
Kepergian Abi, ia pun buru-buru masuk ke dalam lift yang dinaiki Larisa. Wanita itu menepi, sengaja menjauh darinya.
“Yang tadi suami kamu?” tanya Bayu.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Larisa.
“Sudah berapa tahun kalian menikah?”
Lagi, mulut wanita itu sepertinya terkunci rapat.
“Sudah punya anak?”
Merasa muak Larisa menghembuskan nafas kasar. “Jangan berusaha mengakrabkan diri dengan saya!”
“Sa, aku kan cuma nanya, apa salahnya sih? Kalau kamu memang sudah melupakan masa lalu, seharusnya kamu bisa bersikap biasa saja dong.”
Larisa menarik sudut bibirnya. “Kalau kamu masih punya otak, seharusnya kamu malu bertemu dengan saya. Ini malah bersikap biasa-biasa saja seolah-olah tak ada hal yang terjadi di antara kita. Itu artinya kamu tidak benar-benar menyesali kesalahan kamu.”
Bayu kembali berusaha meraih tangan mantannya itu, tapi Larisa menepisnya.
“Sumpah, aku benar-benar menyesal. Aku berusaha baik dengan kamu karena aku ingin memperbaiki hubungan kita.”
“Buat apa?”
__ADS_1
“Aku cuma mau menebus kesalahan.”
“Kalau mau menebus kesalahan. Cukup menjauh dari saya dan anggap saja kita tak pernah kenal. Itu sudah cukup bagi saya. Ini peringatan terakhir, kalau kamu masih berusaha mendekati saya, maka saya akan putuskan kontrak kerjasama perusahaan kita.”
“Jangan campurkan masalah pribadi dengan pekerjaan dong, Sa. Aku akan bersikap profesional dalam bekerja. Tapi aku akan terus berusaha mendekati kamu, membuktikan kalau aku benar menyesal dan ingin menebus kesalahan.”
Larisa menggelengkan kepalanya. Percum bicara dengan orang yang tak sadar diri seperti Bayu. Lebih baik diam tak melayaninya lagi. Akhirnya pintu lift pun terbuka, mereka sama-sama keluar dari sana menuju ruang rapat. Larisa pun mempercepat langkahnya agar berada di depan Bayu.
“Kamu makin cantik sekarang,” ujar Bayu.
Wanita itu terus saja mempertegas langkahnya. Ia sunguh-sungguh muak berada di dekat pria benalu itu. Larisa takut jika nanti Bayu bisa kembali mengambil keuntungan dari kehidupannya seperti dulu saat mereka berpacaran.
...🐸🐸🐸🐸...
“Terimakasih.” Larisa menundukkan sedikit kepalanya.
Satu persatu dari rekan bisnisnya meninggalkan ruang rapat tentunya setelah mereka berpamitan pada Larisa.
“Waaw … aku benar-benar kagum sama kamu. Ternyata sekarang kamu banyak berubah, ya,” ujar Bayu.
Larisa tak mau melayaninya. Ia mengajak Indah untuk kembali ke lantai tempat ruang kerja mereka. Bayu pun ditinggalkan begitu saja bagaikan angin lalu. Ada tapi tak di anggap sama sekali.
...🐤🐤🐤🐤...
__ADS_1
Hari libur pun tiba, Larisa yang ingin mengunjungi villa mereka di Bali tak jadi karena sang suami tak mengizinkan ia untuk melakukan perjalanan jauh. Alhasil weekend kali ini mereka hanya liburan di kota Jakarta. Sekalian mengajak sang putri ke suatu wahana permainan.
Larisa sempat cemberut karena ia sudah janji pada Kania akan datang ke Bali pas akhir bulan ini. Namun, semua rencananya gagal, membuatnya merasa tak enak membatalkan janji pada sang sahabat.
{Sorry, ya, Nia. Gue sama Kyra gak jadi kesana}
{Gak papa, Sa. Gue paham keadaan lo. Lagi hamil muda itu emang rawan, sebisa mungkin kita harus hati-hati}
Larisa tersenyum lebar
{Kyra mana?}
{Lagi main sama Papanya. Kita lagi di wahana permainan, gue pengen ikut main tapi gak dibolehin sama Kak Abi. Cuma bisa lihatin mereka aja}
Kania pun tampak tertawa di seberang sana. {Samalah kayak Mas Boni. Dikit-dikit gak boleh, ini itu dilarang. Protektif banget, tapi gue senang sih. Merasa disayang dan dimanja banget}
{Lo kan hamil pertama, Nia, ya wajarlah Kak Boni begitu}
{Mau hamil pertama atau kedua, menurut gue itu caranya mereka untuk menjaga kita. Intinya mereka gak mau kita menjalani kehamilan ini sendirian)
{Iya juga sih. Eh, kayaknya mereka udah selesai main deh, gue tutup dulu, ya.}
{Oke, titip salam dari kami di sini buat Kak Abi dan Kyra}
__ADS_1
{Sama, kami juga titip salam buat Kak Boni}