Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 130


__ADS_3

"Kenapa?”


“Aku kan sudah bilang, kalau Kakak mau menjebloskannya ke penjara hanya untuk memberi hukuman gak papa. Tapi kalau sudah dendam kesumat seperti itu, sebaiknya jangan.”


Entah kenapa Abi jadi tersulut emosi. “Dia pantas mendapatkannya karena sudah membuat kamu celaka. Apalagi dia juga sudah membuat anak kita meninggal.”


“Kak, aku tau kalau Kakak marah, kesal dan benci sama dia. Tapi apa yang akan Kakak lakukan itu sudah kelewatan. Aku yakin Bayu gak ada niat untuk mencelakai aku sama sekali.”


Abi menggelengkan kepala, ia tak menerima nasehat dari Larisa karena menurutnya apa yang dilakukannya itu adalah tindakan yang benar.


“Please, jangan seperti ini. Aku mohon dengarkan aku sekali ini saja, biar hidup kita bisa tenang. Toh kita juga akan kembali ke Bali kan,” bujuk Larisa.


“Sebaiknya kamu istirahat, kita bahas hal ini besok.” Abi sengaja mengalihkan pembicaraan untuk menghindari pertengkaran di antara mereka berdua.


...🐛🐛🐛🐛...


Pagi ini mereka berangkat ke kantor polisi untuk memenuhi panggilan.


“Aku akan memberikan kesaksian sesuai dengan apa yang terjadi,” kata Larisa.


Abi hanya diam di balik bangku kemudi.


“Kak?”

__ADS_1


“Kamu lakukan apa yang mau kamu lakukan dan Kakak akan lakukan apa yang mau Kakak lakukan,” tekan Abi.


Larisa cuma bisa pasrah dan tak mau berdebat. Keadaannya yang belum begitu sehat membuatnya jadi mudah lelah jika terlalu banyak bicara.


Tiba di kantor polisi Larisa ditemani suami dan pengacara memberikan keterangannya. Meski ia  marah pada Bayu, tapi bukan berarti ia akan melakukan hal yang sama seperti Abi. Ia tau kalau tindakan yang diambil suaminya itu untuk memberikan hukuman pada sang mantan sangatlah tidak bijak.


Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Abi dan sang Papa sudah susah untuk diajak bicara baik-baik. Karena hati mereka ditutupi oleh rasa dendam, membuatnya tak lagi dapat menerima nasehat kebenaran.


Keluar dari kantor polisi Larisa dan Abi kembali pulang.


“Kesaksian kamu pastinya akan meringankan hukuman Bayu. Tapi Kakak sudah menambah tuntutannya, atas perbuatannya dulu yang membuat kamu sampai depresi,” kata Abi di balik kemudi.


Larisa membuang nafas kasar. “Untuk apa sih, Kak?”


“Biar dia membusuk di penjara. Kakak gak rela dia bebas menikmati hidupnya setelah membunuh anak kita.”


“Kalau dia gak datang ke kantor, pasti sekarang kamu masih hamil,” seru Abi.


“Kalau aku gak memilih lewat tangga darurat hal itu juga gak akan terjadi kan! Artinya disini aku juga bisa disalahkan. Jadi, stop menuntut Bayu! Lupakan hal itu dan secepatnya kita kembali ke Bali,” marah Larisa.


“Sebelum dia mendekam di penjara, kepulangan kita ke Bali ditunda.” Abi sepertinya tak mau kalah. Keinginannya sangat kuat untuk membuat BAyu menderita di dalam sel tahanan.


Larisa akhirnya memalingkan muka ke arah jendela. Percuma bicara jika suaminya masih diselimuti kabut amarah pada laki-laki yang sudah mencelakainya.

__ADS_1


...🐷🐷🐷🐷...


Untuk yang terakhir kalinya Luna datang menemui Bayu di tahanan. 


Wajah Bayu tampak sumringah karena berharap Luna akan membawa kabar gembira. “Kok, kamu datang sendiri? Mana pengacara buat ku?” tanya Bayu.


“Maaf, Bay, aku datang kesini hanya ingin mengucapkan salam perpisahan. Ini terakhir kalinya kita bicara,” jelas Luna.


“Maksudnya?”


“Aku gak bisa membantu kamu lagi, karena perusahaan jauh lebih penting. Pak Endra mengancam akan memutus kontrak kerja sama perusahaan jika aku membantu kamu. Aku juga dimintanya untuk menjadi saksi di persidangan nanti yang pastinya akan memberatkan kamu.”


Harapannya hilang sudah, kini nasibnya benar-benar berada di tangan Abi. 


“Satu lagi jika kamu mendekam di penjara artinya akan sangat menguntungkan buat aku. Karena proses perceraian kita yang selama ini berjalan alot, dapat ketuk palu secepatnya. Artinya hak asuh anak kita akan jatuh ke tangan aku.”


Bayu hanya bisa duduk diam seribu bahasa. Hatinya sangat hancur mendengarkan pernyataan dari Luna. Ia memang bersalah, tapi ia tak sengaja membuat Larisa jatuh dari tangga dan membuatnya keguguran. Namun, kenapa hukuman yang diterimanya sangat berat, sungguh tidak adil rasanya.


Kalau diberi kesempatan, maka ia akan meminta maaf dan bersujud di kaki Abi juga Larisa dan kedua orang tuanya. Bahkan ia rela melakukan apa saja untuk dapat menebus kesalahan. Tapi sedikitpun dari mereka tak mau memberikan hal itu. Malah mereka terkesan sengaja ingin membuatnya mendekam di balik jeruji besi.


...----------------...


Besok lagi ya..

__ADS_1


jangan lupa dukungannya.. like👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 dan bintang ⭐ limanya...


Terima kasih 🥰🥰🥰


__ADS_2