
Sampai di hotel keduanya segera menunaikan kewajiban setelahnya barulah menuju restoran untuk menyantap makan malam. Di sana mereka tak perlu lagi memesan makanan karena sudah disiapkan dinner di satu tempat khusu untuk mereka berdua.
Larisa juga diberikan satu buket bunga yang cantik sekali. “Dari siapa?”
“Dari Kakak lah! Siapa lagi,” jawab Abi.
“Aku pikir dari pihak hotelnya.”
“Gak lah, semua ini Kakak yang minta, khusu untuk istri tercinta.”
Larisa merasa tersanjung.
“Yuk, di makan! Harus habis, soalnya malam ini kita mau kerja lembur bikin dedek bayi buat Kyra.”Abi menaik turunkan alisnya.
“Hahaha apaan sih, Kak. Toh belakangan udah usaha juga.”
“Iya, tapi kan cuma sekali-kali. Kyra suka ganggu sih, malam-malam gedor-gedor pintu kamar.”
Larisa hanya menggelengkan kepala.
“Pokoknya tiga hari kedepan kamu bakalan Kakak bikin gak keluar kamar.”
Wanita itu sampai tersedak makanan.” Sadis benar.”
“Hahaha gak lah, sayang, Kakak cuma bercanda.”
Usai menikmati makanan yang begitu memanjakan lidah keduanya kembali ke kamar mereka.
“Aku siap-siap dulu, ya,” kata Larisa.
“Iya, sana dandan yang cantik. Kakak tunggu di balkon.” Abi tampak sibuk dengan ponselnya.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Gak ada apa-apa. Kakak jawab telepon dari Boni dulu.”
“Oke.” Larisa pun melangkahkan kaki menuju kamar mandi sedangkan Abi menuju balkon kamar.
...🐞🐞🐞🐞...
Akhirnya Abi dan Larisa bisa memiliki waktu berdua. Sejak Kyra lahir dan Larisa mulai disibukkan dengan kuliahnya di tambah Abi juga sibuk mengembangka RSJ, mereka benar-benar jarang memiliki quality time berdua. Sempat berencana ingin honeymoon kedua setelah kelulusan Larisa, tapi malah tertunda terus.
Wanita itu merasa tak bisa meninggalkan sang putri yang masih balita. Akhirnya saat mereka akan pindah ke Jakarta kemarin Abi meminta sang Papa mertua untuk memesankan satu hotel yang pas untuk honeymoon. Endra pun setuju, ia meminta Indah menyiapkan segalanya sesuai permintaan menantunya.
Keluar dari kamar mandi Larisa sudah siap dengan pakaian yang cocok untuk acara mereka malam ini. Ia tampak sangat mempesona dan menggoda dalam balutan **** berwarna ungu muda itu. Rambut hitamnya yang biasa tergerai panjang dibikin bergelombang, membuat penampilannya tampak baru di mata suami.
Wajah cantiknya di poles dengan sedikit make up tapi yang menjadi pusat perhatian adalah warna merah menyala di bibirnya. Membuat Abi semakin tergoda untuk segera mencicipinya. Dari balkon Abi segera mendekati Larisa sambil membuka kaos yang melekat di badan. Tanpa Aba-aba ia mengangkat tubuh sang istri dan wanita itu pun melingkarkan kakinya di pinggang sang suami. “Kali ini gak ada Kyra yang bakalan ganggu kita.”
Larisa hanya tersenyum lalu mengecup lembut mulut Abi. “Mau semalaman?” godanya sambil menaik turunkan alis.
“Sampai pagi juga Kakak mau. Siapa yang bisa tahan melihat istrinya cantik dan seksi begini.” Abi langsung melahap lipstik merah yang menggodanya itu sambil berjalan ke arah ranjang. Tiba disana Larisa pun direbahkan di atas kasur bersama dirinya. Jadilah mereka mendaki surga dunia dengan santainya tanpa gangguan dari sang putri.
...🐛🐛🐛🐛...
“Bangun, sayang.”
“Masih ngantuk, Kak.” Larisa menjawab dengan mata terpejam.
“Nanti tidur lagi, ini sudah siang. Kita makan dulu, isi tenaga.”
Larisa segera bangun dan duduk di atas kasur. Abi memberikan jubah mandi pada istrinya itu untuk menutupi tubuh polosnya.
“Kakak sudah pesan makanan.”
“Oke". Larisa memeriksa ponselnya dan ia pun segera menghubungi sang Mama untuk menyapa sang putri. “Kok gak di angkat sih?”
“Siapa?” tanya Abi.
__ADS_1
“Mama. Aku mau Video call sama Kyra.”
“Tadi habis sholat subuh Papa kirim pesan ke Kakak, katanya mereka hari ini mau jalan-jalan ke perkebunannya Om Leo.”
“Kok gak ngomong?”
“Kamunya aja sudah tidur.”
Tak lama pesanan makanan merek pun datang. Keduanya segera mengisi perut yang sudah keroncongan akibat melewatkan sarapan pagi.
“Kita kemana hari ini?” tanya Larisa.
“Gak kemana-mana.”
“Terus ngapain kita di hotel ini seharian?”
Kita kan mau program dedek bayi buat Kyra.” Abi berkata santai sambil menyuap makanannya.
“Ya, gak harus seharian juga dong, Kak,” kesal Larisa.
“Hahaha … takut banget sih.” Abi mencolek dagu istrinya. “Habis ini kita berenang sorenya baru kita jalan-jalan.”
“Oh. Aku kira beneran Kakak mau bikin dedek bayi seharian. Bisa mati lemas aku.”
“Gak lah. Habisin makanannya.”
......................
Gila juga si Abi kalau bikin dedek bayi seharian 😁🤭
Hai... hari ini aku bawa rekomendasi lagi.
Cus intip dulu siapa tau suka eh keterusan bacanya. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
__ADS_1