Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 70


__ADS_3

Resepsi pernikahan akan dimulai dari jam tujuh malam. Sepasang pengantin itu sudah bersiap usai salat ashar tadi. Kini Larisa tengah memakai gaun berwarna putih dengan gaya simple. Bagian atas gaun diberi tambahan bahan see through berhiaskan bordir bunga timbul hingga bagian lengan.


Untuk makeup, Larisa memilih look natural, dengan lipstik berwarna peach nude. Make up itu terlihat sangat cocok dan seakan menyatu dengan gaun yang dikenakannya. Riasan mata yang tampak tak berlebihan, dipadukan dengan perona pipi yang sangat natural mendekati warna lipstik membuat tampilan Larisa elegan nan classy.


Untuk hair do, Larisa memilih model sleek belahan tengah sehingga memberikan kesan rapi dengan anggun. Bagian belakang terlihat tatanan low bun updo menyempurnakan penampilannya. Ditambah dengan headpiece berupa tiara berwarna putih dan veil bahan tulle dengan detail bordir di bagian bawah. 


Sedangkan Abi terlihat gagah dengan setelan jas hitam dan kemeja putih di dalamnya yang diselaraskan dengan gaun Larisa. Tak lupa setangkai kecil bunga disematkan di bagian dada kirinya.


Usai berdandan pasangan itu segera turun dari hotel. Mereka menaiki mobil pengantin yang sudah dihiasi oleh bunga dan pita di bagian depannya. 


Sampai di lokasi mereka berjalan menuju pelaminan, para tamu undangan pun menyambutnya dengan kemeriahan kembang api. Abi dan Larisa tampak sangat gembira.


Konsep pernikahan mereka yang mengusung tema outdoor menjadikan lokasi tadi siang kini dipenuhi dengan lampu-lampu indah dan bunga yang bertebaran. Membuat suasana terasa lebih romantis.


Merasa bosan di atas pelaminan keduanya pun turun untuk menyapa para tamu. Abi juga mengumumkan kehamilan sang istri di tengah-tengah pesta membuat semua para tamu undangan memberikan selamat dan doa lagi untuk kesehatan si cabang bayi hingga persalinan nanti.


Hingga acara puncak, pengantin itu berdansa bersama para tamu lainnya. Terakhir semua tamu memberikan ruang khusus untuk mereka berdua dan Abi pun menutup acara resepsi malam ini dengan wedding kiss membuat semua para tamu yang hadir bersorak gembira serta ikut merasakan kebahagiaan mereka.


Terakhir sebelum semua para tamu meninggalkan lokasi, pastinya yang ditunggu-tunggu  adalah acara pelemparan bunga oleh pengantin wanita. Namun, sayang semua yang sudah menunggu dan berisap merasa kecewa ketika Larisa memberikan hand bouquet-nya pada sang sahabat-- Kania.


Tiba-tiba Boni pun datang dan berlutut di depan wanita itu lalu mengulurkan kotak berwarna merah berisikan cincin permata. Kania sampai kaget, bingung dan tak tahu harus apa, hingga sorak sorai dari para tamu memintanya untuk menerima, membuat Kania mengulurkan tangannya pada Boni dan pria itu langsung melingkarkan cincin di jari manis wanita pilihannya.


Kebahagian mereka di malam ini kian bertambah karena akhirnya Kania menerima Lamaran Boni meski kemarin wanita itu sempat merasa ragu.


Acara pun selesai semuanya kembali ke hotel membawa sisa-sisa kesenangan di acara resepsi tadi. 


...💄💄💄💄...


“Terimakasih sudah menerima lamaran saya,” kata Boni. 


Kania hanya tersenyum. Wanita itu masih saja merasa malu dan ia menyembunyikan wajah merahnya dengan memalingkan muka ke arah jendela mobil.


“Saya akan atur jadwal setelah Abi pulang dari bulan madunya, untuk menemui orang tua kamu,” tambah Boni.

__ADS_1


 


“Terserah, Mas, saja. Kabari saja nanti kalau, Mas, siap dan saya akan bilang ke Ibu dan Bapak,” jawab Kania.


“Saya sempat takut kamu gak akan mau menerima lamaran tadi.”


“Kenapa?”


“Saya bukan tipe pria yang pintar merangkai kata-kata. Saya pikir kamu akan menunggu saya untuk meminta. Namun syukurnya kamu menerima dengan cepat.”


Kania hanya tertawa.


“Jangan ketawain saya.”


“Maaf.”


Mobil yang dikendarai Boni pun sampai di depan kontrakan Kania. Pria itu segera meraih tengkuk wanita itu dan melabuhkan bibirnya di bibir Kania. Beberapa detik keduanya saling menikmati manisnya cumbuan pertama mereka. Hingga tersadar keduanya pun segera melepaskan sebelum keinginan menuntut lebih.


“Istirahatlah. Besok pagi aku jemput, kita mau mengantar pengantin itu kebandarakan,” ujar Boni.


“Iya.”


Kania bergegas turun dari dalam mobil dan segera berlari memasuki kontrakannya. Tanpa melihat kebelakang lagi, meski sebenarnya hati sangat ingin melambaikan tangan pada sang pencuri hati.


...👣👣👣👣...


Pagi ini Larisa dan Abi tengah menikmati sarapan bersama keluarga besar mereka di restoran hotel. Tentunya juga ada Kania dan Boni para sahabat mereka. Pasutri itu akan berangkat ke Bogor pagi ini di antar ke bandara oleh dua orang yang baru saja tunangan semalam.


“Kitanya liburan di sini, kamu malah ke puncak,” kata salah satu sepupu Larisa.


“Aku tuh udah bosan lihat pantai mulu. Sekali-kali pengen hirup udara segar pegunungan,” jelas Larisa.


“Iya deh. Have fun, ya, kalian disana.”

__ADS_1


“Pasti dong.”


“Kalian gak mampir dulu di Jakarta?” tanya Davira.


Larisa langsung menggelengkan kepalanya. “Sampai di bandara kita langsung ke Bogor aja.”


“Kenapa?”


“Gak ada hal yang perlu dilihat di Jakarta.”


Davira pun paham sepertinya sang putri belum siap untuk kembali ke kota itu. Kota yang memberikan banyak kenangan buruk padanya.


“Mama sudah siapin semuanya buat kalian selama di sana. Enjoy, ya, kalian,” timpal Ningsih.


“Makasih, Ma,” balas Abi.


“Asalkan kalian berdua happy Mama pasti senang.”


“Aku mau jalan-jalan selama di sana,” sela Larisa.


“Pihak resortnya sudah atur semuanya, sayang,” jelas Ningsih. “Sesuai pesan Mama.”


Larisa tersenyum lebar.


“Berangkat sekarang?” tanya Boni.


Abi dan Larisa mengangguk. Mereka pun berpamitan dengan seluruh keluarga dan saling berpelukan sebagai tanda perpisahan. Soalnya sehabis liburan di sini mereka semua pasti sudah kembali ke kota masing-masing.


“Hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai di sana kabari kami,” kata Endra.


“Baik, Pa,” jawab Abi.


Suasana terasa sedikit haru karena mereka semua harus berpisah. Jarang sekali ada waktu untuk bisa bertemu dan berkumpul bersama. Kalaupun ada, waktu terasa sangat singkat sekali. 

__ADS_1


Pasutri itu pun segera keluar dari restoran hotel bersama Kania dan Boni dan segera masuk ke dalam mobil untuk menuju bandara.


__ADS_2