
Pagi sekitar jam tujuh keluarga Abi dan Larisa sudah berangkat menuju pondok pesantren Abah. Tepat jam sembilan acara pun dimulai. Beberapa ibu-ibu pengajian mulai melantunkan ayat suci Al-quran didampingi oleh Abah. Kemudian Abah memberikan sedikit ceramah tentang pandangan islam soal wanita yang tengah mengandung.
Terakhir doa bersama, juga dipimpin oleh Abah. Doa terbaik buat Larisa dan calon buah hatinya serta keberkahan dalam rumah tangga mereka. Setelah itu para tamu dipersilahkan menyantap hidangan yang sudah disediakan. Abi juga membagikan sedikit rezekinya pada anak-anak yatim piatu yang di undang.
“Akhirnya selesai juga,” kata Larisa.
“Capek, ya?” tanya Abi.
“Lumayan.”
“Mau Kakak pijitin?”
“Nanti aja di villa. Gak enak disini.”
“Mau pulang sekarang?”
“Boleh memangnya?”
“Kakak bilang sama Mama, Papa dulu, ya.”
Abi pun menghampiri Endra dan Davira di ruang tengah rumah Abah. Mereka di sana masih mengobrol dengan beberapa teman-teman Abah yang juga diundang.
“Larisa mau pulang, katanya capek,” jelas Abi.
“Oh, ya, gapapa. Pulang aja dulu,” jawab Abah.
“Kami masih mau disini, kalian duluan aja ke villa,” tambah Endra.
Abi pun mengangguk ia kembali menemui Larisa di kamar Riri. Sebelumnya mereka berpamitan pada semua orang.
...🍇🍇🍇🍇...
Sampai di villa Larisa segera merebahkan diri di atas kasur.
“Ganti baju dulu, sayang,” kata Abi.
“Bentar, Kak. Aku istirahat sebentar, capek banget tadi.”
“Ya, kamu ngapain ikutan segala nata-nata makanan. Kan ada Mama.”
“Gak enak lah. Masak aku duduk-duduk santai ngeliatin semua orang udah pada repot.”
“Sini Kakak pijitin kakinya.”
“Hehehe makasih.”
Tiba-tiba Larisa kaget dan membulatkan matanya. “Kak,” pekik Larisa
“Apa?” Abi juga ikut terkejut oleh tingkah istrinya.
“Dia gerak.” Larisa menunjuk perutnya.
“Serius?” Abi pun menempelkan tangannya di perut sang istri.
“Tuh, tuh, dia gerak lagi. Kakak, ngerasin gak?”
Abi menggangguk dengan ekspresi bahagia begitu pula dengan Larisa wajahnya tampak berseri.
“Anak Papa juga capek, ya?” kata Abi di perut buncit Larisa.
“Kayaknya dia happy deh.”
“Kata sipa?”
“Kan dia dekat dengan hati aku jadi dia ngomong lewat hati aku,” jelas Larisa tersenyum.
“Bisa aja.” Abi menciumi perut buncit itu meski belum terlihat besar.
“Kakak, udah siapin namanya belum?”
“Belum. Nanti kita cari namanya bareng-bareng, ya.”
“Oke. Sekarang bantuin aku ganti baju sekalian aku mau mandi.”
“Mau mandi bareng?” Abi menaik turunkan alisnya.
“Gak, ah. Aku capek.”
“Iya deh.
...🥕🥕🥕🥕...
__ADS_1
Kania buru-buru pulang setelah acara syukuran Larisa. Ia mau mengerjakan tugas kuliahnya sebelum menemui Boni di hotel nanti jam tujuh malam. Hingga sore datang semua tugasnya pun beres lalu wanita itu bergegas mandi dan berpakaian.
Pas ia keluar dari kontrakan ternyata Boni sudah berada di halaman.
“Ngapain, Bapak, di sini?” tanya Kania menghampiri.
“Mau jemput kamu. Sebelum masak kita belanja dulu,” jawab Boni.
“Kenapa gak minta saya belanja dulu sebelum ke hotel.”
“Lama. Buruan masuk.” Boni pun membukakan pintu untuk Kania.
Membuat gadis itu tersenyum malu.
Boni melajukan mobilnya menuju sebuah mall terdekat sampai di sana mereka berbelanja beberapa bahan makanan. Setelah itu menuju hotel tempat Boni tinggal sementara.
“Gak boros, Pak, tinggal di hotel?” tanya Kania.
“Panggil Mas!” kata Boni.
“Iya, Mas. Apa gak sayang uangnya kalau tinggal di hotel?”
“Saya sudah beli villa di samping villa nya Abi. Lagi di renovasi. Makanya saya tinggal di sini buat sementra.”
“Waah harga villa di sana lumayan mahal loh.”
“Maksud kamu saya gak mampu belinya?” Boni pun menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan mereka masak.
“Bukan gitu. Maksud saya kalau pun, Mas, mampu beli pasti semua uangnya habis deh.”
“Saya emang kerja jadi pskiater tapi saya punya beberapa usaha di beberapa kota.”
“Usaha apa.” Kania membantu Boni memotong beberapa sayuran.
“Ada toko elektronik, pakaian, dan beberapa mini market.”
“Terus ngapain masih kerja jadi dokter? Kenapa gak ngurusin bisnisnya aja?”
“Toko itu buat nambah-nambah penghasilan. Kalau Dokter itu cita-cita almarhum Ibu saya. Saya cuma ingin mewujudkan mimpinya.”
Kania membulatkan mulutnya.
