berikan dia ruang untuk bisa bernafas dan bergerak. Agar hubungan kalian berjalan dengan baik. Jangan sampai kamu menghancurkan hubungan kalian hanya gara-gara kamu gak mau tersakiti dan terluka. Akhirnya apa? Bukan Abi yang melukai kamu, tapi kamu yang melukai kalian.”


“Maksud, Mama?”


“Jika kamu terus curiga pada Abi dan gak bisa bersikap dewasa dalam menghadapi sebuah masalah. Maka ada kemungkinan hubungan kalian gak akan bertahan lama. Bisa saja Abi pergi meninggalkan kamu karena dia terluka akibat tidak mendapatkan kepercayaan. Begitu pula dengan kamu, kamu akan menyesal pada akhirnya.”


Larisa memikirkan ucapan sang Mama. Jika ditimang-timang lagi baik buruknya apa yang disampaikan Davira benar adanya. Kalau ia terus menekan dan mendominasi Abi, ada kemungkinan pria itu memilih pergi. Bukan karena ia tak cinta, tapi karena dia merasa tak dipercaya.

__ADS_1


“Kalau Abi mau selingkuh, mungkin dari awal dia gak akan memilih kamu. Bisa saja kan dia mencari wanita lain di luar sana. Apalagi saat itu kamu masih depresi. Tapi dia dengan setia menunggu kamu sampai sembuh lalu baru mengutarakan perasaannya,” tambah Davira.


__ADS_2