
"Dari Tante Davira. Gimana kabar lo? Makin cantik sekarang,” kata Kania.
“Baik. Seperti yang terlihat.” Larisa tersenyum.
“Sa, maaf, ya, waktu itu gue gak ada buat lo.” Kania merasa bersalah karena tak bisa menemani Larisa untuk menghadapi masa-masa sulitnya.
“It’s ok. Ngomong-ngomong ketemu Mama di mana?”
“Di Jakarta. Waktu itu kita ketemu di mall jadi ngobrol banyak, deh. Gue udah tau semua cerita tentang lo dari Tante Davira. Sekali lagi maaf banget, ya, gue benar-benar ga bantu lo sama sekali.”
“Gak, papa, Nia. Gue maklum kok, saat itu memang komunikasi kita terputus gitu aja. Bahkan Mama dan Papa gue juga gak ngebolehin siapapun teman-teman untuk datang ke rumah.”
“Iya, gue sempat hubungi lo berkali-kali, tapi tetap nomor lo gak aktif. Gue datang ke rumah, kata satpam gak boleh masuk. Gue sempat lihat video lo yang ngamuk-ngamuk di restoran dan di mall waktu itu. Gue datangi lagi rumah lo, tapi kata satpam, lo udah gak di Jakarta lagi.”
“Setelah kejadian itu gue pindah kesini untuk mulai hidup baru dan menjauhi hal-hal yang membuat depresi gue makin parah.”
“Tapi sekarang gue seneng lo udah sembuh.” Kania sempat menitikkan air mata.
“Hey, jangan sedih gitu.” Larisa segera memeluk sahabatnya.
“Gue sedih aja ngebayangin lo melewati semuanya sendirian. Gak ada teman buat cerita dan gak ada yang kasih dukungan.” Tangis Kania pun pecah.
“Nia, gue gak sendirian kok. Ada Kak Abi, Dokter pribadi gue yang selalu ada disini.”
“Tapikan tetap aja, Sa … “
“Udah, ah, jangan sedih-sedihan gini. Gue lagi mau happy jadi, kita gak usah bahas itu lagi. Sekarang cerita sama gue, ngapain lo di Bali?”
Kania menyeka pipinya yang basah. “Gue kerja di salah satu hotel dekat sini sekalian kuliah S2.”
“Wah, udah sukses aja, ya, lo.”
“Belum, baru juga kerja. Kalau sukses itu kita punya usaha sendiri, gak kerja sama orang.”
“Terus-terus?” Larisa penasaran.
“Ya, gitu deh. Gue kerja baru juga satu tahun, kalau kuliah sih baru semester satu.”
“Kapan-kapan gue bisa dong menginap di hotel lo?”
“Bisa, ntar gue kasih harga spesial. Terus sekarang lo ngapain aja di villa sebesar ini?”
“Kegiatan gue sih gak terlalu banyak. Palingan pagi olahraga terus masak makan siang, habis itu baca-baca buku tentang kesehatan mental. Gue juga bikin video untuk konten youtube yang juga bahas tentang kesehatan mental.”
“Lo bisa masak? Sejak kapan?”
“Sejak tinggal di sini. Gue mulai les masak, main musik, melukis, banyak deh pokoknya. Waktu itu sih tujuannya buat ngisi waktu luang sekalian melakukan hal-hal baru. Eh, akhirnya malah keterusan.”
“Wwwaahh kayaknya kita harus punya waktu satu hari deh buat ngobrol. Banyak hal yang berubah dan kita bisa saling tukar cerita. Kapan-kapan kita jalan, yuk!” ajak Kania.
“Boleh. Tapi gue izin dulu sama Dokter gue, ya. Dia masih takut biarin gue pergi sendirian.”
Kania mengangguk paham. “Gue ngerti kok. Atau gue aja yang kesini pas libur. Sekalian icip masakan lo.”
__ADS_1
“Boleh, gue tunggu, ya. Lo juga bisa kenalan sama Dokter pribadi gue.”
“Nanti kapan harinya gue kabari dan lo harus masak buat gue.”
“Sssiipp.”
“Eh, minta nomor Wa lo dong,” kata Kania.
“Gue gak punya Wa. Cuma boleh pakai ponsel biasa aja buat nelpon.” Larisa pun terkekeh.