“Kita satu kampus kebetulan jurusan kita sama-sama bisnis tapi beda bagian. Aku ambil administrasi sedangkan Larisa manajemen keuangan.”
Boni mengangguk paham.
“Kalau, Mas, sendiri? Sudah lama temanan sama Kak Abi?”
“Kita ketemu di Ausi dulu. Tapi saya kuliahnya gak sampai selesai di sana. Saya lanjut di Indonesia aja.”
“Kenapa?”
“Waktu itu ada satu rumah sakit yang nawarin saya pekerjaan dengan gaji yang lumayan besar. Akhirnya saya putuskan untuk ambil pekerjaan itu dan gajinya saya modalin untuk buka usaha.”
“Terus kenapa gak buka praktek sendiri kayak Kak Abi?”
“Pas kontrak kerja habis, saya memutuskan untuk santai dulu sambil ngurusin usaha setahun belakangan. Sempat ada keinginan untuk buka praktek sendiri, tapi Abi tiba-tiba nawarin saya untuk kerja sama. Akhirnya saya setuju," terang Boni. “Kalau kamu?”
“Saya?” Kania menunjuk dirinya.
“Kenapa mau kuliah lagi? Kan udah kerja," tanya Boni.
“Saya kuliah dibiayai sama hotel ini. Artinya seumur hidup saya akan mengabdi di sini.”
“Artinya kamu terikat kontrak?”
“Bisa dibilang gitu. Kenapa emangnya.” Kania mulai menumis bahan-bahan yang dimasukan Boni ke dalam wajan.
Boni hanya menggelengkan kepala.
“Mas, biasa masak?”
“Saya anak tunggal. Ayah saya pergi setelah Ibu saya meninggal karena kanker.”
“Al-fatihah buat Ibu nya, Mas.”
“Makasih. Jadi, saya terbiasa mandiri, apalagi dulu tinggal sama Nenek yang sudah sakit-sakitan.”
“Terus gimana, Mas, bisa kuliah? Maksudnya siapa yang kasih biaya?”
“Beasiswa.”
__ADS_1
“Oh.”
“Sekarang kamu cicipi.” Boni meminta Kania mencicipi masakan mereka.
“Kurang garam.”
“Nambahin garam itu coba kamu takar pakai perasaan. Kebanyakan atau masih sedikit, setelah itu cicipi lagi.”
Kania mengangguk lalu di bubuhkan sedikit garam ke dalam masakan itu.
“Gimana?” tanya Boni.
“Dikit lagi.”
“Tambahin dikit lagi. Jangan banyak-banyak.”
Kania mengikuti instruksi dari Boni lalu kembali di cicipinya. “Pas, Mas.”
“Oke, kamu masukin ke mangkok ini, saya akan siapkan nasinya.”
Kania menyalin masakan mereka ke dalam mangkuk kaca yang diberikan Boni lalu dibawa ke meja makan. Disana mereka kembali melanjutkan obrolan. Tanpa sadar obrolan mereka terus berlanjut hingga tengah malam.
“Saya anterin pulang?” tawar Boni.
“Gak usah. Saya tidur di hotel saja. Kebetulan disini ada kamar buat karyawan yang mau menginap.”
“Ya sudah, mari saya antar.”
“Gak usah, Mas, saya sendiri saja. Terimakasih atas makan malamnya. Artinya saya di maafin kan?”
Boni tersenyum manis. “Saya sudah maafin kamu dari awal.”
Kania tertawa lebar.
“Kamu gak marah?”
“Gak. Saya pergi.”
Boni mengantar tamunya itu sampai depan pintu.
...🍣🍣🍣🍣...
Setelah acara syukuran empat bulan kemarin Endra, Davira dan Ningsih pun kembali ke Jakarta. Disana sambil menunggu acara pernikahan digelar mereka pun disibukkan menyiapkan seragam keluarga. Menemui keluarga besar untuk memberikan undangan pernikahan putra dan putri mereka.
Hotel tempat Kania bekerja pun sudah di booking oleh Endra untuk para tamu undangan yang hadir nanti. Kebetulan tempat pernikahan di lakukan juga dekat dari sana. Semua persiapan sudah hampir rampung.
“Kakak, cuti berapa hari?” tanya Larisa.
“Satu minggu, sayang,” jawab Abi.
“Kapan mulai liburnya?”
“H -1 sebelum pernikahan kita.”
“Oh, habis itu kita ke puncak kan. Aku gak sabar deh menghirup udara pegunungan.”
Abi hanya tertawa. “Besok kita kontrol ke dokter kandungan dulu, ya. Baby girl sudah masuk lima bulan kan?!”
Larisa mengangguk. “Makin aktif juga. Dia gerak-gerak mulu.”
Abi mengelus perut besar istrinya. “Sehat-sehat, ya, Nak. Nanti pas pesta jangan bikin Mama susah.”
“Dia kuat kok, Kak. Ya, kan sayang?! Larisa bicara pada perutnya.
“Kamu masih minum vitamin kan? Buat jaga daya tahan biar nanti pas pesta kamunya gak gampang capek.”
“Masih dong. Itu harus. Oh, ya, Kak, aku boleh perawatan dulu gak sebelum acara?”
“Boleh, sayang. Pilih perawatan khusu Ibu hamil. Minta Indah cariin.”
“Siap, Pak Doktor.”
“Hahahaha udah malam. Kita bobok yuk!”
“Papa, gak mau jenguk baby girl dulu?” Larisa sengaja menggoda suaminya.
“Mama, mau?”
Larisa mengangguk.
“Lets go kalau gitu.” Abi langsung menggendong sang istri menuju kamar.
__ADS_1