“Bagus itu. Kayaknya Dokter pribadi lo emang perhatian bangat, ya. Dia benar-benar mikirin hal-hal kecil kayak gini buat kesembuhan lo.”
Larisa hanya tersenyum.
“Yaudah, gue tinggalin kartu nama gue aja, ya.”
“Oke. Nanti gue hubungin.”
Kania menghembuskan nafas kasar. “Udah makin sore, gue pamit pulang soalnya mau ngerjain tugas kuliah.”
“Oh, oke. Yuk, gue anter ke depan.” Larisa bangkit dari duduknya.
“Kenapa lo gak kuliah lagi aja, Sa?” tanya Kania saat mereka menuju mobilnya.
“Belum kepikiran sama sekali, tapi ide yang bagus. Ntar coba gue tanya sama Mama Papa dan Kak Abi.”
Kania menyandar pada mobilnya. “Gue penasaran sama Dokter pribadi lo itu. Kayak pernah dengar namanya, tapi di mana?”
“Ya elah, nama Abi juga pasaran kali, Nia.”
“Makanya main kesini, nanti gue kenalin.”
“Pasti. Makasih, ya, lo udah terima dan sambut gue dengan baik. Gue sempet takut lo bakalan marah dan mengusir gue,” ungkap Kania.
“Gak lah! Lo kan gak salah jadi, buat apa gue marah.”
“Iya juga sih, hehehe. Gue pulang, ya, ngobrol terus gak jadi-jadi nih gue perginya.”
“Iya, hati-hati. Nanti gue telpon.”
Kania memasuki mobilnya dan Larisa pun melambaikan tangan sampai mobil sedan itu menghilang.
...🦛🦛🦛🦛...
Selesai makan malam, Abi mencari istrinya yang tak kunjung masuk kamar. Ternyata Larisa sedang asik telponan di ruang tengah.
📞Lanjut besok lagi aja, gue mau tidur.
Kata Larisa.
📞Iya, gue juga harus istirahat. Capek banget habis ngerjain tugas dan besok harus bangun pagi-pagi mau ke kampus.
Balas Kania.
__ADS_1
📞Oke selamat istirahat, Daa Nia.
📞Lo juga. Bye Sa.
Abi duduk di samping istrinya. “Siapa, sayang? Akrab bangaet kayaknya.”
“Teman aku waktu kuliah, Kak, namanya Kania. Dia sempat kesini tadi sore.”
“Tau dari mana alamat sini?”
“Dari Mama katanya dan Mama juga udah cerita soal aku ke dia.”
“Terus?”
“Ya, dia tadi sempat merasa bersalah gitu karena gak ada buat aku. Aku kan udah sembuh jadi, kita ngobrol yang lain deh.”
Abi mengangguk paham.
“Dia juga ngajak aku kuliah lagi. Menurut, Kakak, gimana?”
“Kalau kamu minta pendapat Kakak sebagai Dokter pribadi kamu, ya, boleh-boleh aja sih. Tapi tetap dalam pantauan Kakak. Tapi kalau dari Kakak pribadi apapun itu selagi yang terbaik buat kamu, silahkan saja apalagi ini menyangkut masa depan kamu.”
“Aku sih belum ada keinginan ya, Kak, untuk kuliah lagi. Tapi gak ada salahnya aku mulai cari tahu fakultas di sini, siapa tau aku tertarik.”
“Terserah kamu, mau kuliah sekarang atau nanti, Kakak akan selalu dukung,” jelas Abi.
Larisa mengangguk. “Nantilah aku pikir-pikir lagi.”
“Coba besok minta pendapat Mama, Papa dulu.”
“Iya.”
“Kamu gak undang dia ke acara ulang tahun besok?”
“Boleh emang?”
“Loh yang punya acarakan kamu, masa tanya Kakak.”
“Iya juga, ya. Besok ajalah aku kasih kabar.”
“Besok Kakak kirim alamat restorannya ke kamu.”
Larisa mengangguk. “Ke kamar, yuk. Aku udah ngantuk,” ajak Larisa.
“Ayok! Mau, Kakak gedong?”
“Gak usah, aku bisa jalan sendiri.”
...****************...
Ayo, ayo... Tinggalin like 👍 dan komennya 🖊 sekalian hadiah 🎁 dan vote...
jangan lupa Favorit kan novel ini biar dapat notif pas up date
__ADS_1
Terimakasih 🥰💐🌹